Mx
Published on

Online Troubleshooting dan Recovery Performance Plate Heat Exchanger akibat Scaling pada Sisi Cooling Water

Authors

Online Troubleshooting dan Recovery Performance Plate Heat Exchanger akibat Scaling pada Sisi Cooling Water

Pendekatan Praktis Berbasis Data Lapangan pada PHE Water Scrubber Saat Plant Tetap Beroperasi



Abstrak

Plate Heat Exchanger atau PHE banyak digunakan pada unit petrokimia karena memiliki efisiensi perpindahan panas tinggi, ukuran kompak, dan respons termal yang cepat. Namun, keunggulan tersebut diikuti oleh kelemahan operasional yang penting: PHE sangat sensitif terhadap scaling, fouling, plugging, dan maldistribution, terutama pada sisi cooling water.

Artikel ini membahas metode troubleshooting dan online recovery performance PHE pada service Water Scrubber dengan kondisi aktual sebagai berikut:

  • plant tetap beroperasi;
  • PHE tidak dapat di-stop dan diisolasi;
  • flow cooling water tidak tersedia di SCADA;
  • differential pressure cooling water tidak tersedia;
  • supply dan return cooling water kembali ke header-line;
  • data utama yang tersedia berasal dari sisi process fluid;
  • metode offline cleaning atau CIP ideal belum dapat dilakukan.

Data aktual dari SCADA sisi process menunjukkan:

ParameterAktualDesign
Inlet Temperature109°C109°C
Outlet Temperature56°C65°C
Process Temperature Drop53°C44°C

Berdasarkan data tersebut:

ΔTprocess,actual=Th,in,actualTh,out,actual\Delta T_{process,actual} = T_{h,in,actual} - T_{h,out,actual}
ΔTprocess,actual=10956=53C\Delta T_{process,actual} = 109 - 56 = 53^\circ C

Sedangkan pada kondisi design:

ΔTprocess,design=Th,in,designTh,out,design\Delta T_{process,design} = T_{h,in,design} - T_{h,out,design}
ΔTprocess,design=10965=44C\Delta T_{process,design} = 109 - 65 = 44^\circ C

Jika flow process dan specific heat process fluid dianggap sama antara kondisi aktual dan design, maka rasio heat removal dari sisi process adalah:

QactualQdesign=ΔTprocess,actualΔTprocess,design\frac{Q_{actual}}{Q_{design}} = \frac{\Delta T_{process,actual}}{\Delta T_{process,design}}
QactualQdesign=5344=1.2045\frac{Q_{actual}}{Q_{design}} = \frac{53}{44} = 1.2045

Dengan kata lain:

Qactual120.45%QdesignQ_{actual} \approx 120.45\% \, Q_{design}

Artinya, berdasarkan data process temperature saja, heat removal aktual justru terlihat lebih besar dibanding design. Oleh karena itu, data ini tidak boleh langsung disebut sebagai penurunan performance PHE sebesar 16.98% tanpa klarifikasi basis perhitungannya.

Angka 16.98% berasal dari perhitungan:

534453×100%=16.98%\frac{53 - 44}{53} \times 100\% = 16.98\%

Namun, angka tersebut hanya menyatakan bahwa design process temperature drop lebih rendah 16.98% terhadap actual process temperature drop. Angka tersebut bukan definisi baku performance loss PHE.

Performance loss PHE akibat scaling harus dievaluasi menggunakan parameter yang lebih lengkap, terutama:

QactualQ_{actual}
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAactualUA_{actual}
TapproachT_{approach}
UAactualUAclean\frac{UA_{actual}}{UA_{clean}}

Dengan demikian, artikel ini menekankan satu prinsip utama untuk engineer-praktisi lapangan:

Data temperatur process penting, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan scaling atau performance loss. Performance PHE harus dibuktikan dengan heat duty, LMTD, UA, trend, dan baseline yang comparable.

Untuk kondisi plant tetap running, strategi online recovery yang dibahas dalam artikel ini menggunakan pendekatan:

softendisperseshearremovemonitor\boxed{ \text{soften} \rightarrow \text{disperse} \rightarrow \text{shear} \rightarrow \text{remove} \rightarrow \text{monitor} }

Pendekatan ini berarti deposit harus dilunakkan, partikel yang terlepas harus dijaga tetap tersuspensi, gaya geser aliran harus dimanfaatkan, deposit harus dibuang dari sistem, dan seluruh hasilnya harus diverifikasi melalui data performance yang terukur.

Kembali ke Atas


1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Plate Heat Exchanger atau PHE adalah salah satu jenis heat exchanger yang sangat banyak digunakan pada industri petrokimia, refinery, chemical plant, dan utility system. Pada service Water Scrubber, PHE berfungsi untuk menurunkan temperatur process fluid dengan menggunakan cooling water sebagai media pendingin.

Secara umum, PHE dipilih karena memiliki beberapa keunggulan teknis:

  • koefisien perpindahan panas tinggi;
  • area perpindahan panas besar dalam volume yang relatif kecil;
  • respons temperatur cepat terhadap perubahan beban operasi;
  • efisien untuk aplikasi liquid-to-liquid heat exchange;
  • jumlah plate dapat disesuaikan dengan kebutuhan duty;
  • relatif mudah dibuka dan dibersihkan pada kondisi shutdown.

Namun, PHE juga memiliki sensitivitas tinggi terhadap kondisi fluida. Celah antar-plate yang sempit membuat PHE lebih mudah terdampak oleh deposit dibanding beberapa tipe heat exchanger lain. Pada sisi cooling water, permasalahan yang umum terjadi meliputi:

  • mineral scaling;
  • suspended solid fouling;
  • biological fouling;
  • corrosion product deposit;
  • sludge accumulation;
  • partial plugging;
  • maldistribution aliran;
  • penurunan effective heat transfer area.

Dalam kondisi normal, PHE yang mengalami scaling dapat dibersihkan melalui offline cleaning atau CIP setelah unit diisolasi. Namun, pada plant petrokimia, kondisi ideal tersebut sering tidak tersedia. Plant harus tetap berjalan, process temperature harus tetap dijaga, dan window shutdown belum tentu tersedia. Oleh karena itu, engineer lapangan memerlukan metode evaluasi dan online recovery yang tetap dapat dilakukan tanpa menghentikan operasi.

1.2 Kondisi Aktual PHE Water Scrubber

Kondisi aktual yang menjadi dasar pembahasan artikel ini adalah PHE pada service Water Scrubber dengan keterbatasan data dan keterbatasan tindakan maintenance sebagai berikut:

  • PHE masih beroperasi;
  • plant tidak dapat dihentikan;
  • PHE tidak dapat diisolasi untuk cleaning;
  • flow cooling water tidak tersedia di SCADA;
  • local flowmeter cooling water tidak tersedia;
  • differential pressure cooling water tidak dapat dibaca;
  • supply cooling water dan return cooling water kembali ke header-line;
  • data yang tersedia terutama berasal dari sisi process;
  • temperatur cooling water harus diambil secara lokal;
  • indikasi scaling perlu dikonfirmasi melalui perhitungan performance, bukan asumsi visual.

Kondisi seperti ini sangat umum di lapangan. Engineer sering harus mengambil keputusan dengan data terbatas, tetapi keputusan tersebut tetap harus berbasis angka. Pernyataan seperti “kemungkinan scaling”, “cooling water kurang”, atau “performance turun” tidak cukup untuk menentukan tindakan. Setiap indikasi harus dikonversi menjadi parameter kuantitatif.

Diagram berikut menggambarkan situasi aktual PHE Water Scrubber.

Rendering diagram...

Diagram tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan data cooling water tidak boleh menghentikan troubleshooting. Sisi process tetap dapat digunakan sebagai basis awal untuk menghitung heat duty. Namun, untuk menilai performance PHE secara benar, temperatur cooling water inlet dan outlet tetap harus dikumpulkan agar LMTD dan UA dapat dihitung.

1.3 Data Aktual dari SCADA

Data sisi process yang tersedia dari SCADA adalah sebagai berikut:

ParameterAktualDesignCatatan
Inlet Temperature109°C109°Csama dengan design
Outlet Temperature56°C65°Caktual lebih rendah 9°C dari design
Process Temperature Drop53°C44°Caktual lebih besar 9°C dari design
Deviasi yang ditampilkan16.98%-perlu klarifikasi basis perhitungan

Dari data tersebut:

Th,in,actual=109CT_{h,in,actual} = 109^\circ C
Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C

Maka:

ΔTprocess,actual=10956=53C\Delta T_{process,actual} = 109 - 56 = 53^\circ C

Untuk kondisi design:

Th,in,design=109CT_{h,in,design} = 109^\circ C
Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C

Maka:

ΔTprocess,design=10965=44C\Delta T_{process,design} = 109 - 65 = 44^\circ C

Selisih process temperature drop aktual terhadap design adalah:

ΔTprocess,actualΔTprocess,design=5344=9C\Delta T_{process,actual} - \Delta T_{process,design} = 53 - 44 = 9^\circ C

Jika flow process dan specific heat sama, maka heat removal aktual terhadap design adalah:

QactualQdesign=5344=1.2045\frac{Q_{actual}}{Q_{design}} = \frac{53}{44} = 1.2045

atau:

Qactual=1.2045,QdesignQ_{actual} = 1.2045 , Q_{design}

Dalam persen:

Qactual120.45%,QdesignQ_{actual} \approx 120.45\% , Q_{design}

Interpretasi awalnya adalah process fluid mengalami pendinginan lebih besar dibanding design case. Oleh karena itu, data ini harus dibaca hati-hati. Data tersebut belum membuktikan adanya performance loss. Sebaliknya, jika hanya melihat process temperature drop, PHE tampak sedang membuang panas lebih besar dari design, dengan syarat flow dan specific heat memang sama.

1.4 Catatan Engineering atas Angka 16.98%

Angka 16.98% perlu diklarifikasi karena dapat menimbulkan kesimpulan yang salah. Nilai tersebut berasal dari:

534453×100%=16.98%\frac{53 - 44}{53} \times 100\% = 16.98\%

Perhitungan tersebut menggunakan actual process temperature drop sebagai denominator. Secara matematis, angka ini menyatakan bahwa design process temperature drop lebih rendah 16.98% terhadap actual process temperature drop.

Namun, definisi tersebut tidak sama dengan performance loss PHE.

Performance loss PHE seharusnya dievaluasi dengan membandingkan actual thermal conductance terhadap clean atau baseline thermal conductance:

Performance Loss=UAcleanUAactualUAclean×100%\text{Performance Loss} = \frac{UA_{clean} - UA_{actual}}{UA_{clean}} \times 100\%

atau jika menggunakan heat duty, perbandingan harus dilakukan pada kondisi yang comparable:

Duty Loss=QcleanQactualQclean×100%\text{Duty Loss} = \frac{Q_{clean} - Q_{actual}}{Q_{clean}} \times 100\%

dengan catatan bahwa flow, inlet temperature, cooling water temperature, dan operating load harus sebanding.

Jika hanya tersedia data process temperature, maka kesimpulan performance loss belum valid karena process temperature drop dipengaruhi oleh banyak faktor:

  • process flow aktual;
  • specific heat process fluid;
  • cooling water inlet temperature;
  • cooling water flow;
  • valve opening;
  • process load;
  • operating mode;
  • exchanger cleanliness;
  • heat transfer area efektif;
  • design case versus actual operating case.

Dengan demikian, data SCADA harus dijadikan starting point, bukan final conclusion.

1.5 Tujuan Artikel

Artikel ini disusun untuk memberikan panduan praktis bagi engineer lapangan dalam menangani indikasi scaling pada PHE Water Scrubber saat plant tetap beroperasi.

Tujuan teknis artikel ini adalah:

  • menjelaskan cara membaca data SCADA sisi process secara benar;
  • membedakan antara process temperature drop dan performance loss;
  • menunjukkan cara menghitung heat duty aktual dari sisi process;
  • menjelaskan pentingnya LMTD dan UA dalam evaluasi performance PHE;
  • memberikan metode troubleshooting saat flow dan differential pressure cooling water tidak tersedia;
  • menjelaskan mekanisme scaling pada sisi cooling water;
  • merancang strategi online cleaning tanpa isolasi PHE;
  • menentukan parameter kuantitatif untuk memverifikasi keberhasilan online recovery.

Tujuan praktisnya adalah memastikan keputusan maintenance tidak didasarkan pada asumsi, tetapi pada angka yang dapat dihitung dan dibandingkan.

1.6 Ruang Lingkup

Ruang lingkup artikel ini dibatasi pada:

  • Plate Heat Exchanger untuk liquid-to-liquid service;
  • aplikasi pada PHE Water Scrubber;
  • cooling water sebagai cooling medium;
  • potensi scaling pada sisi cooling water;
  • plant tetap running;
  • tidak tersedia flow cooling water;
  • tidak tersedia differential pressure cooling water;
  • data utama berasal dari sisi process;
  • fokus pada online troubleshooting dan online recovery;
  • bukan pembahasan detail offline CIP atau overhaul PHE.

Kembali ke Atas


2. Prinsip Dasar Perpindahan Panas pada PHE

2.1 Neraca Panas pada Sisi Process Fluid

Pada kondisi data cooling water terbatas, sisi process fluid harus menjadi basis utama perhitungan awal. Hal ini karena flow process umumnya lebih tersedia di SCADA dibanding flow cooling water branch.

Heat duty dari sisi process fluid dihitung dengan:

Qactual=m˙hCp,h(Th,inTh,out)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( T_{h,in} - T_{h,out} \right)

di mana:

Qactual=actual heat dutyQ_{actual} = \text{actual heat duty}
m˙h=mass flow rate process fluid\dot{m}_h = \text{mass flow rate process fluid}
Cp,h=specific heat process fluidC_{p,h} = \text{specific heat process fluid}
Th,in=process fluid inlet temperatureT_{h,in} = \text{process fluid inlet temperature}
Th,out=process fluid outlet temperatureT_{h,out} = \text{process fluid outlet temperature}

Untuk data aktual PHE Water Scrubber:

Th,in,actual=109CT_{h,in,actual} = 109^\circ C
Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C

Sehingga:

ΔTprocess,actual=10956=53C\Delta T_{process,actual} = 109 - 56 = 53^\circ C

Maka:

Qactual=m˙hCp,h(53)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( 53 \right)

Jika satuan yang digunakan adalah:

m˙h=kg/s\dot{m}_h = \text{kg/s}

dan:

Cp,h=kJ/kg.KC_{p,h} = \text{kJ/kg.K}

maka:

Qactual=kWQ_{actual} = \text{kW}

Untuk kondisi design:

Th,in,design=109CT_{h,in,design} = 109^\circ C
Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C

Sehingga:

ΔTprocess,design=10965=44C\Delta T_{process,design} = 109 - 65 = 44^\circ C

Maka:

Qdesign=m˙h,designCp,h,design(44)Q_{design} = \dot{m}_{h,design} C_{p,h,design} \left( 44 \right)

Jika:

m˙h,actual=m˙h,design\dot{m}_{h,actual} = \dot{m}_{h,design}

dan:

Cp,h,actual=Cp,h,designC_{p,h,actual} = C_{p,h,design}

maka:

QactualQdesign=5344=1.2045\frac{Q_{actual}}{Q_{design}} = \frac{53}{44} = 1.2045

Namun, asumsi flow dan specific heat sama harus diverifikasi. Jika process flow aktual lebih rendah dari design, maka process temperature drop dapat meningkat walaupun actual heat duty tidak meningkat. Inilah alasan mengapa data temperatur saja tidak boleh langsung digunakan sebagai kesimpulan performance.

2.2 Neraca Panas pada Sisi Cooling Water

Secara teori, heat duty yang diserap cooling water adalah:

QCW=m˙CWCp,CW(Tc,outTc,in)Q_{CW} = \dot{m}_{CW} C_{p,CW} \left( T_{c,out} - T_{c,in} \right)

di mana:

m˙CW=cooling water mass flow rate\dot{m}_{CW} = \text{cooling water mass flow rate}
Cp,CW=specific heat cooling waterC_{p,CW} = \text{specific heat cooling water}
Tc,in=cooling water inlet temperatureT_{c,in} = \text{cooling water inlet temperature}
Tc,out=cooling water outlet temperatureT_{c,out} = \text{cooling water outlet temperature}

Untuk cooling water, nilai specific heat dapat didekati sebagai:

Cp,CW4.18,kJ/kg.KC_{p,CW} \approx 4.18 , \text{kJ/kg.K}

Pada kondisi ideal tanpa heat loss signifikan:

QactualQCWQ_{actual} \approx Q_{CW}

Namun, pada kasus ini flow cooling water tidak tersedia. Oleh karena itu, jika temperatur cooling water inlet dan outlet dapat diambil secara lokal, flow cooling water dapat diestimasi dari heat balance:

m˙CW,estimated=QactualCp,CW(Tc,outTc,in)\dot{m}_{CW,estimated} = \frac{Q_{actual}} { C_{p,CW} \left( T_{c,out} - T_{c,in} \right) }

Persamaan ini sangat berguna di lapangan karena memberikan estimasi cooling water flow tanpa flowmeter permanen. Walaupun estimasi ini tidak seakurat flowmeter, nilainya cukup untuk screening apakah masalah dominan mengarah ke flow limitation atau thermal resistance.

Diagram berikut menunjukkan hubungan neraca panas antara sisi process dan cooling water.

Rendering diagram...

2.3 Persamaan Perpindahan Panas Utama

Persamaan dasar perpindahan panas pada heat exchanger adalah:

Q=UAΔTlmQ = U A \Delta T_{lm}

di mana:

U=overall heat transfer coefficientU = \text{overall heat transfer coefficient}
A=effective heat transfer areaA = \text{effective heat transfer area}
ΔTlm=log mean temperature difference\Delta T_{lm} = \text{log mean temperature difference}

Untuk evaluasi lapangan, parameter yang sangat berguna adalah:

UAactual=QactualΔTlmUA_{actual} = \frac{Q_{actual}} {\Delta T_{lm}}

Parameter UAUA disebut sebagai actual thermal conductance. Nilai ini sangat praktis karena area plate biasanya tetap selama jumlah plate tidak berubah. Jika UAUA turun, maka hal tersebut dapat mengindikasikan adanya penurunan kemampuan heat transfer akibat:

  • scaling;
  • fouling;
  • partial plugging;
  • maldistribution;
  • internal bypass;
  • gasket leakage;
  • penurunan efektivitas area plate.

Dalam troubleshooting, UAUA lebih kuat dibanding hanya melihat process temperature drop karena UAUA mempertimbangkan driving force temperatur antara dua fluida.

2.4 LMTD untuk PHE Counter-Current

PHE umumnya dioperasikan mendekati konfigurasi counter-current untuk memperoleh efisiensi termal yang lebih baik. Untuk konfigurasi counter-current, temperature difference di kedua ujung exchanger didefinisikan sebagai:

ΔT1=Th,inTc,out\Delta T_1 = T_{h,in} - T_{c,out}
ΔT2=Th,outTc,in\Delta T_2 = T_{h,out} - T_{c,in}

LMTD dihitung dengan:

ΔTlm=ΔT1ΔT2ln(ΔT1ΔT2)\Delta T_{lm} = \frac{ \Delta T_1 - \Delta T_2 } { \ln \left( \frac{\Delta T_1}{\Delta T_2} \right) }

Untuk data aktual PHE Water Scrubber:

Th,in=109CT_{h,in} = 109^\circ C
Th,out=56CT_{h,out} = 56^\circ C

Maka:

ΔT1=109Tc,out\Delta T_1 = 109 - T_{c,out}

dan:

ΔT2=56Tc,in\Delta T_2 = 56 - T_{c,in}

Sehingga:

ΔTlm=(109Tc,out)(56Tc,in)ln[109Tc,out56Tc,in]\Delta T_{lm} = \frac{ \left( 109 - T_{c,out} \right) - \left( 56 - T_{c,in} \right) } { \ln \left[ \frac{ 109 - T_{c,out} } { 56 - T_{c,in} } \right] }

Persamaan ini menunjukkan bahwa nilai UAUA tidak dapat dihitung dengan benar tanpa data cooling water inlet dan outlet temperature. Karena itu, walaupun flow cooling water tidak tersedia, minimal data berikut harus dikumpulkan:

Tc,inT_{c,in}

dan:

Tc,outT_{c,out}

Jika dua data tersebut tidak tersedia di SCADA, maka harus diambil secara lokal menggunakan alat ukur temperatur yang tervalidasi.

2.5 Approach Temperature

Selain UAUA, parameter sederhana yang sangat berguna untuk monitoring harian adalah approach temperature.

Untuk cooler, approach temperature dapat didefinisikan sebagai:

Tapproach=Th,outTc,inT_{approach} = T_{h,out} - T_{c,in}

Parameter ini menunjukkan seberapa dekat temperatur outlet process terhadap temperatur inlet cooling water. Semakin kecil approach temperature, semakin efektif pendinginan, selama tidak terjadi overcooling yang mengganggu proses.

Untuk kasus aktual:

Th,out=56CT_{h,out} = 56^\circ C

Maka:

Tapproach=56Tc,inT_{approach} = 56 - T_{c,in}

Jika contoh nilai lokal cooling water inlet adalah:

Tc,in=32CT_{c,in} = 32^\circ C

maka:

Tapproach=5632=24CT_{approach} = 56 - 32 = 24^\circ C

Nilai approach ini harus dibandingkan terhadap clean baseline atau design operating case. Approach temperature yang naik dari baseline dapat mengindikasikan:

  • penurunan UAUA;
  • scaling;
  • fouling;
  • cooling water flow rendah;
  • maldistribution;
  • internal bypass.

Namun, approach temperature juga tidak boleh dibaca sendiri. Approach harus dikaitkan dengan heat duty, cooling water inlet temperature, process flow, dan operating load.

2.6 Hubungan Data yang Dibutuhkan untuk Evaluasi Performance

Untuk memperoleh evaluasi performance PHE yang kuat, data harus disusun dalam alur perhitungan berikut:

Rendering diagram...

Diagram tersebut menegaskan bahwa data process side saja hanya cukup untuk menghitung QactualQ_{actual}, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan performance loss. Untuk mengevaluasi performance PHE, engineer tetap memerlukan Tc,inT_{c,in} dan Tc,outT_{c,out} agar ΔTlm\Delta T_{lm} dan UAactualUA_{actual} dapat dihitung.

2.7 Prinsip Praktis untuk Engineer Lapangan

Berdasarkan pembahasan di atas, prinsip praktis yang harus digunakan adalah sebagai berikut:

Pertama, gunakan sisi process sebagai basis awal karena data flow process biasanya tersedia.

Qactual=m˙hCp,h(Th,inTh,out)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( T_{h,in} - T_{h,out} \right)

Kedua, jangan menyimpulkan performance loss hanya dari process temperature drop.

ΔTprocessperformance loss\Delta T_{process} \neq \text{performance loss}

Ketiga, ambil data cooling water inlet dan outlet temperature secara lokal bila tidak tersedia di SCADA.

Tc,indanTc,outT_{c,in} \quad \text{dan} \quad T_{c,out}

Keempat, hitung LMTD dan actual thermal conductance.

UAactual=QactualΔTlmUA_{actual} = \frac{Q_{actual}} {\Delta T_{lm}}

Kelima, bandingkan UAactualUA_{actual} dengan baseline yang comparable.

Performance Ratio=UAactualUAclean\text{Performance Ratio} = \frac{UA_{actual}}{UA_{clean}}

Dengan pendekatan ini, engineer lapangan dapat menghindari kesimpulan yang keliru dan dapat menentukan apakah tindakan online cleaning memang diperlukan atau hanya perlu monitoring lanjutan.

Kembali ke Atas


3. Evaluasi Data SCADA PHE Water Scrubber

3.1 Data yang Tersedia

Data awal yang tersedia untuk evaluasi PHE Water Scrubber berasal dari sisi process fluid. Data ini penting karena merupakan data aktual dari operasi, bukan asumsi. Namun, data ini tetap harus dibaca dengan benar agar tidak menghasilkan kesimpulan engineering yang keliru.

Data SCADA menunjukkan:

ParameterAktualDesign
Inlet Temperature109°C109°C
Outlet Temperature56°C65°C
Process Temperature Drop53°C44°C

Secara simbolik:

Th,in,actual=109CT_{h,in,actual} = 109^\circ C
Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C
Th,in,design=109CT_{h,in,design} = 109^\circ C
Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C

Data ini menunjukkan bahwa temperatur inlet process aktual sama dengan design, yaitu:

Th,in,actual=Th,in,design=109CT_{h,in,actual} = T_{h,in,design} = 109^\circ C

Namun, outlet temperature aktual lebih rendah daripada design:

Th,out,actual<Th,out,designT_{h,out,actual} < T_{h,out,design}

atau:

56C<65C56^\circ C < 65^\circ C

Artinya, dari sisi process temperature saja, process fluid aktual mengalami pendinginan lebih besar dibanding design. Ini adalah poin penting karena data tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa PHE mengalami performance loss.

3.2 Perhitungan Process Temperature Drop

Process temperature drop didefinisikan sebagai selisih antara temperatur inlet dan outlet process fluid:

ΔTprocess=Th,inTh,out\Delta T_{process} = T_{h,in} - T_{h,out}

Untuk kondisi aktual:

ΔTprocess,actual=Th,in,actualTh,out,actual\Delta T_{process,actual} = T_{h,in,actual} - T_{h,out,actual}
ΔTprocess,actual=10956=53C\Delta T_{process,actual} = 109 - 56 = 53^\circ C

Untuk kondisi design:

ΔTprocess,design=Th,in,designTh,out,design\Delta T_{process,design} = T_{h,in,design} - T_{h,out,design}
ΔTprocess,design=10965=44C\Delta T_{process,design} = 109 - 65 = 44^\circ C

Deviasi absolut process temperature drop adalah:

ΔTprocess,actualΔTprocess,design=5344=9C\Delta T_{process,actual} - \Delta T_{process,design} = 53 - 44 = 9^\circ C

Dengan demikian, process temperature drop aktual lebih besar daripada design sebesar:

9C9^\circ C

atau secara rasio:

ΔTprocess,actualΔTprocess,design=5344=1.2045\frac{\Delta T_{process,actual}} {\Delta T_{process,design}} = \frac{53}{44} = 1.2045

Rasio ini berarti bahwa temperature drop process aktual adalah sekitar:

120.45%120.45\%

terhadap design temperature drop.

3.3 Rasio Heat Removal Berdasarkan Sisi Process

Heat duty dari sisi process fluid dihitung dengan:

Q=m˙hCp,h(Th,inTh,out)Q = \dot{m}_h C_{p,h} \left( T_{h,in} - T_{h,out} \right)

atau:

Q=m˙hCp,hΔTprocessQ = \dot{m}_h C_{p,h} \Delta T_{process}

Untuk kondisi aktual:

Qactual=m˙h,actualCp,h,actualΔTprocess,actualQ_{actual} = \dot{m}_{h,actual} C_{p,h,actual} \Delta T_{process,actual}

Untuk kondisi design:

Qdesign=m˙h,designCp,h,designΔTprocess,designQ_{design} = \dot{m}_{h,design} C_{p,h,design} \Delta T_{process,design}

Jika diasumsikan bahwa flow process dan specific heat process fluid sama antara kondisi aktual dan design:

m˙h,actual=m˙h,design\dot{m}_{h,actual} = \dot{m}_{h,design}

dan:

Cp,h,actual=Cp,h,designC_{p,h,actual} = C_{p,h,design}

maka rasio heat removal dapat disederhanakan menjadi:

QactualQdesign=ΔTprocess,actualΔTprocess,design\frac{Q_{actual}}{Q_{design}} = \frac{\Delta T_{process,actual}} {\Delta T_{process,design}}

Dengan data yang tersedia:

QactualQdesign=5344=1.2045\frac{Q_{actual}}{Q_{design}} = \frac{53}{44} = 1.2045

Sehingga:

Qactual=1.2045QdesignQ_{actual} = 1.2045 Q_{design}

atau:

Qactual120.45%QdesignQ_{actual} \approx 120.45\% Q_{design}

Ini berarti bahwa, jika flow process dan specific heat memang sama, heat removal aktual sekitar:

20.45%20.45\%

lebih tinggi dibanding design duty.

Namun, asumsi tersebut harus diverifikasi. Jika flow process aktual lebih rendah dari design, maka temperature drop dapat menjadi lebih besar tanpa berarti heat duty aktual lebih tinggi. Oleh karena itu, nilai process flow aktual wajib dikonfirmasi.

Diagram berikut menunjukkan logika evaluasi heat removal dari data SCADA sisi process.

Rendering diagram...

3.4 Interpretasi Angka 16.98%

Pada tabel awal terdapat angka penurunan atau deviasi sebesar:

16.98%16.98\%

Angka tersebut dapat diperoleh dari persamaan:

534453×100%=16.98%\frac{53 - 44}{53} \times 100\% = 16.98\%

Secara matematis, persamaan tersebut menggunakan actual process temperature drop sebagai denominator:

ΔTprocess,actualΔTprocess,designΔTprocess,actual×100%\frac{ \Delta T_{process,actual} - \Delta T_{process,design} } { \Delta T_{process,actual} } \times 100\%

Dengan memasukkan data:

534453×100%=16.98%\frac{ 53 - 44 } { 53 } \times 100\% = 16.98\%

Namun, secara engineering, angka ini bukan definisi standar performance loss PHE.

Angka tersebut hanya menyatakan bahwa design process temperature drop lebih rendah 16.98% terhadap actual process temperature drop. Dengan kata lain:

ΔTprocess,design=83.02%ΔTprocess,actual\Delta T_{process,design} = 83.02\% \Delta T_{process,actual}

karena:

100%16.98%=83.02%100\% - 16.98\% = 83.02\%

Interpretasi tersebut berbeda dari performance loss PHE. Performance loss tidak boleh dihitung hanya dari selisih process temperature drop aktual dan design. Performance loss harus dihitung berdasarkan kemampuan heat exchanger memindahkan panas pada driving force temperatur yang comparable.

Definisi performance loss yang lebih tepat adalah:

Performance Loss=UAcleanUAactualUAclean×100%\text{Performance Loss} = \frac{ UA_{clean} - UA_{actual} } { UA_{clean} } \times 100\%

atau, jika menggunakan heat duty, hanya boleh digunakan pada kondisi operasi yang comparable:

Duty Loss=QcleanQactualQclean×100%\text{Duty Loss} = \frac{ Q_{clean} - Q_{actual} } { Q_{clean} } \times 100\%

Syarat comparable berarti kondisi berikut harus sebanding:

  • process flow;
  • process inlet temperature;
  • process fluid composition;
  • specific heat;
  • cooling water inlet temperature;
  • cooling water flow;
  • operating load;
  • line-up;
  • control mode.

Jika syarat tersebut tidak dipenuhi, maka perbandingan langsung antara aktual dan design dapat menghasilkan kesimpulan yang salah.

3.5 Kenapa Process Temperature Drop Saja Tidak Cukup

Process temperature drop adalah parameter penting, tetapi bukan parameter final untuk menilai performance PHE.

Secara sederhana:

ΔTprocess=Th,inTh,out\Delta T_{process} = T_{h,in} - T_{h,out}

Nilai ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Bukan hanya oleh kondisi plate, tetapi juga oleh hydraulic dan operating condition.

Misalnya, process temperature drop dapat meningkat karena:

  • process flow turun;
  • cooling water flow naik;
  • cooling water inlet temperature lebih rendah;
  • control valve cooling water lebih terbuka;
  • process heat load berubah;
  • composition process fluid berubah;
  • specific heat berubah;
  • exchanger sedang beroperasi pada load berbeda dari design.

Sebaliknya, process temperature drop dapat menurun karena:

  • process flow naik;
  • cooling water flow turun;
  • cooling water inlet temperature naik;
  • fouling atau scaling meningkat;
  • sebagian channel tersumbat;
  • terjadi maldistribution;
  • terdapat internal bypass;
  • area heat transfer efektif menurun.

Oleh karena itu, pernyataan berikut tidak valid sebagai kesimpulan tunggal:

ΔTprocess berubahPHE scaling\Delta T_{process} \text{ berubah} \Rightarrow \text{PHE scaling}

Yang benar adalah:

ΔTprocess berubahperlu evaluasi Q,ΔTlm,UA, dan baseline\Delta T_{process} \text{ berubah} \Rightarrow \text{perlu evaluasi } Q, \Delta T_{lm}, UA, \text{ dan baseline}

3.6 Data Tambahan yang Dibutuhkan

Untuk menyimpulkan apakah scaling benar-benar terjadi, engineer lapangan harus melengkapi data SCADA dengan data tambahan berikut.

Data TambahanFungsi Engineering
Process flow aktualMenghitung actual heat duty
Specific heat process fluidMenghindari error perhitungan duty
Cooling water inlet temperatureMenghitung approach dan LMTD
Cooling water outlet temperatureMenghitung LMTD dan estimasi CW flow
Clean baseline UAPembanding utama performance
Design cooling water flowPembanding estimasi flow
Cooling water pHIndikasi scaling tendency
ConductivityIndikasi cycle of concentration
HardnessIndikasi potensi calcium carbonate scaling
AlkalinityIndikasi carbonate scaling tendency
SilicaIndikasi potensi silica scaling
TSSIndikasi suspended solid fouling
IronIndikasi corrosion product deposit
Microbiological countIndikasi biological fouling
Trend outlet temperatureMelihat arah degradasi
Trend UABukti kuantitatif performance change

Tanpa data tambahan tersebut, kesimpulan hanya berdasarkan process temperature drop akan terlalu lemah untuk dipakai sebagai dasar keputusan online cleaning.

3.7 Minimum Calculation Set untuk Data SCADA Saat Ini

Berdasarkan data saat ini, perhitungan minimum yang dapat langsung dilakukan adalah:

ΔTprocess,actual=53C\Delta T_{process,actual} = 53^\circ C
ΔTprocess,design=44C\Delta T_{process,design} = 44^\circ C
ΔTprocess,actualΔTprocess,design=1.2045\frac{ \Delta T_{process,actual} } { \Delta T_{process,design} } = 1.2045

Namun, perhitungan yang belum dapat dilakukan tanpa data tambahan adalah:

Qactual=m˙hCp,hΔTprocessQ_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \Delta T_{process}

karena masih membutuhkan:

m˙h\dot{m}_h

dan:

Cp,hC_{p,h}

Selanjutnya:

UAactual=QactualΔTlmUA_{actual} = \frac{Q_{actual}}{\Delta T_{lm}}

juga belum dapat dihitung karena masih membutuhkan:

Tc,inT_{c,in}

dan:

Tc,outT_{c,out}

Untuk menentukan performance status, engineer harus mencapai minimal perhitungan:

UAactualUAclean\frac{UA_{actual}}{UA_{clean}}

atau, jika baseline clean belum tersedia:

UAactualUAdesign\frac{UA_{actual}}{UA_{design}}

dengan catatan bahwa perbandingan terhadap design harus dilakukan secara hati-hati karena design case belum tentu sama dengan operating case aktual.

Kembali ke Atas


4. Definisi Performance Loss pada PHE

4.1 Definisi Performance Ratio

Performance PHE harus dinilai menggunakan parameter yang mewakili kemampuan exchanger memindahkan panas. Parameter yang paling praktis untuk kondisi lapangan adalah:

UAUA

Karena:

Q=UAΔTlmQ = UA \Delta T_{lm}

maka:

UA=QΔTlmUA = \frac{Q}{\Delta T_{lm}}

Performance ratio didefinisikan sebagai:

Performance Ratio=UAactualUAclean\text{Performance Ratio} = \frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} }

Jika nilai ini mendekati 1, maka performance aktual mendekati clean baseline:

UAactualUAclean1\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } \approx 1

Jika nilai ini lebih kecil dari 1, maka terdapat penurunan thermal conductance:

UAactualUAclean<1\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } < 1

Performance loss kemudian dihitung sebagai:

Performance Loss=(1UAactualUAclean)×100%\text{Performance Loss} = \left( 1 - \frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } \right) \times 100\%

atau:

Performance Loss=UAcleanUAactualUAclean×100%\text{Performance Loss} = \frac{ UA_{clean} - UA_{actual} } { UA_{clean} } \times 100\%

Inilah definisi yang lebih tepat untuk menyatakan penurunan performance PHE akibat scaling atau fouling.

4.2 Jika Performance Loss Benar-Benar 17%

Jika setelah dihitung berdasarkan UAUA ternyata performance loss benar-benar sebesar 17%, maka:

Performance Loss=17%\text{Performance Loss} = 17\%

Sehingga performance remaining adalah:

Performance Remaining=100%17%=83%\text{Performance Remaining} = 100\% - 17\% = 83\%

Maka:

UAactualUAclean=0.83\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } = 0.83

Artinya, PHE hanya memiliki thermal conductance sebesar 83% dari kondisi clean baseline.

Namun, perlu ditekankan bahwa angka 17% dari tabel SCADA sebelumnya belum dapat langsung dianggap sebagai:

UAactualUAclean=0.83\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } = 0.83

karena angka tersebut berasal dari selisih process temperature drop, bukan dari hasil perhitungan UAUA.

Diagram berikut membedakan dua interpretasi angka 17%.

Rendering diagram...

4.3 Hubungan Performance Loss dengan Overall Heat Transfer Coefficient

Nilai UAUA adalah hasil perkalian antara overall heat transfer coefficient dan effective heat transfer area:

UA=UAUA = U A

Jika jumlah plate tidak berubah, tidak ada plate yang dilepas, dan konfigurasi PHE tetap sama, maka area dapat dianggap tetap:

Aactual=AcleanA_{actual} = A_{clean}

Dengan asumsi tersebut:

UAactualUAclean=UactualAUcleanA\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } = \frac{ U_{actual} A } { U_{clean} A }

Karena AA sama, maka:

UAactualUAclean=UactualUclean\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } = \frac{ U_{actual} } { U_{clean} }

Jika performance ratio adalah 0.83:

UAactualUAclean=0.83\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } = 0.83

maka:

UactualUclean=0.83\frac{ U_{actual} } { U_{clean} } = 0.83

atau:

Uactual=0.83UcleanU_{actual} = 0.83 U_{clean}

Artinya, overall heat transfer coefficient aktual turun menjadi 83% dari clean condition.

4.4 Tambahan Thermal Resistance Akibat Scaling

Pada kondisi clean, overall thermal resistance dapat ditulis sebagai:

1Uclean=1hh+tpkp+1hc\frac{1}{U_{clean}} = \frac{1}{h_h} + \frac{t_p}{k_p} + \frac{1}{h_c}

di mana:

hh=heat transfer coefficient sisi processh_h = \text{heat transfer coefficient sisi process}
hc=heat transfer coefficient sisi cooling waterh_c = \text{heat transfer coefficient sisi cooling water}
tp=plate thicknesst_p = \text{plate thickness}
kp=thermal conductivity platek_p = \text{thermal conductivity plate}

Jika terjadi scaling pada sisi cooling water, maka muncul tambahan tahanan termal:

RscaleR_{scale}

Sehingga:

1Uscaled=1Uclean+Rscale\frac{1}{U_{scaled}} = \frac{1}{U_{clean}} + R_{scale}

Dengan demikian:

Rscale=1Uscaled1UcleanR_{scale} = \frac{1}{U_{scaled}} - \frac{1}{U_{clean}}

Jika:

Uscaled=0.83UcleanU_{scaled} = 0.83 U_{clean}

maka:

Rscale=10.83Uclean1UcleanR_{scale} = \frac{1}{0.83U_{clean}} - \frac{1}{U_{clean}}
Rscale=(10.831)1UcleanR_{scale} = \left( \frac{1}{0.83} - 1 \right) \frac{1}{U_{clean}}

Karena:

10.83=1.2048\frac{1}{0.83} = 1.2048

maka:

Rscale=0.20481UcleanR_{scale} = 0.2048 \frac{1}{U_{clean}}

atau:

Rscale=0.2048UcleanR_{scale} = \frac{0.2048}{U_{clean}}

Persamaan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa performance loss dapat diterjemahkan menjadi tambahan thermal resistance. Dengan demikian, pembahasan scaling menjadi kuantitatif, bukan hanya observasi kualitatif.

4.5 Interpretasi Fisik Thermal Resistance

Scaling bekerja seperti lapisan isolasi pada permukaan plate. Walaupun lapisannya tipis, efeknya dapat signifikan karena heat transfer PHE bergantung pada kontak termal yang intensif dan celah aliran yang sempit.

Secara konseptual:

Rtotal=Rfilm,hot+Rplate+Rfilm,cold+RscaleR_{total} = R_{film,hot} + R_{plate} + R_{film,cold} + R_{scale}

Jika RscaleR_{scale} meningkat, maka:

RtotalR_{total} \uparrow

Karena:

U=1RtotalU = \frac{1}{R_{total}}

maka:

UU \downarrow

Selanjutnya:

UAUA \downarrow

dan pada driving force temperatur yang sama:

QQ \downarrow

Efek akhirnya pada operasi adalah process outlet temperature cenderung naik jika heat load tetap:

Th,outT_{h,out} \uparrow

Namun dalam data saat ini, outlet temperature aktual justru lebih rendah dari design. Karena itu, dugaan scaling harus dibuktikan melalui trend UAUA, bukan dari data temperatur process tunggal.

Diagram berikut menggambarkan hubungan scaling dengan thermal resistance dan performance.

Rendering diagram...

4.6 Perbedaan Antara Duty Tinggi dan Performance Baik

Satu kesalahan umum di lapangan adalah menganggap bahwa heat duty tinggi selalu berarti exchanger bersih atau performance baik. Ini tidak selalu benar.

Heat duty ditentukan oleh:

Q=UAΔTlmQ = UA \Delta T_{lm}

Nilai QQ bisa tinggi karena:

  • UAUA tinggi;
  • ΔTlm\Delta T_{lm} tinggi;
  • process load tinggi;
  • cooling water inlet temperature rendah;
  • process flow tinggi;
  • operating condition berbeda dari design.

Karena itu, untuk menilai kondisi PHE, engineer harus memisahkan dua pertanyaan:

Pertama:

Berapa panas yang sedang dipindahkan?\text{Berapa panas yang sedang dipindahkan?}

Jawabannya diberikan oleh:

QactualQ_{actual}

Kedua:

Seberapa baik exchanger memindahkan panas pada driving force yang tersedia?\text{Seberapa baik exchanger memindahkan panas pada driving force yang tersedia?}

Jawabannya diberikan oleh:

UAactualUA_{actual}

Jika hanya melihat QQ, maka pengaruh driving force temperatur belum dipisahkan. Jika melihat UAUA, maka performance exchanger dapat dievaluasi lebih objektif.

4.7 Makna Teknis Performance Loss yang Valid

Performance loss yang valid berarti bahwa, setelah dikoreksi terhadap driving force temperatur, PHE mengalami penurunan kemampuan perpindahan panas.

Secara teknis, performance loss yang valid ditandai oleh:

UAactual<UAcleanUA_{actual} < UA_{clean}

atau:

UAactualUAclean<1\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } < 1

Jika penurunan ini terjadi bertahap, kemungkinan penyebabnya adalah:

  • scaling;
  • fouling;
  • biological deposit;
  • corrosion product deposit;
  • suspended solid accumulation.

Jika penurunan terjadi mendadak, kemungkinan penyebabnya adalah:

  • plugging;
  • line-up berubah;
  • air lock;
  • valve position berubah;
  • internal bypass;
  • gasket failure;
  • plate pack issue.

Dalam kasus PHE Water Scrubber, data SCADA saat ini belum cukup untuk menyatakan performance loss. Data tersebut baru menunjukkan bahwa:

ΔTprocess,actual>ΔTprocess,design\Delta T_{process,actual} > \Delta T_{process,design}

dan:

Th,out,actual<Th,out,designT_{h,out,actual} < T_{h,out,design}

Kesimpulan yang lebih tepat adalah:

Berdasarkan data process temperature, PHE aktual menghasilkan outlet process lebih rendah daripada design. Untuk menilai apakah terjadi scaling atau performance loss, diperlukan perhitungan QactualQ_{actual}, ΔTlm\Delta T_{lm}, dan UAactualUA_{actual} serta pembandingan terhadap clean baseline.

4.8 Practical Checkpoint untuk Engineer Lapangan

Sebelum menyatakan bahwa PHE mengalami performance loss, engineer lapangan harus menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apakah process flow aktual sama dengan design?
  2. Apakah specific heat process fluid sama dengan design?
  3. Apakah cooling water inlet temperature sama dengan design?
  4. Apakah cooling water outlet temperature tersedia?
  5. Apakah LMTD sudah dihitung?
  6. Apakah UAactualUA_{actual} sudah dihitung?
  7. Apakah ada clean baseline UAcleanUA_{clean}?
  8. Apakah perbandingan dilakukan pada load yang comparable?
  9. Apakah ada trend penurunan UAUA?
  10. Apakah chemistry cooling water menunjukkan scaling tendency?

Jika mayoritas jawaban belum tersedia, maka status engineering yang benar adalah:

Performance status belum dapat dikonfirmasi\text{Performance status belum dapat dikonfirmasi}

bukan:

PHE sudah pasti scaling\text{PHE sudah pasti scaling}

atau:

PHE performance loss 17%\text{PHE performance loss 17\%}

4.9 Ringkasan Bab 3 dan Bab 4

Dari data SCADA:

Th,in,actual=109CT_{h,in,actual} = 109^\circ C
Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C
ΔTprocess,actual=53C\Delta T_{process,actual} = 53^\circ C

Sedangkan design:

Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C
ΔTprocess,design=44C\Delta T_{process,design} = 44^\circ C

Jika flow dan CpC_p sama:

QactualQdesign=5344=1.2045\frac{Q_{actual}}{Q_{design}} = \frac{53}{44} = 1.2045

Sehingga:

Qactual120.45%QdesignQ_{actual} \approx 120.45\% Q_{design}

Angka 16.98% berasal dari:

534453×100%=16.98%\frac{53-44}{53} \times 100\% = 16.98\%

Namun angka ini bukan definisi performance loss PHE.

Performance loss yang benar harus dihitung dari:

Performance Loss=UAcleanUAactualUAclean×100%\text{Performance Loss} = \frac{ UA_{clean} - UA_{actual} } { UA_{clean} } \times 100\%

Dengan demikian, kesimpulan engineering untuk tahap ini adalah:

ΔTprocess adalah data penting, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan scaling atau performance loss.\boxed{ \Delta T_{process} \text{ adalah data penting, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan scaling atau performance loss.} }

dan:

Performance PHE harus dibuktikan melalui Qactual,ΔTlm,UAactual, trend, dan baseline yang comparable.\boxed{ \text{Performance PHE harus dibuktikan melalui } Q_{actual}, \Delta T_{lm}, UA_{actual}, \text{ trend, dan baseline yang comparable.} }

Kembali ke Atas


5. Mekanisme Scaling pada Sisi Cooling Water

5.1 Komposisi Umum Cooling Water

Cooling water pada sistem industri petrokimia jarang berupa air murni. Di dalamnya selalu terdapat mineral terlarut, suspended solid, corrosion product, bahan kimia treatment, dan potensi kontaminasi biologis. Pada kondisi tertentu, komponen-komponen tersebut dapat membentuk deposit pada permukaan plate PHE.

Komponen umum yang berperan dalam pembentukan scaling dan fouling adalah:

Ca2+Ca^{2+}
Mg2+Mg^{2+}
HCO3HCO_3^-
CO32CO_3^{2-}
SO42SO_4^{2-}
SiO2SiO_2
Fe2+danFe3+Fe^{2+} \quad \text{dan} \quad Fe^{3+}

Selain ion terlarut, cooling water juga dapat membawa:

suspended solid\text{suspended solid}
corrosion product\text{corrosion product}
microorganism\text{microorganism}
biofilm fragment\text{biofilm fragment}

Pada PHE, deposit kecil sekalipun dapat berdampak besar karena celah aliran antar-plate relatif sempit. Deposit yang awalnya hanya berupa lapisan tipis dapat berkembang menjadi kombinasi scaling, slime, dan plugging lokal.

Rendering diagram...

Diagram di atas menunjukkan bahwa scaling pada PHE tidak selalu berupa satu jenis deposit murni. Dalam banyak kasus lapangan, deposit yang terlihat sebagai “scale” sebenarnya merupakan campuran antara mineral scale, biofilm, corrosion product, dan suspended solid.

5.2 Jenis Scale dan Deposit yang Umum

Deposit pada sisi cooling water PHE dapat diklasifikasikan berdasarkan karakter kimia dan karakter visualnya.

Jenis DepositKarakter UmumImplikasi Cleaning
Calcium carbonateputih atau krem, umum pada pH dan alkalinity tinggirelatif responsif terhadap acid cleaning
Calcium sulfateputih keras, lebih sulit larutlebih sulit dibanding calcium carbonate
Magnesium hydroxideterbentuk pada pH tinggiterkait kontrol pH
Silica scalekeras, padat, sulit dibersihkanonline cleaning sangat terbatas
Iron oxidecoklat atau merahterkait corrosion product
Biofilm-mineral depositberlendir, gelap, bercampur mineralperlu biodispersant dan biocide
Sludge depositlunak, mudah berpindahdapat dipengaruhi velocity dan filtration

Dari sisi troubleshooting, engineer tidak boleh hanya menulis “scaling” tanpa indikasi jenis deposit. Jenis deposit menentukan strategi online cleaning. Misalnya, deposit calcium carbonate dapat dikendalikan dengan antiscalant dan pH control, sedangkan silica scale jauh lebih sulit dihilangkan secara online.

5.3 Mekanisme Calcium Carbonate Scaling

Salah satu scale paling umum pada sistem cooling water adalah calcium carbonate. Reaksi pembentukan utamanya adalah:

Ca2++CO32CaCO3Ca^{2+} + CO_3^{2-} \rightarrow CaCO_3 \downarrow

Calcium carbonate juga dapat terbentuk dari dekomposisi bikarbonat:

Ca2++2HCO3CaCO3+CO2+H2OCa^{2+} + 2HCO_3^- \rightarrow CaCO_3 \downarrow + CO_2 + H_2O

Simbol:

\downarrow

menunjukkan terbentuknya padatan atau precipitate.

Pembentukan calcium carbonate meningkat saat cooling water memiliki kombinasi kondisi berikut:

  • pH tinggi;
  • alkalinity tinggi;
  • hardness tinggi;
  • temperature skin plate tinggi;
  • cycle of concentration tinggi;
  • velocity cooling water rendah;
  • scale inhibitor tidak efektif;
  • biofilm terbentuk di permukaan plate;
  • suspended solid menjadi inti pertumbuhan kristal.

Pada PHE, temperatur bulk cooling water dapat terlihat normal, tetapi temperatur lokal pada permukaan plate dapat lebih tinggi. Area dekat permukaan plate disebut sebagai wall region atau skin temperature region. Di area ini, kondisi lokal dapat mencapai supersaturation lebih cepat dibanding bulk water.

Secara konsep:

Twall>Tbulk,CWT_{wall} > T_{bulk,CW}

Ketika temperatur lokal naik, kecenderungan calcium carbonate untuk mengendap juga meningkat. Jika konsentrasi ion melebihi batas kelarutan, maka terjadi supersaturation:

Ion concentration>solubility limit\text{Ion concentration} > \text{solubility limit}

Akibatnya:

CaCO3CaCO_3 \downarrow

akan mulai menempel pada permukaan plate.

5.4 Tahapan Pembentukan Scale

Pembentukan scale tidak terjadi dalam satu langkah. Mekanismenya bertahap dan progresif.

Rendering diagram...

Tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

5.4.1 Supersaturation

Cooling water membawa mineral terlarut. Ketika fluida melewati PHE dan menyerap panas dari process fluid, temperatur cooling water naik. Di dekat permukaan plate, temperatur lokal dapat lebih tinggi dari temperatur bulk.

Jika kombinasi temperatur, pH, alkalinity, dan hardness membuat ion melebihi batas kelarutannya, terjadi supersaturation:

S=CCsatS = \frac{C}{C_{sat}}

di mana:

S=supersaturation ratioS = \text{supersaturation ratio}
C=actual ion concentrationC = \text{actual ion concentration}
Csat=saturation concentrationC_{sat} = \text{saturation concentration}

Jika:

S>1S > 1

maka air berada dalam kondisi supersaturated dan berpotensi membentuk scale.

5.4.2 Nucleation

Nucleation adalah pembentukan inti kristal awal. Titik awal ini sering terjadi pada area yang memiliki:

  • roughness permukaan;
  • scratch pada plate;
  • dead zone;
  • velocity rendah;
  • biofilm;
  • suspended solid;
  • gasket edge;
  • port area.

Secara praktis, nucleation adalah fase awal yang sering tidak terlihat secara visual tetapi sudah mulai menurunkan efektivitas permukaan heat transfer.

5.4.3 Crystal Growth

Setelah inti kristal terbentuk, ion mineral berikutnya lebih mudah menempel pada inti tersebut. Pertumbuhan kristal menyebabkan lapisan deposit semakin tebal:

δs\delta_s \uparrow

di mana:

δs=scale thickness\delta_s = \text{scale thickness}

Semakin tebal scale, semakin besar tahanan termalnya:

Rscale=δsksR_{scale} = \frac{\delta_s}{k_s}

di mana:

ks=thermal conductivity scalek_s = \text{thermal conductivity scale}

5.4.4 Deposit Consolidation

Deposit yang awalnya relatif lunak dapat menjadi lebih keras akibat waktu operasi, temperatur, tekanan, dan reaksi lanjutan dengan corrosion product atau biofilm. Pada tahap ini, deposit semakin sulit dilepaskan dengan online cleaning biasa.

Secara operasional, ini berarti:

early scalelebih mudah dikendalikan online\text{early scale} \rightarrow \text{lebih mudah dikendalikan online}

sedangkan:

consolidated hard scalesering membutuhkan offline cleaning\text{consolidated hard scale} \rightarrow \text{sering membutuhkan offline cleaning}

5.5 Lokasi Rawan Scaling pada PHE

Pada PHE, scaling jarang terbentuk secara seragam sempurna di seluruh area plate. Deposit cenderung muncul terlebih dahulu di area yang memiliki distribusi aliran buruk atau kondisi lokal yang mendukung presipitasi.

Lokasi rawan meliputi:

  • inlet port cooling water;
  • area distribusi awal aliran;
  • channel dengan velocity rendah;
  • gasket groove;
  • area dekat dead zone;
  • area dengan maldistribution;
  • plate surface yang rough;
  • channel yang sebagian tersumbat debris;
  • area dengan biofilm atau sludge.

Lokasi-lokasi tersebut penting karena online cleaning sangat bergantung pada kemampuan aliran membawa chemical dan menghasilkan shear stress. Area dead zone dan channel yang sudah partially plugged akan lebih sulit mendapatkan treatment yang efektif.

Rendering diagram...

5.6 Efek Scaling terhadap Thermal Performance

Scaling bekerja sebagai tahanan panas tambahan. Pada kondisi clean, total thermal resistance dapat ditulis secara sederhana sebagai:

1Uclean=1hh+tpkp+1hc\frac{1}{U_{clean}} = \frac{1}{h_h} + \frac{t_p}{k_p} + \frac{1}{h_c}

Jika scaling terjadi pada sisi cooling water, maka:

1Uscaled=1hh+tpkp+1hc+Rscale\frac{1}{U_{scaled}} = \frac{1}{h_h} + \frac{t_p}{k_p} + \frac{1}{h_c} + R_{scale}

atau:

1Uscaled=1Uclean+Rscale\frac{1}{U_{scaled}} = \frac{1}{U_{clean}} + R_{scale}

Dengan:

Rscale=δsksR_{scale} = \frac{\delta_s}{k_s}

Jika:

RscaleR_{scale} \uparrow

maka:

1Uscaled\frac{1}{U_{scaled}} \uparrow

sehingga:

UscaledU_{scaled} \downarrow

Karena:

Q=UAΔTlmQ = U A \Delta T_{lm}

dan area plate tetap, maka penurunan UU menyebabkan:

UAUA \downarrow

dan pada driving force temperatur yang sama:

QQ \downarrow

Jika heat load process tetap tetapi heat removal turun, maka process outlet temperature akan cenderung naik:

Th,outT_{h,out} \uparrow

Namun, dalam kasus PHE Water Scrubber saat ini, data SCADA menunjukkan:

Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C

sedangkan design:

Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C

Karena outlet aktual lebih rendah dari design, dugaan scaling tidak boleh disimpulkan hanya dari data outlet temperature. Harus dihitung UAactualUA_{actual} dan dibandingkan dengan baseline.

5.7 Efek Scaling terhadap Hydraulic Performance

Selain efek termal, scale juga dapat mempersempit area aliran.

Jika deposit menumpuk di channel, maka effective flow area menurun:

AflowA_{flow} \downarrow

Untuk flow yang sama, velocity lokal dapat meningkat:

vlocalv_{local} \uparrow

Namun, pressure drop juga meningkat:

ΔP\Delta P \uparrow

Secara umum untuk fluida inkompresibel dalam sistem yang sama, pressure drop sering mengikuti kecenderungan:

ΔPm˙2\Delta P \propto \dot{m}^2

Namun pada kasus ini, differential pressure cooling water tidak tersedia:

ΔPCW=not available\Delta P_{CW} = \text{not available}

Karena itu, diagnosis hydraulic tidak dapat dilakukan secara lengkap. Engineer harus menggunakan parameter termal sebagai pengganti utama:

QactualQ_{actual}
ΔTCW\Delta T_{CW}
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAactualUA_{actual}
TapproachT_{approach}
UAactualUAclean\frac{UA_{actual}}{UA_{clean}}

5.8 Hubungan Scaling, Biofilm, dan Suspended Solid

Di lapangan, scaling sering tidak berdiri sendiri. Deposit pada sisi cooling water sering merupakan kombinasi antara mineral, biofilm, dan suspended solid.

Biofilm dapat berperan sebagai perekat:

biofilm+mineral particleadherent deposit\text{biofilm} + \text{mineral particle} \rightarrow \text{adherent deposit}

Suspended solid dapat menjadi inti nucleation:

suspended solid+CaCO3scale growth site\text{suspended solid} + CaCO_3 \rightarrow \text{scale growth site}

Corrosion product juga dapat menambah roughness dan menyediakan lokasi penempelan:

Fe2O3+mineralmixed depositFe_2O_3 + \text{mineral} \rightarrow \text{mixed deposit}

Karena itu, online cleaning tidak cukup hanya dengan antiscalant. Jika deposit mengandung biofilm atau sludge, strategi harus mencakup dispersant, biodispersant, biocide, dan removal melalui blowdown atau filtration.

5.9 Implikasi Mekanisme Scaling terhadap Strategi Online Cleaning

Mekanisme scaling memberikan dasar untuk strategi online cleaning. Jika scale terbentuk karena crystal growth, maka treatment harus menghentikan pertumbuhan kristal. Jika deposit melekat karena biofilm, maka biofilm harus dilemahkan. Jika partikel sudah terlepas, maka partikel harus dibuang dari sistem.

Secara ringkas:

scale growthantiscalant\text{scale growth} \Rightarrow \text{antiscalant}
particle redepositiondispersant\text{particle redeposition} \Rightarrow \text{dispersant}
biofilm bindingbiodispersant and biocide\text{biofilm binding} \Rightarrow \text{biodispersant and biocide}
loose deposithydraulic shear\text{loose deposit} \Rightarrow \text{hydraulic shear}
suspended depositfiltration and blowdown\text{suspended deposit} \Rightarrow \text{filtration and blowdown}

Maka konsep online cleaning yang logis adalah:

softendisperseshearremovemonitor\boxed{ \text{soften} \rightarrow \text{disperse} \rightarrow \text{shear} \rightarrow \text{remove} \rightarrow \text{monitor} }

Kembali ke Atas


6. Troubleshooting Saat Data Cooling Water Terbatas

6.1 Tantangan Instrumentasi Lapangan

Pada kasus PHE Water Scrubber, keterbatasan utama adalah data cooling water tidak lengkap. Flow cooling water tidak tersedia, differential pressure cooling water tidak tersedia, dan supply-return cooling water kembali ke header-line. Kondisi ini membatasi kemampuan engineer untuk melakukan hydraulic diagnosis secara langsung.

Kondisi aktual dapat diringkas sebagai berikut:

ItemStatus
Flow processtersedia atau dapat diambil dari SCADA
Process inlet temperaturetersedia di SCADA
Process outlet temperaturetersedia di SCADA
Cooling water flowtidak tersedia
Cooling water differential pressuretidak tersedia
Cooling water inlet temperatureperlu diambil lokal
Cooling water outlet temperatureperlu diambil lokal
Offline cleaningbelum memungkinkan
Plant statusrunning

Dengan keterbatasan tersebut, troubleshooting harus dilakukan menggunakan pendekatan:

thermal-based diagnosis\boxed{ \text{thermal-based diagnosis} }

bukan:

complete hydraulic diagnosis\boxed{ \text{complete hydraulic diagnosis} }

Artinya, evaluasi difokuskan pada perhitungan heat duty, LMTD, actual UA, approach temperature, dan trend performance.

6.2 Data Minimum yang Harus Dikumpulkan

Walaupun flow cooling water dan ΔPCW\Delta P_{CW} tidak tersedia, masih ada data minimum yang wajib dikumpulkan. Tanpa data ini, diagnosis akan kembali menjadi kualitatif dan tidak cukup kuat untuk pengambilan keputusan.

ParameterSumberKegunaan
Th,inT_{h,in}SCADAmenghitung process temperature drop dan LMTD
Th,outT_{h,out}SCADAmenghitung duty, approach, dan LMTD
m˙h\dot{m}_hSCADA atau flowmeterbasis perhitungan heat duty
Cp,hC_{p,h}datasheet, lab, atau simulationbasis perhitungan heat duty
Tc,inT_{c,in}local measurementmenghitung approach dan LMTD
Tc,outT_{c,out}local measurementmenghitung LMTD dan estimasi CW flow
pHlab atau analyzerindikasi scaling tendency
conductivitylab atau analyzerindikasi cycle of concentration
hardnesslabindikasi calcium carbonate scaling
alkalinitylabindikasi carbonate scaling
silicalabindikasi silica scale
TSSlabindikasi suspended solid fouling
ironlabindikasi corrosion product deposit
microbiologylabindikasi biofouling

Data temperatur lokal cooling water harus diambil dengan cara yang konsisten. Jika menggunakan portable temperature probe atau clamp-on sensor, metode pengukuran harus sama antara inlet dan outlet agar error relatif dapat dikurangi.

6.3 Perhitungan Heat Duty Aktual

Data SCADA sisi process menunjukkan:

Th,in=109CT_{h,in} = 109^\circ C

dan:

Th,out=56CT_{h,out} = 56^\circ C

Maka:

ΔTprocess=10956=53C\Delta T_{process} = 109 - 56 = 53^\circ C

Heat duty aktual dihitung dengan:

Qactual=m˙hCp,h(Th,inTh,out)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( T_{h,in} - T_{h,out} \right)

Dengan memasukkan data temperatur:

Qactual=m˙hCp,h(10956)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( 109 - 56 \right)
Qactual=m˙hCp,h(53)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( 53 \right)

Jika:

m˙h=kg/s\dot{m}_h = \text{kg/s}

dan:

Cp,h=kJ/kg.KC_{p,h} = \text{kJ/kg.K}

maka:

Qactual=kWQ_{actual} = \text{kW}

Catatan penting: tanpa m˙h\dot{m}_{h} dan Cp,hC_{p,h}, nilai QactualQ_{actual} belum dapat dihitung secara absolut. Yang baru dapat dihitung adalah process temperature drop.

6.4 Estimasi Cooling Water Flow

Jika temperatur cooling water inlet dan outlet tersedia, cooling water flow dapat diestimasi dari neraca panas:

Qactual=m˙CWCp,CW(Tc,outTc,in)Q_{actual} = \dot{m}_{CW} C_{p,CW} \left( T_{c,out} - T_{c,in} \right)

Sehingga:

m˙CW,estimated=QactualCp,CW(Tc,outTc,in)\dot{m}_{CW,estimated} = \frac{ Q_{actual} } { C_{p,CW} \left( T_{c,out} - T_{c,in} \right) }

Untuk cooling water:

Cp,CW4.18,kJ/kg.KC_{p,CW} \approx 4.18 , \text{kJ/kg.K}

Cooling water temperature rise didefinisikan sebagai:

ΔTCW=Tc,outTc,in\Delta T_{CW} = T_{c,out} - T_{c,in}

Maka:

m˙CW,estimated=QactualCp,CWΔTCW\dot{m}_{CW,estimated} = \frac{ Q_{actual} } { C_{p,CW} \Delta T_{CW} }

Interpretasi awal:

Jika:

ΔTCW\Delta T_{CW} \uparrow

dan process outlet temperature juga naik, maka kemungkinan terdapat keterbatasan flow cooling water.

Jika:

ΔTCW\Delta T_{CW} \downarrow

tetapi:

Th,outT_{h,out} \uparrow

maka kemungkinan masalahnya adalah penurunan UAUA, misalnya akibat scaling, fouling, biofilm, atau internal bypass.

Namun untuk kasus data saat ini, Th,outT_{h,out} aktual masih lebih rendah dari design. Oleh karena itu, interpretasi harus dilakukan terhadap trend, bukan satu snapshot data.

6.5 Perhitungan LMTD

Untuk PHE counter-current, temperature difference di kedua ujung exchanger adalah:

ΔT1=Th,inTc,out\Delta T_1 = T_{h,in} - T_{c,out}

dan:

ΔT2=Th,outTc,in\Delta T_2 = T_{h,out} - T_{c,in}

Dengan data process aktual:

Th,in=109CT_{h,in} = 109^\circ C
Th,out=56CT_{h,out} = 56^\circ C

maka:

ΔT1=109Tc,out\Delta T_1 = 109 - T_{c,out}

dan:

ΔT2=56Tc,in\Delta T_2 = 56 - T_{c,in}

LMTD dihitung sebagai:

ΔTlm=ΔT1ΔT2ln(ΔT1ΔT2)\Delta T_{lm} = \frac{ \Delta T_1 - \Delta T_2 } { \ln \left( \frac{\Delta T_1}{\Delta T_2} \right) }

atau:

ΔTlm=(109Tc,out)(56Tc,in)ln[109Tc,out56Tc,in]\Delta T_{lm} = \frac{ \left( 109 - T_{c,out} \right) - \left( 56 - T_{c,in} \right) } { \ln \left[ \frac{ 109 - T_{c,out} } { 56 - T_{c,in} } \right] }

Persamaan ini hanya valid jika:

ΔT1>0\Delta T_1 > 0

dan:

ΔT2>0\Delta T_2 > 0

Jika salah satu temperature difference mendekati nol atau bernilai negatif, maka data harus diperiksa ulang karena dapat menunjukkan salah baca temperatur, salah identifikasi inlet-outlet, atau kondisi crossing temperature yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

6.6 Perhitungan Actual Thermal Conductance

Setelah QactualQ_{actual} dan ΔTlm\Delta T_{lm} dihitung, actual thermal conductance dapat diperoleh:

UAactual=QactualΔTlmUA_{actual} = \frac{ Q_{actual} } { \Delta T_{lm} }

Nilai ini menjadi parameter utama untuk menentukan apakah performance PHE menurun.

Jika clean baseline tersedia:

Performance Ratio=UAactualUAclean\text{Performance Ratio} = \frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} }

Jika yang tersedia hanya design data, maka dapat digunakan sementara:

Design-Based Ratio=UAactualUAdesign\text{Design-Based Ratio} = \frac{ UA_{actual} } { UA_{design} }

Namun, perbandingan terhadap design harus dilakukan dengan hati-hati karena design case belum tentu sama dengan actual operating case.

Performance loss dihitung sebagai:

Performance Loss=(1UAactualUAclean)×100%\text{Performance Loss} = \left( 1 - \frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } \right) \times 100\%

Jika:

UAactualUAclean=0.83\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } = 0.83

maka:

Performance Loss=17%\text{Performance Loss} = 17\%

Namun, angka 17% harus berasal dari perhitungan UAUA, bukan dari selisih process temperature drop.

6.7 Approach Temperature sebagai Parameter Harian

Approach temperature adalah parameter sederhana yang dapat dipakai untuk monitoring harian.

Tapproach=Th,outTc,inT_{approach} = T_{h,out} - T_{c,in}

Untuk data aktual:

Tapproach=56Tc,inT_{approach} = 56 - T_{c,in}

Jika misalnya:

Tc,in=32CT_{c,in} = 32^\circ C

maka:

Tapproach=5632=24CT_{approach} = 56 - 32 = 24^\circ C

Approach temperature harus dibandingkan dengan baseline pada kondisi operasi yang comparable. Jika approach meningkat secara bertahap, dapat menjadi indikasi performance menurun.

Namun, approach juga harus dibaca bersama QactualQ_{actual} dan UAactualUA_{actual} karena approach dipengaruhi oleh cooling water inlet temperature dan process load.

6.8 Diagnostic Matrix Tanpa Differential Pressure Cooling Water

Karena ΔPCW\Delta P_{CW} tidak tersedia, diagnosis dilakukan menggunakan kombinasi parameter termal.

Gejala KuantitatifInterpretasi UtamaArah Pemeriksaan
Th,outT_{h,out} naik dan ΔTCW\Delta T_{CW} tinggiflow cooling water kemungkinan rendahvalve, bypass, header differential, air lock
Th,outT_{h,out} naik dan ΔTCW\Delta T_{CW} rendahUAUA kemungkinan rendahscaling, fouling, biofilm, internal bypass
UA/UAcleanUA/UA_{clean} turun bertahapfouling atau scaling progresifonline chemical recovery
UA/UAcleanUA/UA_{clean} turun mendadakblockage atau line-up berubahvalve, strainer, air pocket
TapproachT_{approach} naikcooling effectiveness turunscaling, low flow, maldistribution
TSS atau turbidity naikdeposit terlepas atau CW kotorfiltration dan blowdown
ΔTprocess\Delta T_{process} aktual lebih besar dari designbelum tentu scalingcek flow, CpC_p, CW temperature, load
Th,outT_{h,out} aktual lebih rendah dari designbelum tentu PHE bersihcek UAUA, LMTD, dan load

Matrix ini harus digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti perhitungan. Keputusan tetap harus dikaitkan dengan angka QQ, ΔTlm\Delta T_{lm}, dan UAUA.

6.9 Alur Troubleshooting Kuantitatif

Alur troubleshooting yang disarankan adalah sebagai berikut.

Rendering diagram...

Alur tersebut menjaga agar troubleshooting tetap objektif. Setiap langkah harus menghasilkan angka, bukan hanya kesan lapangan.

6.10 Batasan Evaluasi Tanpa Flow dan Pressure

Tanpa flow cooling water dan differential pressure cooling water, terdapat batasan yang harus dinyatakan secara jelas.

Diagnosis yang dapat dilakukan:

thermal-based diagnosis\text{thermal-based diagnosis}

Diagnosis yang belum lengkap:

complete hydraulic diagnosis\text{complete hydraulic diagnosis}

Artinya, engineer dapat menilai apakah performance termal menurun, tetapi belum dapat secara penuh memastikan hydraulic restriction tanpa data tambahan seperti:

m˙CW\dot{m}_{CW}

atau:

ΔPCW\Delta P_{CW}

Walaupun demikian, perhitungan berikut tetap sangat berguna:

QactualQ_{actual}
ΔTCW\Delta T_{CW}
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAactualUA_{actual}
TapproachT_{approach}
UAactualUAclean\frac{UA_{actual}}{UA_{clean}}

Parameter tersebut cukup untuk menentukan apakah online cleaning layak dicoba, apakah chemical treatment perlu dikoreksi, atau apakah masalah lebih mungkin berasal dari line-up dan flow limitation.

6.11 Minimum Field Data Sheet untuk Keputusan Awal

Untuk membuat keputusan awal, engineer lapangan sebaiknya mengisi data minimum berikut.

ParameterUnitNilai AktualCatatan
Th,inT_{h,in}C^\circ C109dari SCADA
Th,outT_{h,out}C^\circ C56dari SCADA
ΔTprocess\Delta T_{process}C^\circ C53hasil perhitungan
m˙h\dot{m}_hkg/s atau kg/hTBDwajib dikonfirmasi
Cp,hC_{p,h}kJ/kg.KTBDdari datasheet atau lab
Tc,inT_{c,in}C^\circ CTBDukur lokal
Tc,outT_{c,out}C^\circ CTBDukur lokal
ΔTCW\Delta T_{CW}C^\circ CTBDhasil perhitungan
QactualQ_{actual}kWTBDhasil perhitungan
ΔTlm\Delta T_{lm}C^\circ CTBDhasil perhitungan
UAactualUA_{actual}kW/KTBDhasil perhitungan
UA/UAcleanUA/UA_{clean}-TBDindikator performance

Kata “TBD” dalam tabel bukan sekadar placeholder administratif. Itu adalah data gap yang harus ditutup sebelum menyimpulkan performance loss atau efektivitas online cleaning.

6.12 Kesimpulan Bab 5 dan Bab 6

Scaling pada sisi cooling water terjadi melalui mekanisme supersaturation, nucleation, crystal growth, dan deposit consolidation. Deposit tersebut menambah thermal resistance:

Rscale=δsksR_{scale} = \frac{\delta_s}{k_s}

dan menyebabkan:

UU \downarrow
UAUA \downarrow
QQ \downarrow

pada driving force yang sama.

Namun, pada kasus PHE Water Scrubber saat ini, data process menunjukkan:

Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C

lebih rendah dari design:

Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C

Karena itu, scaling tidak boleh disimpulkan hanya dari satu data temperature snapshot. Evaluasi harus dilanjutkan dengan menghitung:

QactualQ_{actual}
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAactualUA_{actual}

dan membandingkannya terhadap:

UAcleanUA_{clean}

atau baseline yang comparable.

Dengan keterbatasan flow cooling water dan ΔPCW\Delta P_{CW}, pendekatan yang benar adalah:

thermal-based troubleshooting\boxed{ \text{thermal-based troubleshooting} }

menggunakan data process, data temperatur cooling water lokal, chemistry cooling water, dan trend performance. Hanya dengan pendekatan ini keputusan online cleaning dapat dibuat secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kembali ke Atas


7. Konsep Online Cleaning Saat Plant Tetap Jalan

7.1 Perbedaan Offline Cleaning dan Online Cleaning

Pada kondisi ideal, PHE yang mengalami scaling dibersihkan dengan metode offline cleaning atau Cleaning in Place. PHE dihentikan, diisolasi, di-drain, kemudian dilakukan chemical cleaning secara terkontrol. Metode tersebut memberikan peluang cleaning yang lebih menyeluruh karena chemical dapat difokuskan hanya ke sisi yang bermasalah.

Namun, pada kasus PHE Water Scrubber, kondisi ideal tersebut tidak tersedia. Plant tetap berjalan, PHE tetap menerima process fluid dan cooling water, serta offline cleaning belum memungkinkan. Oleh karena itu, strategi yang digunakan bukan lagi perfect cleaning, tetapi online recovery.

Perbedaan prinsipnya adalah sebagai berikut:

AspekOffline CleaningOnline Cleaning
Status plantPHE stopPlant tetap running
Isolasi PHEYaTidak
Process fluidTidak mengalirTetap mengalir
Cooling waterDiisolasi atau disirkulasi khususTetap masuk sistem cooling water
Chemical strengthBisa lebih kuat dan spesifikHarus aman untuk seluruh sistem
Target utamaMembersihkan deposit semaksimal mungkinRecovery bertahap dan menahan degradasi
Risiko ke user lainRendah karena sistem terisolasiAda, karena chemical masuk jaringan cooling water
Verifikasi hasilInspection dan performance testTrend UAUA, TapproachT_{approach}, Th,outT_{h,out}, dan chemistry

Secara sederhana, offline cleaning menjawab pertanyaan:

Bagaimana membersihkan PHE secara maksimal?\text{Bagaimana membersihkan PHE secara maksimal?}

Sedangkan online cleaning menjawab pertanyaan:

Bagaimana memulihkan sebagian performance tanpa menghentikan plant?\text{Bagaimana memulihkan sebagian performance tanpa menghentikan plant?}

Diagram berikut menunjukkan perbedaan alur kedua metode.

Rendering diagram...

Untuk kondisi plant tetap berjalan, online cleaning harus dipandang sebagai strategi risk-controlled performance recovery. Engineer lapangan harus memahami bahwa hasilnya mungkin tidak mengembalikan PHE ke kondisi benar-benar clean, tetapi dapat menahan laju degradasi dan memulihkan sebagian kemampuan perpindahan panas.

7.2 Target Realistis Online Cleaning

Target online cleaning tidak boleh disamakan dengan offline cleaning. Pada offline cleaning, targetnya adalah menghilangkan deposit semaksimal mungkin. Pada online cleaning, targetnya adalah mengubah kondisi operasi dan chemistry agar deposit tidak terus tumbuh, deposit yang masih lunak dapat dilemahkan, dan partikel yang terlepas dapat dikeluarkan dari sistem.

Target online cleaning adalah:

stop further scale growth\text{stop further scale growth}
soften existing deposit\text{soften existing deposit}
disperse loosened particles\text{disperse loosened particles}
increase hydraulic shear\text{increase hydraulic shear}
remove detached solids\text{remove detached solids}
recover part of lost UA\text{recover part of lost } UA

Secara performance, jika sebelumnya terbukti dari perhitungan bahwa:

UAactualUAclean=0.83\frac{UA_{actual}}{UA_{clean}} = 0.83

maka online cleaning yang berhasil tidak harus langsung menghasilkan:

UAafterUAclean=1.00\frac{UA_{after}}{UA_{clean}} = 1.00

Target realistis dapat berupa recovery bertahap, misalnya:

UAafterUAclean=0.88 sampai 0.95\frac{UA_{after}}{UA_{clean}} = 0.88 \text{ sampai } 0.95

Tentu target aktual harus ditetapkan berdasarkan criticality equipment, operating margin, cooling water chemistry, dan historis performa PHE.

Yang penting adalah online cleaning harus menghasilkan perubahan yang terukur, misalnya:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

atau:

Tapproach,after<Tapproach,beforeT_{approach,after} < T_{approach,before}

atau:

Th,out,after bergerak ke arah target operasiT_{h,out,after} \text{ bergerak ke arah target operasi}

Jika tidak ada perubahan pada UAUA, maka online cleaning belum terbukti efektif.

7.3 Formula Konsep Online Cleaning

Konsep online cleaning yang digunakan dalam artikel ini adalah:

softendisperseshearremovemonitor\boxed{ \text{soften} \rightarrow \text{disperse} \rightarrow \text{shear} \rightarrow \text{remove} \rightarrow \text{monitor} }

Dalam bahasa operasi:

lunakkan deposit, jaga tetap tersuspensi, lepaskan dengan aliran, buang dari sistem, lalu ukur recovery\boxed{ \text{lunakkan deposit, jaga tetap tersuspensi, lepaskan dengan aliran, buang dari sistem, lalu ukur recovery} }

Makna setiap tahap adalah sebagai berikut.

TahapMakna PraktisParameter yang Dipantau
soften\text{soften}melemahkan deposit aktif dan menurunkan scaling tendencypH, alkalinity, hardness, inhibitor residual
disperse\text{disperse}mencegah partikel menempel ulangTSS, turbidity, dispersant residual
shear\text{shear}meningkatkan gaya geser untuk melepas deposit lemahvalve line-up, flow tendency, Th,outT_{h,out}
remove\text{remove}membuang partikel dari sistemblowdown, filter loading, strainer condition
monitor\text{monitor}membuktikan recovery secara angkaQQ, ΔTlm\Delta T_{lm}, UAUA, TapproachT_{approach}

Diagram berikut merangkum konsep online cleaning dalam bentuk alur vertikal.

Rendering diagram...

Konsep ini penting karena online cleaning bukan sekadar “menambah chemical”. Jika chemical hanya melemahkan deposit tetapi tidak ada removal path, deposit dapat terlepas lalu beredar di cooling water system dan menempel ulang di PHE atau equipment lain.

Secara konseptual:

deposit detachedsuspended solidmust be removed\text{deposit detached} \rightarrow \text{suspended solid} \rightarrow \text{must be removed}

Jika tidak dibuang:

suspended solidredeposition\text{suspended solid} \rightarrow \text{redeposition}

Maka online cleaning harus selalu dikombinasikan dengan blowdown, filtration, atau strainer cleaning.

7.4 Batasan Fundamental Online Cleaning

Online cleaning memiliki batas kemampuan. Metode ini paling efektif bila deposit masih berupa:

early-stage scale\text{early-stage scale}
soft deposit\text{soft deposit}
loose mineral deposit\text{loose mineral deposit}
biofilm-mineral fouling\text{biofilm-mineral fouling}
sludge ringan\text{sludge ringan}

Online cleaning kurang efektif bila deposit sudah menjadi:

hard consolidated scale\text{hard consolidated scale}
silica scale\text{silica scale}
severe plugging\text{severe plugging}
fully blocked channel\text{fully blocked channel}
deposit behind dead zone\text{deposit behind dead zone}

Pada kondisi scale yang sudah sangat keras, online cleaning sering hanya mampu menahan degradasi lebih lanjut, bukan mengembalikan UAUA ke kondisi clean.

Oleh karena itu, online cleaning harus dilihat sebagai strategi untuk:

buy operating time\text{buy operating time}

dan:

stabilize performance until opportunity shutdown\text{stabilize performance until opportunity shutdown}

bukan sebagai pengganti permanen dari offline inspection bila indikasi internal plugging atau hard scale sudah kuat.

7.5 Parameter Keberhasilan Online Cleaning

Keberhasilan online cleaning tidak boleh dinilai dari kesan visual saja. Harus ada indikator kuantitatif.

Parameter utama adalah:

UAactualUA_{actual}
TapproachT_{approach}
Th,outT_{h,out}
ΔTCW\Delta T_{CW}
TSSTSS
turbidity\text{turbidity}
chemical residual\text{chemical residual}

Indikasi positif online cleaning adalah:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}
Tapproach,after<Tapproach,beforeT_{approach,after} < T_{approach,before}
TSS naik sementara lalu turunTSS \text{ naik sementara lalu turun}
turbidity naik sementara lalu turun\text{turbidity naik sementara lalu turun}
chemical residual stabil\text{chemical residual stabil}

Kenaikan sementara TSSTSS atau turbidity dapat menjadi tanda deposit mulai terlepas. Namun, kenaikan tersebut hanya positif bila diikuti dengan removal melalui blowdown atau filtration.

7.6 Prinsip Keselamatan Online Cleaning

Karena plant tetap berjalan, online cleaning harus dikendalikan ketat. Chemical yang dimasukkan ke cooling water system dapat berdampak pada equipment lain, bukan hanya PHE Water Scrubber.

Prinsip keselamatan yang harus dipenuhi adalah:

  • chemical compatible dengan material plate;
  • chemical compatible dengan gasket;
  • tidak menyebabkan pH ekstrem;
  • tidak menyebabkan corrosion excursion;
  • tidak menyebabkan release deposit terlalu cepat;
  • tidak mengganggu user cooling water lain;
  • tidak menyebabkan plugging downstream;
  • tidak dilakukan tanpa target residual dan monitoring.

Tindakan yang harus dihindari adalah acid shock lokal tanpa engineering review. Khusus PHE dengan stainless steel plate, chemical yang mengandung chloride atau acid kuat dapat meningkatkan risiko:

pitting corrosion\text{pitting corrosion}
crevice corrosion\text{crevice corrosion}
gasket degradation\text{gasket degradation}

Maka online cleaning harus dilakukan sebagai program terkontrol, bukan tindakan spontan.

Kembali ke Atas


8. Metode Online Cleaning yang Direkomendasikan

8.1 Optimasi Cooling Water Chemistry

Langkah pertama online cleaning adalah memastikan cooling water chemistry berada dalam window yang tidak mempercepat scaling. Jika chemistry tetap buruk, maka online cleaning hanya memberikan hasil sementara.

Parameter yang perlu dikontrol meliputi:

ParameterFungsi
pHmengontrol kecenderungan carbonate scaling dan corrosion
conductivityindikasi cycle of concentration
hardnessindikasi potensi CaCO3CaCO_3 dan MgMg deposit
alkalinityindikasi carbonate/bicarbonate system
silicaindikasi silica scaling
TSSindikasi suspended solid fouling
ironindikasi corrosion product
microbiological activityindikasi biofouling
residual inhibitormemastikan scale inhibitor efektif
residual biocidememastikan kontrol mikrobiologi
cycle of concentrationmengontrol akumulasi mineral

Tindakan utama yang dapat dilakukan adalah:

  • increase blowdown bila conductivity tinggi;
  • controlled pH adjustment;
  • optimasi residual antiscalant;
  • optimasi dispersant;
  • koreksi biocide program;
  • evaluasi side-stream filtration;
  • verifikasi dosing pump dan injection point;
  • cek apakah chemical residual benar-benar sampai ke cooling water header.

Secara konsep, scaling tendency meningkat bila mineral terkonsentrasi:

cycle of concentrationdissolved solidsscaling tendency\text{cycle of concentration} \uparrow \Rightarrow \text{dissolved solids} \uparrow \Rightarrow \text{scaling tendency} \uparrow

Maka blowdown menjadi salah satu kontrol penting:

blowdownconductivityscaling tendency\text{blowdown} \uparrow \Rightarrow \text{conductivity} \downarrow \Rightarrow \text{scaling tendency} \downarrow

Namun blowdown harus dikendalikan agar tidak mengganggu water balance dan chemical residual.

8.2 Shock Dosing Antiscalant

Shock dosing antiscalant bertujuan menghentikan pertumbuhan scale aktif dan melemahkan kecenderungan mineral untuk menempel pada plate.

Tujuan utama:

crystal growth\text{crystal growth} \downarrow
crystal distortion\text{crystal distortion} \uparrow
adhesion to plate\text{adhesion to plate} \downarrow
new scale formation\text{new scale formation} \downarrow

Chemical yang umum digunakan meliputi:

  • phosphonate-based inhibitor;
  • polymer-based antiscalant;
  • polyacrylate;
  • polymaleate;
  • threshold inhibitor;
  • deposit conditioner.

Mekanisme antiscalant bukan selalu melarutkan scale yang sudah keras. Banyak antiscalant bekerja dengan cara mengganggu pertumbuhan kristal sehingga kristal menjadi tidak stabil, tidak mudah melekat, dan lebih mudah terbawa aliran.

Secara konseptual:

Ca2++CO32CaCO3Ca^{2+} + CO_3^{2-} \rightarrow CaCO_3 \downarrow

Dengan antiscalant:

crystal growthdistorted crystal\text{crystal growth} \rightarrow \text{distorted crystal}

dan:

adhesion force\text{adhesion force} \downarrow

Shock dosing tidak boleh dilakukan tanpa target. Parameter yang harus dicatat:

ParameterKeterangan
chemical namenama produk
active componentbasis kimia
dosing ratelaju dosing
start timewaktu mulai
stop timewaktu selesai
target residualresidual yang diinginkan
actual residualhasil analisis aktual
pH responseperubahan pH
conductivity responseperubahan conductivity
turbidity responseindikasi deposit terlepas
UAUA responsebukti performance recovery

Tanpa data residual dan trend UAUA, shock dosing hanya menjadi aktivitas kimia tanpa bukti engineering.

8.3 Dispersant Dosing

Dispersant digunakan untuk menjaga partikel yang sudah terlepas tetap tersuspensi dalam cooling water. Ini sangat penting karena deposit yang terlepas tetapi tidak stabil dalam suspensi dapat menempel ulang di area lain.

Secara konsep:

loose deposit+dispersantsuspended particle\text{loose deposit} + \text{dispersant} \rightarrow \text{suspended particle}

Tujuan dispersant dosing adalah:

  • mencegah redeposition;
  • menjaga partikel terbawa aliran;
  • membantu removal melalui blowdown atau filter;
  • mengurangi sludge accumulation;
  • menjaga channel PHE tidak cepat tertutup kembali.

Tanpa dispersant, mekanisme yang mungkin terjadi adalah:

deposit detachedfloating particleredeposition\text{deposit detached} \rightarrow \text{floating particle} \rightarrow \text{redeposition}

Dengan dispersant yang efektif:

deposit detachedstable suspensionremoved by blowdown or filtration\text{deposit detached} \rightarrow \text{stable suspension} \rightarrow \text{removed by blowdown or filtration}

Parameter monitoring dispersant meliputi:

TSSTSS
turbidity\text{turbidity}
filter loading\text{filter loading}
strainer condition\text{strainer condition}
UAactualUA_{actual}

Kenaikan sementara TSSTSS dan turbidity setelah dosing dapat menjadi indikasi partikel mulai terlepas. Namun, jika TSSTSS terus tinggi dan tidak diikuti removal, risiko fouling ulang meningkat.

8.4 Biodispersant dan Biocide

Dalam cooling water system, deposit pada PHE sering bukan mineral murni. Biofilm dapat menjadi lapisan perekat yang menahan mineral, suspended solid, dan corrosion product pada plate.

Mekanisme deposit campuran dapat ditulis sebagai:

biofilm+mineraladherent deposit\text{biofilm} + \text{mineral} \rightarrow \text{adherent deposit}

atau:

biofilm+suspended solid+iron oxidemixed fouling layer\text{biofilm} + \text{suspended solid} + \text{iron oxide} \rightarrow \text{mixed fouling layer}

Jika biofilm berperan, antiscalant saja sering tidak cukup. Diperlukan biodispersant dan biocide.

Mekanisme online treatment:

biodispersantbiofilm matrix weakened\text{biodispersant} \rightarrow \text{biofilm matrix weakened}
biocidemicrobial activity reduced\text{biocide} \rightarrow \text{microbial activity reduced}
dispersantreleased particles suspended\text{dispersant} \rightarrow \text{released particles suspended}

Urutan yang direkomendasikan:

  1. lakukan biodispersant untuk membuka matrix biofilm;
  2. lakukan biocide shock sesuai program water treatment;
  3. dukung dengan dispersant agar partikel yang lepas tidak redeposit;
  4. tingkatkan blowdown atau filtration;
  5. monitor TSSTSS, turbidity, residual biocide, dan UAUA.

Indikasi biofouling antara lain:

  • deposit berlendir;
  • sample cooling water berbau;
  • turbidity meningkat;
  • microbiological count tinggi;
  • chlorine demand meningkat;
  • strainer cepat kotor;
  • performance turun bertahap.

8.5 Controlled pH Adjustment

Untuk calcium carbonate scaling, pH sangat berpengaruh terhadap keseimbangan carbonate.

Reaksi pembentukan calcium carbonate:

Ca2++CO32CaCO3Ca^{2+} + CO_3^{2-} \rightarrow CaCO_3 \downarrow

Saat pH tinggi, konsentrasi carbonate ion meningkat:

CO32CO_3^{2-} \uparrow

sehingga kecenderungan pembentukan CaCO3CaCO_3 meningkat.

Dengan controlled pH adjustment, sebagian carbonate dapat dikonversi menjadi bicarbonate:

CO32+H+HCO3CO_3^{2-} + H^+ \rightarrow HCO_3^-

Akibatnya:

scaling tendency\text{scaling tendency} \downarrow

Namun, controlled pH adjustment bukan berarti acid shock lokal. Penurunan pH harus dilakukan dalam operating window cooling water system dan harus mempertimbangkan corrosion control.

Catatan penting:

  • jangan melakukan acid shock lokal ke branch PHE;
  • jangan menurunkan pH secara ekstrem;
  • pastikan corrosion monitoring;
  • pastikan compatibility dengan material plate dan gasket;
  • pastikan dampak ke user cooling water lain dievaluasi;
  • koordinasikan dengan water treatment specialist.

Untuk stainless steel plate, risiko corrosion harus diperhatikan, terutama jika terdapat chloride. Lingkungan low pH dan chloride dapat meningkatkan risiko:

chloride-induced pitting\text{chloride-induced pitting}

dan:

crevice corrosion\text{crevice corrosion}

8.6 Increase Cooling Water Velocity

Deposit yang masih lunak atau belum terkonsolidasi keras dapat dilepas dengan meningkatkan hydraulic shear.

Tujuan utama:

vCWv_{CW} \uparrow
τw\tau_w \uparrow
deposit detachment\text{deposit detachment} \uparrow

di mana:

vCW=cooling water velocityv_{CW} = \text{cooling water velocity}

dan:

τw=wall shear stress\tau_w = \text{wall shear stress}

Secara sederhana, semakin tinggi velocity, semakin besar gaya geser di dekat permukaan plate. Gaya geser ini dapat membantu melepas loose deposit, slime, atau scale yang sudah dilemahkan oleh chemical treatment.

Tindakan lapangan:

  • cek valve line-up cooling water;
  • pastikan inlet dan outlet valve berada pada posisi benar;
  • pastikan bypass tidak mencuri flow;
  • koordinasikan kenaikan header differential dengan utility;
  • cek apakah return header memiliki back pressure tinggi;
  • optimasi distribusi cooling water ke user critical;
  • lakukan perubahan secara bertahap.

Penting: peningkatan velocity harus dilakukan dalam batas desain PHE dan sistem piping. Perubahan mendadak dapat menyebabkan water hammer atau process upset.

8.7 Flow Cycling atau Hydraulic Pulsing

Flow cycling adalah perubahan flow cooling water secara terkendali untuk menghasilkan variasi shear stress.

Konsepnya:

normal flowhigher flownormal flow\text{normal flow} \rightarrow \text{higher flow} \rightarrow \text{normal flow}

Tujuannya:

variable shear stress\text{variable shear stress}
deposit adhesion weakened\text{deposit adhesion weakened}
loose deposit detached\text{loose deposit detached}

Flow cycling bermanfaat jika deposit masih relatif lunak atau berupa sludge dan biofilm-mineral deposit. Namun, untuk hard crystalline scale, efeknya terbatas.

Prinsip pelaksanaan:

  • perubahan valve dilakukan perlahan;
  • operator panel memonitor Th,outT_{h,out};
  • jangan membuat step change yang tajam;
  • hindari water hammer;
  • hindari thermal shock;
  • pastikan tidak menyebabkan process temperature excursion;
  • catat waktu dan respons temperatur.

Diagram berikut menggambarkan konsep flow cycling.

Rendering diagram...

8.8 Online Reverse Flushing Jika Memungkinkan

Online reverse flushing dapat dipertimbangkan jika konfigurasi piping memungkinkan dan risiko operasi dapat dikendalikan. Prinsipnya adalah membalik arah aliran cooling water melalui PHE untuk membantu melepas deposit atau debris yang tertahan di inlet port dan channel awal.

Arah normal:

CWinPHECWoutCW_{in} \rightarrow PHE \rightarrow CW_{out}

Arah reverse:

CWoutPHECWinCW_{out} \rightarrow PHE \rightarrow CW_{in}

Tujuan reverse flushing:

  • melepas debris pada port inlet;
  • mengangkat sludge;
  • mengganggu deposit yang terbentuk pada arah flow normal;
  • memperbaiki partial blockage ringan;
  • membawa loose deposit keluar dari channel.

Namun, metode ini hanya boleh dilakukan bila memenuhi syarat:

  • tersedia jalur drain atau filter;
  • debris tidak dikembalikan ke supply header;
  • tidak mengganggu user cooling water lain;
  • tidak menyebabkan water hammer;
  • process temperature tetap aman;
  • valve line-up jelas;
  • operator memahami urutan tindakan;
  • prosedur tertulis tersedia.

Jika reverse flushing hanya memindahkan debris ke supply header atau user lain, maka metode ini tidak boleh dilakukan.

Rendering diagram...

8.9 Side-Stream Filtration dan Blowdown

Online cleaning tidak lengkap tanpa removal path. Setiap tindakan yang melemahkan deposit berpotensi menghasilkan partikel tersuspensi. Jika partikel tidak dibuang, maka partikel dapat redeposit di PHE atau equipment lain.

Tanpa removal path:

deposit lepasberedarredeposit\text{deposit lepas} \rightarrow \text{beredar} \rightarrow \text{redeposit}

Dengan removal path:

deposit lepassuspended solidremoved by filtration or blowdown\text{deposit lepas} \rightarrow \text{suspended solid} \rightarrow \text{removed by filtration or blowdown}

Metode removal yang dapat digunakan:

  • increase blowdown;
  • side-stream filtration;
  • temporary bag filter;
  • cartridge filter;
  • automatic backwash filter;
  • strainer cleaning;
  • sampling TSSTSS dan turbidity.

Parameter yang harus dipantau:

TSSTSS
turbidity\text{turbidity}
filter differential pressure\text{filter differential pressure}
strainer loading\text{strainer loading}
conductivity\text{conductivity}
UAactualUA_{actual}

Jika TSSTSS naik setelah chemical dosing, lalu turun setelah blowdown atau filtration, ini dapat menjadi indikasi bahwa deposit berhasil dilepas dan dibuang.

Jika TSSTSS tetap tinggi, maka sistem mungkin kekurangan removal capacity atau deposit terus terlepas dalam jumlah besar.

8.10 Integrasi Metode Online Cleaning

Setiap metode online cleaning tidak boleh dipandang terpisah. Efektivitasnya muncul dari kombinasi chemical control, hydraulic action, dan solids removal.

Alur integrasi yang direkomendasikan:

Rendering diagram...

Prinsipnya, chemical melemahkan atau mengendalikan deposit, hydraulic shear membantu melepaskan deposit, dan filtration/blowdown membuang partikel dari sistem. Setelah itu, keberhasilan harus dibuktikan melalui perhitungan performance.

8.11 Parameter Evaluasi Setelah Online Cleaning

Setelah program online cleaning dijalankan, engineer harus menghitung ulang parameter berikut:

Qafter=m˙hCp,h(Th,in,afterTh,out,after)Q_{after} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( T_{h,in,after} - T_{h,out,after} \right)
ΔTlm,after=ΔT1,afterΔT2,afterln(ΔT1,afterΔT2,after)\Delta T_{lm,after} = \frac{ \Delta T_{1,after} - \Delta T_{2,after} } { \ln \left( \frac{\Delta T_{1,after}}{\Delta T_{2,after}} \right) }
UAafter=QafterΔTlm,afterUA_{after} = \frac{ Q_{after} } { \Delta T_{lm,after} }

Kemudian bandingkan dengan kondisi sebelum online cleaning:

ΔUA=UAafterUAbefore\Delta UA = UA_{after} - UA_{before}

Jika:

ΔUA>0\Delta UA > 0

maka terdapat recovery thermal conductance.

Performance recovery dapat ditulis sebagai:

Recovery=UAafterUAbeforeUAclean×100%\text{Recovery} = \frac{ UA_{after} - UA_{before} } { UA_{clean} } \times 100\%

Jika clean baseline belum tersedia, gunakan baseline sementara dari kondisi terbaik historis dengan catatan engineering yang jelas.

8.12 Kesimpulan Bab 7 dan Bab 8

Pada kondisi plant tetap berjalan, online cleaning bukan pengganti penuh offline cleaning. Online cleaning adalah strategi recovery bertahap yang harus dilakukan secara terkendali.

Konsep utamanya adalah:

softendisperseshearremovemonitor\boxed{ \text{soften} \rightarrow \text{disperse} \rightarrow \text{shear} \rightarrow \text{remove} \rightarrow \text{monitor} }

Metode yang direkomendasikan meliputi:

  • optimasi cooling water chemistry;
  • shock dosing antiscalant;
  • dispersant dosing;
  • biodispersant dan biocide bila ada indikasi biofilm;
  • controlled pH adjustment;
  • increase cooling water velocity;
  • flow cycling;
  • online reverse flushing bila aman dan memungkinkan;
  • side-stream filtration;
  • blowdown;
  • monitoring UAUA, TapproachT_{approach}, TSSTSS, turbidity, dan chemical residual.

Keberhasilan online cleaning harus dibuktikan dengan:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

dan bukan hanya berdasarkan kesan visual atau asumsi bahwa chemical sudah ditambahkan.

Dengan pendekatan ini, engineer-praktisi lapangan dapat menjalankan program online recovery secara terukur, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kembali ke Atas


9. Sequence Online Cleaning yang Direkomendasikan

Online cleaning tidak boleh dilakukan sebagai tindakan reaktif tanpa baseline. Urutan kerja harus dibuat sistematis agar setiap tindakan memiliki tujuan, parameter target, dan bukti keberhasilan. Dalam konteks PHE Water Scrubber, sequence online cleaning harus dimulai dari data aktual yang tersedia, lalu dilengkapi dengan data lokal dan data chemical treatment.

Tujuan utama sequence ini adalah memastikan bahwa tindakan online cleaning dapat menjawab tiga pertanyaan penting:

Apa kondisi awal PHE?\text{Apa kondisi awal PHE?}
Apa tindakan korektif yang dilakukan?\text{Apa tindakan korektif yang dilakukan?}
Apakah performance benar-benar membaik setelah tindakan?\text{Apakah performance benar-benar membaik setelah tindakan?}

Alur besar sequence online cleaning adalah sebagai berikut.

Rendering diagram...

9.1 Step 1 — Establish Baseline

Langkah pertama adalah membuat baseline aktual. Baseline bukan hanya data temperatur, tetapi kondisi operasi lengkap sebelum online cleaning dimulai.

Data awal yang sudah tersedia dari SCADA adalah:

Th,in=109CT_{h,in} = 109^\circ C
Th,out=56CT_{h,out} = 56^\circ C

Maka:

ΔTprocess=Th,inTh,out\Delta T_{process} = T_{h,in} - T_{h,out}
ΔTprocess=10956=53C\Delta T_{process} = 109 - 56 = 53^\circ C

Data ini penting, tetapi belum cukup. Agar performance dapat dihitung, data tambahan yang harus dikumpulkan adalah:

m˙h\dot{m}_h
Cp,hC_{p,h}
Tc,inT_{c,in}
Tc,outT_{c,out}

Dengan data tersebut, engineer dapat menghitung:

QactualQ_{actual}
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAactualUA_{actual}
TapproachT_{approach}
UAactualUAclean\frac{UA_{actual}}{UA_{clean}}

Baseline yang benar harus mencakup minimal parameter berikut.

ParameterUnitStatusFungsi
Th,inT_{h,in}C^\circ Ctersediabasis duty dan LMTD
Th,outT_{h,out}C^\circ Ctersediabasis duty dan approach
ΔTprocess\Delta T_{process}C^\circ Ctersediaindikasi pendinginan process
m˙h\dot{m}_hkg/s atau kg/hperlu dikonfirmasibasis heat duty
Cp,hC_{p,h}kJ/kg.Kperlu dikonfirmasibasis heat duty
Tc,inT_{c,in}C^\circ Cperlu diambil lokalbasis approach dan LMTD
Tc,outT_{c,out}C^\circ Cperlu diambil lokalbasis LMTD dan estimasi CW flow
QactualQ_{actual}kWperlu dihitungheat duty aktual
ΔTlm\Delta T_{lm}C^\circ Cperlu dihitungdriving force temperatur
UAactualUA_{actual}kW/Kperlu dihitungindikator utama performance
UA/UAcleanUA/UA_{clean}-perlu dihitungperformance ratio

Heat duty dihitung dari sisi process:

Qactual=m˙hCp,h(Th,inTh,out)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( T_{h,in} - T_{h,out} \right)

Dengan data temperatur saat ini:

Qactual=m˙hCp,h(10956)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( 109 - 56 \right)
Qactual=m˙hCp,h(53)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( 53 \right)

LMTD dihitung setelah Tc,inT_{c,in} dan Tc,outT_{c,out} tersedia:

ΔT1=Th,inTc,out\Delta T_1 = T_{h,in} - T_{c,out}
ΔT2=Th,outTc,in\Delta T_2 = T_{h,out} - T_{c,in}
ΔTlm=ΔT1ΔT2ln(ΔT1ΔT2)\Delta T_{lm} = \frac{ \Delta T_1 - \Delta T_2 } { \ln \left( \frac{\Delta T_1}{\Delta T_2} \right) }

Kemudian:

UAactual=QactualΔTlmUA_{actual} = \frac{ Q_{actual} } { \Delta T_{lm} }

Approach temperature dihitung dengan:

Tapproach=Th,outTc,inT_{approach} = T_{h,out} - T_{c,in}

Untuk data saat ini:

Tapproach=56Tc,inT_{approach} = 56 - T_{c,in}

Jika baseline ini belum lengkap, online cleaning tetap dapat dilakukan secara hati-hati, tetapi keberhasilannya tidak dapat dibuktikan dengan kuat. Oleh karena itu, baseline adalah fondasi utama.

9.2 Step 2 — Cooling Water Chemical Assessment

Setelah baseline performance dibuat, langkah berikutnya adalah melakukan assessment terhadap cooling water chemistry. Tujuannya adalah menentukan apakah cooling water memang memiliki kecenderungan membentuk scale, biofouling, sludge, atau corrosion product deposit.

Data yang harus diambil adalah:

  • pH;
  • conductivity;
  • hardness;
  • alkalinity;
  • silica;
  • TSS;
  • iron;
  • chloride;
  • residual inhibitor;
  • residual biocide;
  • microbiological count;
  • turbidity.

Fungsi masing-masing parameter adalah sebagai berikut.

ParameterFungsi Engineering
pHindikator scaling tendency dan corrosion tendency
conductivityindikasi cycle of concentration
hardnesspotensi calcium dan magnesium scale
alkalinitypotensi carbonate scaling
silicapotensi silica scale
TSSpotensi suspended solid fouling
ironindikasi corrosion product deposit
chloriderisiko pitting, terutama pada stainless steel
residual inhibitorefektivitas scale inhibition
residual biocideefektivitas microbiological control
microbiological countindikasi biofouling
turbidityindikasi partikel tersuspensi

Kondisi yang perlu dicari adalah kombinasi parameter, bukan satu angka tunggal. Misalnya, calcium carbonate scaling lebih mungkin terjadi bila terdapat kombinasi:

hardness tinggi+alkalinity tinggi+pH tinggi+temperature tinggi\text{hardness tinggi} + \text{alkalinity tinggi} + \text{pH tinggi} + \text{temperature tinggi}

Silica scaling lebih mungkin bila:

SiO2 tinggi+cycle of concentration tinggiSiO_2 \text{ tinggi} + \text{cycle of concentration tinggi}

Biofouling lebih mungkin bila:

microbiological count tinggi+residual biocide rendah+slime indication\text{microbiological count tinggi} + \text{residual biocide rendah} + \text{slime indication}

Assessment ini penting karena metode online cleaning untuk calcium carbonate, biofilm, dan silica tidak sama.

9.3 Step 3 — Correct Cooling Water Chemistry

Setelah hasil assessment tersedia, chemistry cooling water harus dikoreksi sebelum melakukan chemical shock. Jika chemistry tidak dikoreksi, deposit baru akan terus terbentuk meskipun sebagian deposit lama berhasil dilepas.

Tindakan yang dapat dilakukan meliputi:

  • increase blowdown;
  • controlled pH adjustment;
  • optimasi inhibitor residual;
  • optimasi dispersant residual;
  • koreksi biocide program;
  • kontrol cycle of concentration.

Jika conductivity tinggi, maka cycle of concentration kemungkinan tinggi. Hubungannya dapat ditulis secara konsep:

conductivitydissolved solids\text{conductivity} \uparrow \Rightarrow \text{dissolved solids} \uparrow

dan:

dissolved solidsscaling tendency\text{dissolved solids} \uparrow \Rightarrow \text{scaling tendency} \uparrow

Maka increase blowdown dapat membantu:

blowdownconductivity\text{blowdown} \uparrow \Rightarrow \text{conductivity} \downarrow

Jika pH terlalu tinggi, carbonate ion meningkat:

CO32CO_3^{2-} \uparrow

Sehingga kecenderungan pembentukan calcium carbonate meningkat:

Ca2++CO32CaCO3Ca^{2+} + CO_3^{2-} \rightarrow CaCO_3 \downarrow

Dengan controlled pH adjustment:

CO32+H+HCO3CO_3^{2-} + H^+ \rightarrow HCO_3^-

maka kecenderungan pembentukan CaCO3CaCO_3 dapat diturunkan.

Namun, koreksi pH harus dilakukan dengan hati-hati. Tujuannya bukan membuat pH serendah mungkin, tetapi mengembalikan pH ke operating window yang aman terhadap scaling dan corrosion.

9.4 Step 4 — Shock Dose Antiscalant dan Dispersant

Setelah chemistry dikoreksi, langkah berikutnya adalah melakukan shock dosing antiscalant dan dispersant. Tujuannya adalah menghentikan pertumbuhan scale aktif, melemahkan deposit yang masih reaktif, dan menjaga partikel yang lepas tetap tersuspensi.

Tujuan antiscalant:

crystal growth\text{crystal growth} \downarrow
adhesion to plate\text{adhesion to plate} \downarrow
new scale formation\text{new scale formation} \downarrow

Tujuan dispersant:

loose deposit+dispersantsuspended particle\text{loose deposit} + \text{dispersant} \rightarrow \text{suspended particle}

Data yang harus dicatat saat shock dosing:

DataKeterangan
chemical namenama produk yang digunakan
active componentbasis kimia chemical
dosing ratelaju injeksi
start timewaktu mulai dosing
stop timewaktu selesai
target residualresidual yang diharapkan
actual residualhasil pengukuran aktual
pH responseperubahan pH
conductivity responseperubahan conductivity
turbidity responseindikasi deposit terlepas
UAUA responsebukti recovery performance

Shock dosing tanpa pencatatan data residual tidak dapat dievaluasi secara engineering. Engineer harus dapat menjawab:

Berapa dosis diberikan?\text{Berapa dosis diberikan?}
Berapa residual tercapai?\text{Berapa residual tercapai?}
Apakah UA berubah?\text{Apakah } UA \text{ berubah?}
Apakah TSS atau turbidity berubah?\text{Apakah } TSS \text{ atau turbidity berubah?}

Jika tidak ada data tersebut, maka tindakan chemical hanya menjadi aktivitas operasional tanpa bukti efektivitas.

9.5 Step 5 — Biodispersant dan Biocide Jika Ada Biofilm

Jika cooling water menunjukkan indikasi biofilm, maka program online cleaning harus dilengkapi dengan biodispersant dan biocide. Deposit biofilm-mineral sering lebih sulit ditangani karena biofilm dapat bertindak sebagai perekat deposit.

Indikasi biofilm meliputi:

  • slime;
  • deposit berlendir;
  • microbiological count tinggi;
  • chlorine demand tinggi;
  • turbidity tinggi;
  • strainer cepat kotor;
  • performance turun bertahap.

Mekanisme deposit campuran:

biofilm+mineraladherent deposit\text{biofilm} + \text{mineral} \rightarrow \text{adherent deposit}

Online treatment yang disarankan:

biodispersantbiofilm matrix weakened\text{biodispersant} \rightarrow \text{biofilm matrix weakened}
biocidemicrobial activity reduced\text{biocide} \rightarrow \text{microbial activity reduced}
dispersantreleased particles suspended\text{dispersant} \rightarrow \text{released particles suspended}

Urutan yang lebih aman adalah biodispersant terlebih dahulu, kemudian biocide shock sesuai rekomendasi water treatment specialist, lalu removal melalui blowdown atau filtration.

Jika biofilm dilepas tanpa removal path, partikel biologis dan mineral dapat kembali menempel di area lain.

9.6 Step 6 — Increase Hydraulic Shear

Setelah deposit mulai dilemahkan secara kimia, aliran cooling water harus dimanfaatkan untuk membantu pelepasan deposit. Ini dilakukan dengan meningkatkan hydraulic shear secara terkendali.

Tindakan yang dilakukan:

  • cek valve line-up;
  • cek bypass;
  • tingkatkan flow bila memungkinkan;
  • lakukan flow cycling terkendali;
  • monitor Th,outT_{h,out};
  • monitor TapproachT_{approach};
  • monitor ΔTCW\Delta T_{CW}.

Secara konsep:

vCWv_{CW} \uparrow

maka:

τw\tau_w \uparrow

dan:

deposit detachment\text{deposit detachment} \uparrow

di mana:

vCW=cooling water velocityv_{CW} = \text{cooling water velocity}

dan:

τw=wall shear stress\tau_w = \text{wall shear stress}

Flow cycling dilakukan secara bertahap:

normal flowhigher flownormal flow\text{normal flow} \rightarrow \text{higher flow} \rightarrow \text{normal flow}

Tujuannya adalah memberikan variasi shear stress sehingga deposit yang sudah melemah lebih mudah terlepas.

Namun, perubahan flow tidak boleh dilakukan mendadak. Risiko utama yang harus dihindari adalah:

  • water hammer;
  • thermal shock;
  • process temperature excursion;
  • gasket stress;
  • gangguan pada user cooling water lain.

Operator panel harus memonitor respons process temperature selama perubahan flow dilakukan.

9.7 Step 7 — Remove Released Deposit

Setiap deposit yang berhasil dilepas harus segera dikeluarkan dari sistem. Jika tidak, partikel dapat beredar kembali dan menempel ulang di PHE atau equipment lain.

Tanpa removal path:

deposit lepasberedar di sistemredeposit\text{deposit lepas} \rightarrow \text{beredar di sistem} \rightarrow \text{redeposit}

Dengan removal path:

deposit lepassuspended solidremoved by blowdown or filtration\text{deposit lepas} \rightarrow \text{suspended solid} \rightarrow \text{removed by blowdown or filtration}

Tindakan removal:

  • increase blowdown;
  • side-stream filtration;
  • temporary bag filter;
  • cleaning strainer;
  • sampling TSS;
  • sampling turbidity;
  • monitoring filter loading;
  • monitoring visual sample cooling water.

Jika TSSTSS dan turbidity naik sementara setelah chemical dosing atau flow cycling, hal tersebut dapat menjadi indikasi deposit mulai terlepas. Namun, kenaikan ini harus diikuti dengan penurunan setelah removal dilakukan.

Indikasi removal efektif:

TSS sementaraTSSTSS \uparrow \text{ sementara} \rightarrow TSS \downarrow
turbidity sementaraturbidity\text{turbidity} \uparrow \text{ sementara} \rightarrow \text{turbidity} \downarrow

Jika TSSTSS tetap tinggi, maka removal capacity belum cukup atau deposit masih terus terlepas dalam jumlah besar.

9.8 Step 8 — Monitor Performance Recovery

Langkah terakhir adalah menghitung ulang performance setelah online cleaning. Ini adalah bagian paling penting karena keberhasilan tidak boleh dinilai hanya dari chemical sudah ditambahkan atau flushing sudah dilakukan.

Hitung ulang:

QafterQ_{after}
ΔTlm,after\Delta T_{lm,after}
UAafterUA_{after}
Tapproach,afterT_{approach,after}
UAafterUAclean\frac{UA_{after}}{UA_{clean}}

Heat duty setelah online cleaning:

Qafter=m˙hCp,h(Th,in,afterTh,out,after)Q_{after} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( T_{h,in,after} - T_{h,out,after} \right)

LMTD setelah online cleaning:

ΔTlm,after=ΔT1,afterΔT2,afterln(ΔT1,afterΔT2,after)\Delta T_{lm,after} = \frac{ \Delta T_{1,after} - \Delta T_{2,after} } { \ln \left( \frac{\Delta T_{1,after}}{\Delta T_{2,after}} \right) }

Actual thermal conductance setelah online cleaning:

UAafter=QafterΔTlm,afterUA_{after} = \frac{ Q_{after} } { \Delta T_{lm,after} }

Performance recovery:

Recovery=UAafterUAbeforeUAclean×100%\text{Recovery} = \frac{ UA_{after} - UA_{before} } { UA_{clean} } \times 100\%

Jika:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

maka terdapat recovery.

Jika:

UAafterUAbeforeUA_{after} \approx UA_{before}

maka online cleaning belum terbukti efektif.

9.9 Ringkasan Sequence Online Cleaning

Sequence online cleaning dapat diringkas dalam diagram berikut.

Rendering diagram...

Sequence ini memastikan online cleaning tetap terukur. Setiap langkah menghasilkan data yang dapat dibandingkan sebelum dan sesudah tindakan.

Kembali ke Atas


10. Kriteria Keberhasilan dan Kegagalan Online Cleaning

10.1 Kriteria Keberhasilan

Online cleaning dianggap berhasil bila terdapat bukti kuantitatif bahwa thermal performance membaik, chemistry lebih terkendali, dan tidak terjadi efek samping operasional.

Kriteria keberhasilan utama adalah:

Th,out bergerak ke target operasiT_{h,out} \text{ bergerak ke target operasi}
TapproachT_{approach} \downarrow
UAactualUA_{actual} \uparrow
UAactualUAclean\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } \uparrow

Selain itu, indikator operasional yang mendukung adalah:

TSS atau turbidity naik sementara lalu turunTSS \text{ atau turbidity naik sementara lalu turun}
chemical residual stabil\text{chemical residual stabil}
tidak ada corrosion excursion\text{tidak ada corrosion excursion}
tidak ada gasket leak\text{tidak ada gasket leak}
tidak ada process upset\text{tidak ada process upset}

Indikator paling kuat tetap:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

karena UAUA memperhitungkan heat duty dan driving force temperatur. Jika hanya melihat outlet temperature, kesimpulan dapat bias.

10.2 Catatan Khusus untuk Data Saat Ini

Pada data saat ini:

Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C

Sedangkan design outlet temperature adalah:

Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C

Artinya:

Th,out,actual<Th,out,designT_{h,out,actual} < T_{h,out,design}

Dengan kondisi ini, indikator keberhasilan online cleaning tidak cukup hanya berupa “outlet semakin dingin”. Sebab outlet saat ini sudah lebih rendah dari design.

Yang harus dipantau adalah apakah:

UAUA

stabil atau meningkat pada load yang comparable.

Dengan kata lain, indikator keberhasilan yang lebih benar adalah:

UAafterUAclean>UAbeforeUAclean\frac{ UA_{after} } { UA_{clean} } > \frac{ UA_{before} } { UA_{clean} }

atau:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

Jika outlet temperature berubah tetapi UAUA tidak membaik, maka perubahan tersebut mungkin berasal dari perubahan flow, cooling water temperature, atau process load, bukan dari cleaning effect.

10.3 Contoh Tabel Evaluasi Keberhasilan

Tabel berikut dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil online cleaning.

ParameterBeforeAfterInterpretasi
Th,inT_{h,in}109°C109°Cinlet stabil
Th,outT_{h,out}56°Cperlu trenddibandingkan target operasi
ΔTprocess\Delta T_{process}53°Cperlu trendbelum cukup untuk judge scaling
Tc,inT_{c,in}TBDTBDwajib diambil lokal
Tc,outT_{c,out}TBDTBDwajib diambil lokal
ΔTCW\Delta T_{CW}TBDTBDindikasi respons cooling water
QactualQ_{actual}TBDTBDheat duty aktual
ΔTlm\Delta T_{lm}TBDTBDdriving force temperatur
UA/UAcleanUA/UA_{clean}TBDTBDindikator utama
TSSTBDTBDindikasi deposit terlepas
TurbidityTBDTBDindikasi cleaning response
Residual inhibitorTBDTBDvalidasi chemical program
Residual biocideTBDTBDvalidasi bio-control

Kata “TBD” harus diperlakukan sebagai data gap yang wajib ditutup. Jika terlalu banyak parameter masih TBD, maka evaluasi keberhasilan tidak cukup kuat.

10.4 Interpretasi Kenaikan dan Penurunan Parameter

Tidak semua perubahan parameter berarti online cleaning berhasil. Engineer harus membaca pola perubahan.

10.4.1 Jika UAUA Naik

Jika:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

maka ada indikasi positif bahwa thermal conductance membaik. Ini dapat terjadi karena deposit berkurang, flow distribution membaik, atau sebagian blockage terlepas.

10.4.2 Jika TapproachT_{approach} Turun

Jika:

Tapproach,after<Tapproach,beforeT_{approach,after} < T_{approach,before}

maka process outlet semakin mendekati cooling water inlet temperature. Ini merupakan indikasi cooling effectiveness membaik, dengan catatan process load dan cooling water inlet temperature comparable.

10.4.3 Jika TSS atau Turbidity Naik Sementara

Jika:

TSS sementaraTSS \uparrow \text{ sementara}

atau:

turbidity sementara\text{turbidity} \uparrow \text{ sementara}

setelah chemical treatment atau flow cycling, ini dapat menjadi indikasi deposit mulai terlepas.

Namun harus diikuti oleh:

TSSTSS \downarrow

atau:

turbidity\text{turbidity} \downarrow

setelah blowdown atau filtration.

Jika tidak turun, maka sistem berisiko mengalami redeposition.

10.4.4 Jika Chemical Residual Stabil

Jika residual inhibitor dan residual biocide stabil sesuai target, maka chemical treatment lebih terkendali. Tetapi residual stabil saja tidak cukup. Harus tetap ada bukti performance:

UAactualUA_{actual} \uparrow

atau minimal:

UAactual stabilUA_{actual} \text{ stabil}

dalam kondisi load yang comparable.

10.5 Kriteria Kegagalan

Online cleaning dianggap tidak efektif bila tidak ada recovery terukur pada thermal performance.

Indikator kegagalan utama:

UAafterUAbeforeUA_{after} \approx UA_{before}

atau:

UAafter<UAbeforeUA_{after} < UA_{before}

Indikator lain:

Tapproach tidak membaikT_{approach} \text{ tidak membaik}
Th,out tidak bergerak ke target operasiT_{h,out} \text{ tidak bergerak ke target operasi}
TSS tetap tinggiTSS \text{ tetap tinggi}
turbidity tetap tinggi\text{turbidity tetap tinggi}
chemical residual tidak stabil\text{chemical residual tidak stabil}
process upset terjadi\text{process upset terjadi}
indikasi leak atau corrosion muncul\text{indikasi leak atau corrosion muncul}

Jika online cleaning gagal, kemungkinan penyebabnya adalah:

  • scale terlalu keras;
  • silica scale;
  • deposit sudah terkonsolidasi;
  • plugging berat;
  • maldistribution;
  • gasket leakage;
  • internal bypass;
  • plate deformation;
  • plate arrangement salah;
  • tightening dimension tidak sesuai;
  • chemical tidak mencapai channel yang bermasalah;
  • removal path tidak memadai.

10.6 Decision Matrix Keberhasilan dan Kegagalan

Rendering diagram...

Decision matrix ini membantu engineer membedakan antara tiga kondisi:

  1. online cleaning efektif;
  2. deposit mulai terlepas tetapi belum berhasil dibuang;
  3. deposit terlalu keras atau masalah bukan hanya scaling.

10.7 Kapan Online Cleaning Harus Dilanjutkan

Online cleaning dapat dilanjutkan bila:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

dan tidak ada efek samping seperti corrosion, leak, atau process upset.

Online cleaning juga dapat dilanjutkan bila:

UAactual stabilUA_{actual} \text{ stabil}

pada kondisi sebelumnya terus menurun. Dalam kasus ini, keberhasilan bukan berupa recovery besar, tetapi penahanan laju degradasi.

Secara praktis:

degradation rate\text{degradation rate} \downarrow

juga merupakan hasil positif bila plant belum dapat shutdown.

10.8 Kapan Online Cleaning Harus Dihentikan atau Dievaluasi Ulang

Online cleaning harus dihentikan atau dievaluasi ulang bila terjadi:

  • process temperature excursion;
  • corrosion rate meningkat;
  • pH keluar dari operating window;
  • gasket leak;
  • turbidity sangat tinggi dan tidak turun;
  • strainer atau filter cepat plugging;
  • user cooling water lain terdampak;
  • chemical residual tidak terkendali;
  • tidak ada recovery UAUA setelah periode evaluasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko online cleaning sudah melebihi manfaatnya.

10.9 Kapan Harus Rencana Offline Cleaning

Offline cleaning harus masuk rencana opportunity shutdown bila:

UAafterUAbeforeUA_{after} \approx UA_{before}

meskipun online cleaning sudah dilakukan dengan benar.

Offline cleaning juga perlu direncanakan bila terdapat indikasi:

  • hard scale;
  • silica scale;
  • channel plugging;
  • internal bypass;
  • gasket leakage;
  • plate deformation;
  • plate pack tightening issue;
  • plate arrangement issue.

Pada kondisi tersebut, online cleaning hanya dapat menjadi tindakan sementara untuk menjaga operasi sampai shutdown tersedia.

10.10 Ringkasan Bab 9 dan Bab 10

Sequence online cleaning harus dilakukan secara bertahap:

baselineassessmentchemistry correctionchemical shockhydraulic shearsolids removalperformance monitoring\boxed{ \text{baseline} \rightarrow \text{assessment} \rightarrow \text{chemistry correction} \rightarrow \text{chemical shock} \rightarrow \text{hydraulic shear} \rightarrow \text{solids removal} \rightarrow \text{performance monitoring} }

Keberhasilan harus dibuktikan dengan:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

atau:

UAafterUAclean>UAbeforeUAclean\frac{ UA_{after} } { UA_{clean} } > \frac{ UA_{before} } { UA_{clean} }

Kegagalan ditandai oleh:

UAafterUAbeforeUA_{after} \approx UA_{before}

atau tidak adanya perbaikan pada TapproachT_{approach} dan target operasi.

Untuk data saat ini, karena:

Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C

lebih rendah dari design:

Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C

maka keberhasilan online cleaning tidak boleh dinilai hanya dari outlet temperature semakin rendah. Evaluasi harus tetap menggunakan:

QQ
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAUA
TapproachT_{approach}

dan baseline yang comparable.

Dengan pendekatan ini, online cleaning dapat dikelola sebagai program engineering yang terukur, bukan hanya tindakan chemical treatment berbasis asumsi.

Kembali ke Atas


11. Hal yang Tidak Direkomendasikan Saat Plant Online

Online cleaning pada PHE yang masih beroperasi harus diperlakukan sebagai aktivitas engineering yang memiliki risiko proses, mekanik, material, dan operasional. Pada kondisi offline, PHE dapat diisolasi sehingga dampak chemical dan deposit yang terlepas dapat dikontrol di dalam boundary equipment. Namun, pada kondisi online, setiap tindakan pada sisi cooling water dapat memengaruhi seluruh jaringan cooling water dan user lain.

Oleh karena itu, tindakan online cleaning tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan intuisi atau instruksi verbal tanpa parameter target. Setiap tindakan harus memiliki:

basis engineering\text{basis engineering}
operating limit\text{operating limit}
chemical compatibility check\text{chemical compatibility check}
monitoring parameter\text{monitoring parameter}
stop criteria\text{stop criteria}
approval operasi dan HSE\text{approval operasi dan HSE}

Prinsip dasarnya adalah:

online cleaning harus menurunkan risiko scaling tanpa menciptakan risiko operasi baru\boxed{ \text{online cleaning harus menurunkan risiko scaling tanpa menciptakan risiko operasi baru} }

11.1 Tindakan yang Harus Dihindari

Beberapa tindakan berikut harus dihindari saat plant online, kecuali sudah melalui review engineering, vendor, process, utility, inspection, dan HSE.

11.1.1 Injeksi HCl Langsung ke Branch PHE

Injeksi hydrochloric acid langsung ke branch PHE yang sedang online sangat tidak direkomendasikan. Walaupun HCl dapat melarutkan calcium carbonate, risikonya sangat tinggi, terutama untuk PHE dengan plate stainless steel.

Reaksi pelarutan calcium carbonate oleh acid adalah:

CaCO3+2H+Ca2++CO2+H2OCaCO_3 + 2H^+ \rightarrow Ca^{2+} + CO_2 + H_2O

Namun, jika acid mengandung chloride, maka risiko terhadap stainless steel meningkat:

low pH+Clpitting corrosion risk\text{low pH} + Cl^- \rightarrow \text{pitting corrosion risk}

Risiko utama dari injeksi HCl langsung adalah:

  • localized low pH;
  • chloride-induced pitting;
  • crevice corrosion pada gasket contact area;
  • gasket degradation;
  • pelepasan deposit terlalu cepat;
  • plugging downstream;
  • gangguan ke cooling water user lain.

Jika acid cleaning memang diperlukan, metode yang lebih tepat adalah offline cleaning dengan isolasi, chemical circulation, venting, pH control, inhibitor, dan neutralization.

11.1.2 Acid Shock Lokal

Acid shock lokal pada branch cooling water dapat menciptakan kondisi kimia ekstrem di sebagian sistem. Masalahnya, chemical tidak selalu terdistribusi merata. Beberapa channel dapat menerima konsentrasi acid tinggi, sementara channel lain tidak mendapat efek cleaning yang cukup.

Kondisi ini berbahaya karena:

local acid concentrationbulk acid concentration\text{local acid concentration} \gg \text{bulk acid concentration}

Akibatnya dapat terjadi:

localized corrosion\text{localized corrosion}
gasket attack\text{gasket attack}
plate damage\text{plate damage}
deposit release surge\text{deposit release surge}

Pada online cleaning, yang diperbolehkan adalah controlled chemistry adjustment dalam operating window cooling water system, bukan acid shock lokal.

11.1.3 pH Depression Ekstrem

Menurunkan pH memang dapat menurunkan kecenderungan calcium carbonate scaling, karena carbonate ion bergeser menjadi bicarbonate:

CO32+H+HCO3CO_3^{2-} + H^+ \rightarrow HCO_3^-

Namun, penurunan pH yang terlalu ekstrem dapat menggeser masalah dari scaling menjadi corrosion.

Secara sederhana:

pH terlalu tinggiscaling risk\text{pH terlalu tinggi} \Rightarrow \text{scaling risk}
pH terlalu rendahcorrosion risk\text{pH terlalu rendah} \Rightarrow \text{corrosion risk}

Karena itu, pH harus dikontrol dalam operating window yang disetujui oleh water treatment specialist dan inspection/corrosion engineer. Tujuannya bukan membuat pH serendah mungkin, tetapi menyeimbangkan risiko scaling dan corrosion.

11.1.4 Chemical Tanpa Compatibility Check

Chemical online cleaning harus kompatibel dengan:

  • material plate;
  • material gasket;
  • material piping;
  • coating bila ada;
  • cooling tower basin;
  • pump casing;
  • seal material;
  • user cooling water lain;
  • existing water treatment chemical.

Jika compatibility tidak diperiksa, chemical yang bertujuan memperbaiki performance PHE dapat menyebabkan masalah baru seperti swelling gasket, embrittlement, corrosion, atau foaming pada cooling tower.

Sebelum chemical digunakan, minimal harus dikonfirmasi:

plate material compatibility\text{plate material compatibility}
gasket material compatibility\text{gasket material compatibility}
pH operating range\text{pH operating range}
chloride limitation\text{chloride limitation}
temperature limitation\text{temperature limitation}
recommended residual range\text{recommended residual range}

11.1.5 Flow Reversal Tanpa Jalur Drain atau Filter

Online reverse flushing hanya boleh dilakukan jika deposit yang terlepas dapat dibuang secara aman. Jika tidak ada jalur drain, temporary filter, atau strainer yang memadai, reverse flushing dapat mengirim debris ke supply header atau user lain.

Kondisi yang harus dihindari adalah:

deposit detachedreturn to supply headerfouling at other users\text{deposit detached} \rightarrow \text{return to supply header} \rightarrow \text{fouling at other users}

Reverse flushing tanpa removal path dapat memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

11.1.6 Membuang Debris ke Supply Header

Supply header cooling water harus dijaga sebersih mungkin karena melayani banyak equipment. Jika debris dari PHE dikembalikan ke supply header, maka user lain seperti exchanger, compressor cooler, pump seal cooler, atau analyzer cooler dapat terdampak.

Risikonya:

debrissmall-bore cooler plugging\text{debris} \rightarrow \text{small-bore cooler plugging}
debriscontrol valve restriction\text{debris} \rightarrow \text{control valve restriction}
debrisstrainer overload\text{debris} \rightarrow \text{strainer overload}
debrisnew fouling location\text{debris} \rightarrow \text{new fouling location}

Karena itu, setiap online flushing harus memiliki removal path yang jelas.

11.1.7 Valve Operation Mendadak

Membuka atau menutup valve cooling water secara mendadak dapat menyebabkan hydraulic transient. Risiko utamanya adalah water hammer.

Secara konsep:

Δv mendadakpressure surge\Delta v \text{ mendadak} \Rightarrow \text{pressure surge}

Pressure surge dapat menyebabkan:

  • gasket stress;
  • flange leak;
  • pipe vibration;
  • support loading;
  • instrument impulse damage;
  • upset pada user lain.

Flow cycling boleh dilakukan, tetapi harus bertahap dan terkontrol.

11.1.8 Air Scouring Tanpa Desain Khusus

Air scouring dapat menghasilkan gaya geser tinggi, tetapi pada PHE online metode ini sangat berisiko jika tidak didesain. Masalahnya meliputi:

  • two-phase flow instability;
  • water hammer;
  • air lock;
  • vibration;
  • gasket stress;
  • process temperature upset;
  • udara masuk ke header cooling water.

Jika air scouring akan dipertimbangkan, harus ada desain khusus, prosedur, venting plan, dan review HSE. Untuk operasi normal, metode ini tidak direkomendasikan sebagai tindakan spontan.

11.1.9 Chemical Treatment Tanpa Target Residual

Menambahkan chemical tanpa target residual adalah tindakan yang lemah secara engineering. Engineer tidak dapat menilai apakah chemical underdose, overdose, atau tidak sampai ke titik yang dituju.

Setiap chemical program harus memiliki:

target residual\text{target residual}
actual residual\text{actual residual}
sampling frequency\text{sampling frequency}
acceptance range\text{acceptance range}
corrective action\text{corrective action}

Contoh buruk:

Tambahkan antiscalant.

Contoh benar:

Lakukan shock dosing antiscalant dengan target residual tertentu, sampling sebelum dan sesudah dosing, lalu evaluasi TSSTSS, turbidity, dan UAUA.

11.1.10 Treatment Tanpa Monitoring UAUA

Tujuan online cleaning adalah memperbaiki performance PHE. Maka keberhasilannya harus diukur dari performance, bukan dari fakta bahwa chemical sudah diinjeksikan.

Parameter utama yang harus dimonitor adalah:

UAactualUA_{actual}

Jika:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

maka terdapat indikasi recovery.

Jika:

UAafterUAbeforeUA_{after} \approx UA_{before}

maka online cleaning belum terbukti efektif.

Tanpa monitoring UAUA, program online cleaning hanya menjadi aktivitas operasional tanpa bukti hasil.

11.2 Risiko Teknis

Risiko teknis online cleaning dapat dikelompokkan menjadi risiko material, risiko hydraulic, risiko process, dan risiko network cooling water.

11.2.1 Pitting Corrosion

Pitting corrosion adalah serangan lokal yang dapat terjadi pada stainless steel, terutama bila terdapat chloride, low pH, dan stagnant zone.

Secara konseptual:

Cl+low pH+stagnant zonepitting riskCl^- + \text{low pH} + \text{stagnant zone} \rightarrow \text{pitting risk}

Pitting berbahaya karena dapat berkembang secara lokal tanpa penurunan thickness yang merata. Pada PHE, pitting dapat menyebabkan leak antar-fluid atau leak ke atmosfer.

11.2.2 Crevice Corrosion

Crevice corrosion dapat terjadi di area celah sempit, seperti area gasket contact, plate contact point, atau deposit-covered area.

Kondisi pemicunya:

crevice+Cl+oxygen differentialcrevice corrosion\text{crevice} + Cl^- + \text{oxygen differential} \rightarrow \text{crevice corrosion}

PHE memiliki banyak area sempit sehingga risiko crevice corrosion harus diperhatikan saat chemical cleaning online.

11.2.3 Gasket Degradation

Gasket adalah komponen kritikal PHE. Chemical yang tidak kompatibel dapat menyebabkan:

  • swelling;
  • hardening;
  • cracking;
  • loss of elasticity;
  • leakage;
  • premature gasket failure.

Jika gasket mengalami degradasi, maka risiko yang muncul bukan hanya external leak, tetapi juga internal bypass yang menurunkan performance.

11.2.4 Plate Leakage

Plate leakage dapat terjadi akibat corrosion, mechanical damage, atau gasket failure. Pada service Water Scrubber, plate leakage dapat menyebabkan cross-contamination antara process fluid dan cooling water.

Risiko ini harus dipertimbangkan terutama bila chemical online cleaning terlalu agresif.

11.2.5 Plugging Downstream

Online cleaning dapat melepas deposit. Jika deposit terlepas dalam jumlah besar dan tidak ada filtration atau blowdown yang cukup, maka deposit dapat menyebabkan plugging downstream.

Mekanismenya:

deposit detachedsuspended solid surgedownstream plugging\text{deposit detached} \rightarrow \text{suspended solid surge} \rightarrow \text{downstream plugging}

Karena itu, online cleaning harus selalu dikombinasikan dengan removal strategy.

11.2.6 Water Hammer

Water hammer terjadi akibat perubahan momentum fluida secara mendadak. Pada online cleaning, water hammer dapat terjadi akibat valve operation mendadak atau reverse flushing yang tidak terkendali.

Secara sederhana:

ΔvΔPsurge\Delta v \uparrow \Rightarrow \Delta P_{surge} \uparrow

Risikonya:

  • gasket leak;
  • flange leak;
  • pipe support overstress;
  • vibration;
  • instrument damage.

11.2.7 Thermal Shock

Thermal shock terjadi bila perubahan temperatur terlalu cepat. Pada PHE, thermal shock dapat menyebabkan stress pada plate dan gasket.

Risiko ini meningkat bila flow cooling water berubah mendadak atau bila temperatur cooling water berubah cepat akibat operational switching.

11.2.8 Process Temperature Excursion

Setiap tindakan pada sisi cooling water dapat memengaruhi temperatur outlet process. Jika flow cycling atau flushing mengurangi cooling sementara, maka:

Th,outT_{h,out} \uparrow

Jika temperature excursion melewati limit process, maka online cleaning harus dihentikan.

11.2.9 Impact to Other Cooling Water Users

Cooling water system biasanya bersifat common header. Perubahan chemical, pH, flow, turbidity, atau debris tidak hanya memengaruhi satu PHE.

Risiko terhadap user lain meliputi:

  • fouling berpindah;
  • corrosion meningkat;
  • cooling duty turun;
  • strainer plugging;
  • analyzer cooling terganggu;
  • seal cooler terganggu.

Maka setiap online cleaning harus dikoordinasikan dengan utility dan operation.

11.3 Barrier Sebelum Melakukan Online Cleaning

Sebelum tindakan online cleaning dilakukan, minimal harus ada barrier berikut:

validated baseline\text{validated baseline}
approved chemical\text{approved chemical}
defined operating window\text{defined operating window}
sampling plan\text{sampling plan}
removal path\text{removal path}
stop criteria\text{stop criteria}
operator communication\text{operator communication}

Diagram berikut merangkum barrier yang harus dipastikan.

Rendering diagram...

11.4 Stop Criteria Online Cleaning

Online cleaning harus memiliki stop criteria. Tanpa stop criteria, tindakan dapat berlanjut walaupun risiko sudah meningkat.

Online cleaning harus dihentikan atau dievaluasi ulang bila terjadi:

Th,out>Th,out,limitT_{h,out} > T_{h,out,limit}
pH<pHminpH < pH_{min}

atau:

pH>pHmaxpH > pH_{max}
corrosion rate>allowable limit\text{corrosion rate} > \text{allowable limit}
turbidity sangat tinggi dan tidak turun\text{turbidity} \text{ sangat tinggi dan tidak turun}
gasket leak terindikasi\text{gasket leak terindikasi}
user cooling water lain terdampak\text{user cooling water lain terdampak}
UAafterUAbefore setelah periode evaluasiUA_{after} \leq UA_{before} \text{ setelah periode evaluasi}

Stop criteria harus disetujui sebelum eksekusi, bukan setelah terjadi upset.

11.5 Ringkasan Bab 11

Hal yang tidak direkomendasikan saat plant online adalah tindakan yang agresif, tidak terukur, atau tidak memiliki removal path. Online cleaning yang buruk dapat menyebabkan masalah lebih besar daripada scaling awal.

Tindakan yang harus dihindari meliputi:

  • injeksi HCl langsung ke branch PHE;
  • acid shock lokal;
  • pH depression ekstrem;
  • chemical tanpa compatibility check;
  • flow reversal tanpa jalur drain atau filter;
  • membuang debris ke supply header;
  • valve operation mendadak;
  • air scouring tanpa desain;
  • chemical treatment tanpa target residual;
  • treatment tanpa monitoring UAUA.

Risiko teknis utama adalah:

pitting corrosion\text{pitting corrosion}
crevice corrosion\text{crevice corrosion}
gasket degradation\text{gasket degradation}
plate leakage\text{plate leakage}
plugging downstream\text{plugging downstream}
water hammer\text{water hammer}
thermal shock\text{thermal shock}
process temperature excursion\text{process temperature excursion}
impact to other cooling water users\text{impact to other cooling water users}

Kesimpulan praktisnya:

online cleaning harus dikendalikan dengan baseline, compatibility check, monitoring, removal path, dan stop criteria\boxed{ \text{online cleaning harus dikendalikan dengan baseline, compatibility check, monitoring, removal path, dan stop criteria} }

Kembali ke Atas


12. Template Monitoring untuk Engineer Lapangan

Monitoring adalah bagian paling penting dari online cleaning. Tanpa monitoring yang benar, engineer tidak dapat membedakan apakah online cleaning benar-benar memperbaiki performance atau hanya menghasilkan perubahan operasi sementara.

Template monitoring harus mendukung empat tujuan:

merekam kondisi awal\text{merekam kondisi awal}
mengikuti respons selama cleaning\text{mengikuti respons selama cleaning}
menghitung recovery performance\text{menghitung recovery performance}
membuktikan apakah tindakan efektif\text{membuktikan apakah tindakan efektif}

Parameter monitoring harus dibagi menjadi tiga kelompok:

  1. performance PHE;
  2. chemistry cooling water;
  3. aktivitas online cleaning.

12.1 Template Data Performance

Template data performance digunakan untuk menghitung heat duty, LMTD, actual thermal conductance, dan performance ratio.

ParameterUnitAktual Saat IniDesignBefore CleaningDuringAfterClean Baseline
Th,inT_{h,in}C^\circ C109109
Th,outT_{h,out}C^\circ C5665
ΔTprocess\Delta T_{process}C^\circ C5344
m˙h\dot{m}_hkg/hTBDTBD
Cp,hC_{p,h}kJ/kg.KTBDTBD
Tc,inT_{c,in}C^\circ CTBDTBD
Tc,outT_{c,out}C^\circ CTBDTBD
ΔTCW\Delta T_{CW}C^\circ CTBDTBD
TapproachT_{approach}C^\circ CTBDTBD
QactualQ_{actual}kWTBDTBD
ΔTlm\Delta T_{lm}C^\circ CTBDTBD
UAactualUA_{actual}kW/KTBDTBD
UA/UAcleanUA/UA_{clean}%\%TBDTBD
Performance loss%\%TBDTBD

Rumus yang digunakan dalam template ini adalah:

ΔTprocess=Th,inTh,out\Delta T_{process} = T_{h,in} - T_{h,out}
Qactual=m˙hCp,h(Th,inTh,out)Q_{actual} = \dot{m}_{h} C_{p,h} \left( T_{h,in} - T_{h,out} \right)
ΔTCW=Tc,outTc,in\Delta T_{CW} = T_{c,out} - T_{c,in}
Tapproach=Th,outTc,inT_{approach} = T_{h,out} - T_{c,in}
ΔT1=Th,inTc,out\Delta T_1 = T_{h,in} - T_{c,out}
ΔT2=Th,outTc,in\Delta T_2 = T_{h,out} - T_{c,in}
ΔTlm=ΔT1ΔT2ln(ΔT1ΔT2)\Delta T_{lm} = \frac{ \Delta T_1 - \Delta T_2 } { \ln \left( \frac{\Delta T_1}{\Delta T_2} \right) }
UAactual=QactualΔTlmUA_{actual} = \frac{ Q_{actual} } { \Delta T_{lm} }

Performance ratio:

Performance Ratio=UAactualUAclean\text{Performance Ratio} = \frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} }

Performance loss:

Performance Loss=(1UAactualUAclean)×100%\text{Performance Loss} = \left( 1 - \frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } \right) \times 100\%

Catatan penting: kolom “Aktual Saat Ini” tidak sama dengan “Before Cleaning” bila data sebelum cleaning diambil pada waktu yang berbeda. Engineer harus mencatat waktu pengambilan data karena process load dan cooling water temperature dapat berubah.

12.2 Template Data Cooling Water Chemistry

Template chemistry digunakan untuk melihat apakah kondisi cooling water mendukung scaling, fouling, corrosion, atau biological growth.

ParameterUnitBeforeDuringAfterTarget
pH-
ConductivityµS/cm
Hardnessppm as CaCO3CaCO_3
Alkalinityppm as CaCO3CaCO_3
Silicappm
TSSppm
TurbidityNTU
Ironppm
Chlorideppm
Residual inhibitorppm
Residual biocideppm
Microbiological countCFU/mL

Interpretasi parameter utama:

ParameterInterpretasi
pH tinggimeningkatkan risiko carbonate scaling
pH rendahmeningkatkan risiko corrosion
conductivity tinggiindikasi cycle of concentration tinggi
hardness tinggirisiko calcium/magnesium scale
alkalinity tinggirisiko carbonate scaling
silica tinggirisiko silica scale
TSS tinggirisiko particulate fouling
turbidity tinggiindikasi partikel tersuspensi
iron tinggiindikasi corrosion product
chloride tinggirisiko pitting pada stainless steel
residual inhibitor rendahscale control tidak efektif
residual biocide rendahbiofouling control lemah
microbiological count tinggirisiko biofilm

Hubungan scaling tendency sederhana untuk calcium carbonate:

Ca2++CO32CaCO3Ca^{2+} + CO_3^{2-} \rightarrow CaCO_3 \downarrow

Jika pH meningkat:

CO32CO_3^{2-} \uparrow

maka:

CaCO3 scaling tendency\text{CaCO}_3 \text{ scaling tendency} \uparrow

Karena itu, pH, hardness, dan alkalinity harus dibaca sebagai satu kelompok, bukan satu parameter terpisah.

12.3 Template Aktivitas Online Cleaning

Template aktivitas digunakan untuk mencatat setiap tindakan online cleaning. Tujuannya agar setiap respons performance dapat dikaitkan dengan tindakan tertentu.

AktivitasStart TimeEnd TimeParameter TargetHasil AktualCatatan
Increase blowdownconductivity
Antiscalant shock doseresidual inhibitor
Dispersant dosingTSS/turbidity
Biodispersantmicrobial/slime
Biocide shockresidual biocide
Flow cyclingTh,outT_{h,out}, UAUA
Side-stream filtrationTSS/turbidity
Strainer cleaningvisual deposit

Setiap aktivitas harus memiliki target. Contoh:

  • increase blowdown tidak cukup ditulis “blowdown dilakukan”; harus ditulis target conductivity;
  • antiscalant shock dose harus memiliki target residual inhibitor;
  • dispersant dosing harus dikaitkan dengan TSS/turbidity;
  • flow cycling harus dikaitkan dengan Th,outT_{h,out} dan UAUA;
  • filtration harus dikaitkan dengan penurunan TSS atau turbidity.

12.4 Template Perhitungan Recovery

Untuk menilai hasil online cleaning, gunakan template perhitungan berikut.

ParameterSymbolBeforeAfterChange
Heat dutyQQ
LMTDΔTlm\Delta T_{lm}
Thermal conductanceUAUA
Approach temperatureTapproachT_{approach}
Performance ratioUA/UAcleanUA/UA_{clean}
Performance loss%\%

Rumus perubahan UAUA:

ΔUA=UAafterUAbefore\Delta UA = UA_{after} - UA_{before}

Jika:

ΔUA>0\Delta UA > 0

maka performance membaik.

Recovery terhadap clean baseline:

Recovery=UAafterUAbeforeUAclean×100%\text{Recovery} = \frac{ UA_{after} - UA_{before} } { UA_{clean} } \times 100\%

Remaining performance loss:

Remaining Loss=(1UAafterUAclean)×100%\text{Remaining Loss} = \left( 1 - \frac{ UA_{after} } { UA_{clean} } \right) \times 100\%

Jika clean baseline tidak tersedia, gunakan baseline terbaik historis, tetapi beri catatan:

UAcleanUAbest historicalUA_{clean} \approx UA_{best\ historical}

dengan status:

temporary reference\text{temporary reference}

bukan clean baseline definitif.

12.5 Template Trend Harian

Untuk PHE critical, monitoring tidak cukup dilakukan satu kali. Data harus dibuat dalam trend harian atau per shift.

Date/ShiftTh,inT_{h,in}Th,outT_{h,out}Tc,inT_{c,in}Tc,outT_{c,out}QQΔTlm\Delta T_{lm}UAUATapproachT_{approach}pHConductivityTSSRemark

Trend ini lebih kuat daripada satu snapshot data. Scaling biasanya progresif, sehingga indikasi yang dicari adalah:

UA terhadap waktuUA \downarrow \text{ terhadap waktu}

atau:

Tapproach terhadap waktuT_{approach} \uparrow \text{ terhadap waktu}

Jika online cleaning berhasil, trend yang diharapkan adalah:

UA atau stabilUA \uparrow \text{ atau stabil}

dan:

Tapproach atau stabilT_{approach} \downarrow \text{ atau stabil}

12.6 Alur Monitoring Data

Diagram berikut menunjukkan alur monitoring dari data mentah sampai keputusan tindakan.

Rendering diagram...

Diagram tersebut menegaskan bahwa data tidak boleh berhenti pada pencatatan temperatur. Data harus diproses menjadi QQ, ΔTlm\Delta T_{lm}, dan UAUA agar dapat menjadi dasar keputusan.

12.7 Minimum Acceptance untuk Data Monitoring

Agar monitoring dianggap layak untuk evaluasi engineering, minimal data berikut harus tersedia:

Th,inT_{h,in}
Th,outT_{h,out}
m˙h\dot{m}_h
Cp,hC_{p,h}
Tc,inT_{c,in}
Tc,outT_{c,out}

Jika salah satu dari data tersebut tidak tersedia, maka perhitungan UAUA tidak lengkap.

Data tambahan yang sangat disarankan:

pHpH
conductivity\text{conductivity}
hardness\text{hardness}
alkalinity\text{alkalinity}
TSSTSS
turbidity\text{turbidity}
residual inhibitor\text{residual inhibitor}
residual biocide\text{residual biocide}

Tanpa data chemical, engineer dapat mengetahui bahwa UAUA berubah, tetapi sulit menentukan penyebabnya secara lebih akurat.

12.8 Kesalahan Umum dalam Monitoring

Kesalahan yang sering terjadi di lapangan adalah:

  1. hanya mencatat outlet temperature;
  2. tidak mencatat cooling water inlet temperature;
  3. tidak mencatat cooling water outlet temperature;
  4. tidak mencatat process flow;
  5. tidak menghitung UAUA;
  6. membandingkan data aktual dengan design tanpa memastikan operating case comparable;
  7. menyimpulkan scaling hanya dari visual atau feeling;
  8. menilai keberhasilan online cleaning hanya karena chemical sudah ditambahkan;
  9. tidak mencatat waktu dosing;
  10. tidak mencatat residual chemical.

Contoh kesimpulan yang lemah:

PHE sudah membaik karena outlet lebih dingin.

Kesimpulan yang lebih kuat:

Setelah online cleaning, UAUA meningkat dari UAbeforeUA_{before} menjadi UAafterUA_{after} pada process flow dan cooling water inlet temperature yang comparable. TapproachT_{approach} turun, dan turbidity naik sementara lalu turun setelah blowdown.

12.9 Ringkasan Bab 12

Template monitoring harus memastikan setiap tindakan online cleaning dapat dievaluasi secara kuantitatif. Parameter utama yang harus dihitung adalah:

QactualQ_{actual}
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAactualUA_{actual}
TapproachT_{approach}
UAactualUAclean\frac{UA_{actual}}{UA_{clean}}

Data chemistry harus digunakan untuk menjelaskan penyebab dan respons online cleaning, sedangkan data aktivitas digunakan untuk menghubungkan tindakan dengan perubahan performance.

Kesimpulan praktisnya:

monitoring yang baik mengubah observasi lapangan menjadi keputusan engineering\boxed{ \text{monitoring yang baik mengubah observasi lapangan menjadi keputusan engineering} }

dan:

tanpa UA dan baseline, efektivitas online cleaning belum dapat dibuktikan\boxed{ \text{tanpa } UA \text{ dan baseline, efektivitas online cleaning belum dapat dibuktikan} }

Kembali ke Atas


13. Rekomendasi Implementasi di Lapangan

Implementasi online cleaning pada PHE Water Scrubber harus dilakukan sebagai program engineering terkontrol, bukan sekadar aktivitas chemical dosing. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap tindakan memiliki dasar data, batas operasi, metode monitoring, dan kriteria evaluasi yang jelas.

Pada kondisi plant tetap running, rekomendasi implementasi harus menjawab tiga fase utama:

sebelum online cleaning\text{sebelum online cleaning}
selama online cleaning\text{selama online cleaning}
setelah online cleaning\text{setelah online cleaning}

Ketiga fase tersebut harus terhubung dengan parameter performance PHE, cooling water chemistry, dan respons operasi.

Rendering diagram...

13.1 Sebelum Online Cleaning

Sebelum online cleaning dilakukan, engineer harus memastikan bahwa data awal cukup untuk membedakan antara indikasi scaling, perubahan load, perubahan cooling water condition, dan perubahan operasi.

Data SCADA sisi process harus divalidasi terlebih dahulu:

Th,in=109CT_{h,in} = 109^\circ C
Th,out=56CT_{h,out} = 56^\circ C

Sehingga:

ΔTprocess=Th,inTh,out\Delta T_{process} = T_{h,in} - T_{h,out}
ΔTprocess=10956=53C\Delta T_{process} = 109 - 56 = 53^\circ C

Namun, nilai ini belum cukup untuk menyimpulkan performance loss. Sebelum online cleaning, data berikut harus tersedia atau minimal memiliki rencana pengambilan data:

DataStatus MinimumTujuan
Th,inT_{h,in}valid dari SCADAbasis heat duty dan LMTD
Th,outT_{h,out}valid dari SCADAbasis heat duty dan approach
m˙h\dot{m}_hharus tersediamenghitung QactualQ_{actual}
Cp,hC_{p,h}harus tersediamenghitung QactualQ_{actual}
Tc,inT_{c,in}harus diukur lokalmenghitung approach dan LMTD
Tc,outT_{c,out}harus diukur lokalmenghitung LMTD dan estimasi CW flow
water chemistryharus dianalisismenentukan scaling tendency
target outlet temperatureharus disepakatimenjaga batas operasi process
stop criteriaharus disepakatimencegah online cleaning menjadi risiko operasi

Checklist sebelum online cleaning:

  • data SCADA process sudah divalidasi;
  • Th,in=109CT_{h,in}=109^\circ C dan Th,out=56CT_{h,out}=56^\circ C benar;
  • local temperature cooling water inlet dan outlet diambil;
  • process flow aktual tersedia;
  • Cp,hC_{p,h} process fluid tersedia;
  • water chemistry dianalisis;
  • batas aman process outlet temperature ditentukan;
  • batas pH dan conductivity ditentukan;
  • target residual chemical ditentukan;
  • removal path tersedia melalui blowdown, filtration, atau strainer cleaning;
  • koordinasi dengan utility dan operation dilakukan;
  • operator panel mengetahui parameter yang harus dimonitor;
  • stop criteria sudah disetujui.

Heat duty awal harus dihitung dengan:

Qbefore=m˙h,beforeCp,h,before(Th,in,beforeTh,out,before)Q_{before} = \dot{m}_{h,before} C_{p,h,before} \left( T_{h,in,before} - T_{h,out,before} \right)

Untuk data temperatur saat ini:

Qbefore=m˙h,beforeCp,h,before(10956)Q_{before} = \dot{m}_{h,before} C_{p,h,before} \left( 109 - 56 \right)
Qbefore=m˙h,beforeCp,h,before(53)Q_{before} = \dot{m}_{h,before} C_{p,h,before} \left( 53 \right)

Setelah Tc,inT_{c,in} dan Tc,outT_{c,out} tersedia, hitung:

ΔT1,before=Th,in,beforeTc,out,before\Delta T_{1,before} = T_{h,in,before} - T_{c,out,before}
ΔT2,before=Th,out,beforeTc,in,before\Delta T_{2,before} = T_{h,out,before} - T_{c,in,before}
ΔTlm,before=ΔT1,beforeΔT2,beforeln(ΔT1,beforeΔT2,before)\Delta T_{lm,before} = \frac{ \Delta T_{1,before} - \Delta T_{2,before} } { \ln \left( \frac{\Delta T_{1,before}}{\Delta T_{2,before}} \right) }

Kemudian:

UAbefore=QbeforeΔTlm,beforeUA_{before} = \frac{ Q_{before} } { \Delta T_{lm,before} }

Nilai UAbeforeUA_{before} inilah yang menjadi baseline aktual sebelum online cleaning.

13.2 Selama Online Cleaning

Selama online cleaning, fokus utama adalah menjaga plant tetap stabil sambil memantau apakah chemical dan hydraulic action menghasilkan respons yang diinginkan.

Parameter yang harus dimonitor:

Th,outT_{h,out}
TapproachT_{approach}
Tc,inT_{c,in}
Tc,outT_{c,out}
UAactualUA_{actual}
pHpH
conductivity\text{conductivity}
TSSTSS
turbidity\text{turbidity}
chemical residual\text{chemical residual}
strainer/filter condition\text{strainer/filter condition}

Secara operasional, parameter tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut.

Kelompok MonitoringParameterTujuan
Process responseTh,outT_{h,out}, TapproachT_{approach}memastikan process tetap aman
Thermal performanceQQ, ΔTlm\Delta T_{lm}, UAUAmembuktikan recovery
Cooling water temperatureTc,inT_{c,in}, Tc,outT_{c,out}, ΔTCW\Delta T_{CW}melihat respons cooling water
ChemistrypH, conductivity, hardness, alkalinitymengendalikan scaling tendency
Solids releaseTSS, turbiditymelihat deposit terlepas
Chemical controlresidual inhibitor, residual biocidememastikan dosing efektif
Mechanical protectionstrainer/filter conditionmencegah plugging downstream

Selama online cleaning, engineer harus menghindari interpretasi tunggal. Misalnya, jika turbidity naik, hal tersebut dapat berarti deposit mulai terlepas. Namun, jika turbidity tidak turun setelah blowdown atau filtration, maka risiko redeposition meningkat.

Pola respons yang diharapkan:

TSS sementaraTSSTSS \uparrow \text{ sementara} \rightarrow TSS \downarrow
turbidity sementaraturbidity\text{turbidity} \uparrow \text{ sementara} \rightarrow \text{turbidity} \downarrow
UAactualUA_{actual} \uparrow

atau minimal:

UAactual stabilUA_{actual} \text{ stabil}

pada kondisi yang sebelumnya menunjukkan degradasi.

Selama online cleaning, TapproachT_{approach} harus dihitung secara berkala:

Tapproach=Th,outTc,inT_{approach} = T_{h,out} - T_{c,in}

Jika TapproachT_{approach} turun pada load yang comparable, maka cooling effectiveness membaik:

Tapproach,after<Tapproach,beforeT_{approach,after} < T_{approach,before}

Namun, jika Tc,inT_{c,in} berubah signifikan, maka perubahan TapproachT_{approach} harus dibaca bersama UAUA agar tidak salah interpretasi.

Rendering diagram...

Online cleaning harus dihentikan sementara atau dievaluasi ulang jika terjadi:

Th,out>Th,out,limitT_{h,out} > T_{h,out,limit}
pH<pHminpH < pH_{min}

atau:

pH>pHmaxpH > pH_{max}
turbidity tinggi dan tidak turun\text{turbidity} \text{ tinggi dan tidak turun}
strainer plugging\text{strainer plugging}
indikasi leak\text{indikasi leak}
user cooling water lain terdampak\text{user cooling water lain terdampak}

13.3 Setelah Online Cleaning

Setelah online cleaning selesai, engineer harus menghitung ulang performance. Evaluasi setelah cleaning tidak boleh hanya berbasis observasi bahwa chemical sudah diinjeksikan atau cooling water terlihat lebih jernih.

Parameter yang harus dihitung:

QafterQ_{after}
UAafterUA_{after}
UAafterUAclean\frac{UA_{after}}{UA_{clean}}
performance recovery\text{performance recovery}
remaining performance loss\text{remaining performance loss}

Heat duty setelah online cleaning:

Qafter=m˙h,afterCp,h,after(Th,in,afterTh,out,after)Q_{after} = \dot{m}_{h,after} C_{p,h,after} \left( T_{h,in,after} - T_{h,out,after} \right)

LMTD setelah online cleaning:

ΔT1,after=Th,in,afterTc,out,after\Delta T_{1,after} = T_{h,in,after} - T_{c,out,after}
ΔT2,after=Th,out,afterTc,in,after\Delta T_{2,after} = T_{h,out,after} - T_{c,in,after}
ΔTlm,after=ΔT1,afterΔT2,afterln(ΔT1,afterΔT2,after)\Delta T_{lm,after} = \frac{ \Delta T_{1,after} - \Delta T_{2,after} } { \ln \left( \frac{\Delta T_{1,after}}{\Delta T_{2,after}} \right) }

Actual thermal conductance setelah online cleaning:

UAafter=QafterΔTlm,afterUA_{after} = \frac{ Q_{after} } { \Delta T_{lm,after} }

Recovery dihitung sebagai:

ΔUA=UAafterUAbefore\Delta UA = UA_{after} - UA_{before}

Jika:

ΔUA>0\Delta UA > 0

maka terjadi recovery thermal conductance.

Recovery terhadap clean baseline:

Performance Recovery=UAafterUAbeforeUAclean×100%\text{Performance Recovery} = \frac{ UA_{after} - UA_{before} } { UA_{clean} } \times 100\%

Remaining performance loss:

Remaining Performance Loss=(1UAafterUAclean)×100%\text{Remaining Performance Loss} = \left( 1 - \frac{ UA_{after} } { UA_{clean} } \right) \times 100\%

Jika recovery signifikan, maka tindakan lanjutan adalah:

  • lanjutkan optimized chemical treatment;
  • pertahankan monitoring UAUA;
  • review blowdown;
  • review side-stream filtration;
  • update operating guideline;
  • jadwalkan inspection pada opportunity shutdown;
  • jadikan UAafterUA_{after} sebagai data pembanding sementara.

Jika recovery kecil, maka kemungkinan penyebabnya adalah:

  • scale terlalu keras;
  • silica scale;
  • deposit sudah terkonsolidasi;
  • plugging berat;
  • maldistribution;
  • internal bypass;
  • gasket leakage;
  • chemical tidak mencapai channel bermasalah;
  • removal path tidak cukup;
  • root cause bukan scaling dominan.

Dalam kondisi recovery kecil, tindakan selanjutnya adalah:

  • curigai hard scale;
  • curigai silica scale;
  • curigai plugging;
  • curigai internal bypass;
  • rencanakan offline cleaning pada opportunity shutdown;
  • pertimbangkan temporary clamp-on flowmeter untuk cooling water;
  • pertimbangkan penambahan pressure tapping pada next shutdown;
  • siapkan inspection checklist untuk plate dan gasket.

13.4 Practical Decision Logic

Setelah online cleaning, keputusan praktis dapat dibuat menggunakan logic berikut.

Rendering diagram...

Logic ini membantu engineer menghindari dua kesalahan umum:

  1. menganggap online cleaning gagal hanya karena outlet temperature tidak berubah, padahal UAUA mungkin stabil dan degradasi berhenti;
  2. menganggap online cleaning berhasil hanya karena chemical sudah diinjeksikan, padahal UAUA tidak membaik.

13.5 Dokumentasi yang Harus Disimpan

Setelah online cleaning, semua data harus disimpan sebagai referensi untuk troubleshooting berikutnya.

Dokumentasi minimum:

Dokumen/DataFungsi
data SCADA sebelum, selama, sesudahmelihat trend process
data temperatur cooling water lokalmenghitung LMTD dan approach
data process flow dan CpC_pmenghitung heat duty
water chemistry reportmelihat scaling tendency
chemical dosing logmenghubungkan tindakan dengan respons
blowdown/filtration logmembuktikan removal path
strainer cleaning recordbukti deposit release
UAUA calculation sheetbukti performance recovery
deviation atau abnormality reportjika terjadi upset
recommendation follow-updasar tindakan selanjutnya

Dokumentasi ini penting karena PHE scaling biasanya bersifat berulang. Tanpa data historis, troubleshooting berikutnya akan kembali mulai dari nol.

Kembali ke Atas


14. Kesimpulan

Data SCADA PHE Water Scrubber menunjukkan:

Th,in,actual=109CT_{h,in,actual} = 109^\circ C
Th,out,actual=56CT_{h,out,actual} = 56^\circ C

Sehingga:

ΔTactual=Th,in,actualTh,out,actual\Delta T_{actual} = T_{h,in,actual} - T_{h,out,actual}
ΔTactual=10956=53C\Delta T_{actual} = 109 - 56 = 53^\circ C

Sedangkan data design menunjukkan:

Th,in,design=109CT_{h,in,design} = 109^\circ C
Th,out,design=65CT_{h,out,design} = 65^\circ C

Sehingga:

ΔTdesign=Th,in,designTh,out,design\Delta T_{design} = T_{h,in,design} - T_{h,out,design}
ΔTdesign=10965=44C\Delta T_{design} = 109 - 65 = 44^\circ C

Jika flow dan CpC_p process sama antara aktual dan design, maka rasio heat removal adalah:

QactualQdesign=ΔTactualΔTdesign\frac{ Q_{actual} } { Q_{design} } = \frac{ \Delta T_{actual} } { \Delta T_{design} }
QactualQdesign=5344=1.2045\frac{ Q_{actual} } { Q_{design} } = \frac{ 53 } { 44 } = 1.2045

Dengan demikian:

Qactual120.45%QdesignQ_{actual} \approx 120.45\% Q_{design}

Artinya, berdasarkan process temperature drop saja, heat removal aktual terlihat lebih besar dari design. Data ini tidak langsung menunjukkan performance loss.

Angka:

16.98%16.98\%

yang berasal dari:

534453×100%=16.98%\frac{ 53 - 44 } { 53 } \times 100\% = 16.98\%

harus diklarifikasi karena angka tersebut bukan definisi standar performance loss PHE. Angka tersebut hanya menunjukkan selisih antara actual process temperature drop dan design process temperature drop terhadap actual process temperature drop.

Performance loss akibat scaling harus dibuktikan melalui:

UAactualUAclean\boxed{ \frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} } }

bukan hanya dari:

ΔTprocess\Delta T_{process}

Secara engineering, performance PHE harus dievaluasi dengan:

QactualQ_{actual}
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAactualUA_{actual}
TapproachT_{approach}
UAactualUAclean\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} }

Jika benar terjadi scaling pada sisi cooling water, maka mekanismenya adalah bertambahnya thermal resistance pada permukaan plate:

1Uscaled=1Uclean+Rscale\frac{1}{U_{scaled}} = \frac{1}{U_{clean}} + R_{scale}

Dengan:

Rscale=δsksR_{scale} = \frac{\delta_s}{k_s}

Jika RscaleR_{scale} meningkat, maka:

UU \downarrow
UAUA \downarrow

dan pada driving force temperatur yang sama:

QQ \downarrow

Namun, pada kondisi plant tetap running, offline cleaning ideal tidak selalu tersedia. Oleh karena itu, strategi online cleaning tetap relevan bila ada indikasi scaling dari:

  • trend penurunan UAUA;
  • kenaikan TapproachT_{approach};
  • cooling water chemistry yang mendukung scaling;
  • kenaikan TSS atau turbidity;
  • penurunan performance historis;
  • indikasi fouling atau biofilm;
  • outlet process bergerak menjauh dari target operasi pada load comparable.

Strategi online yang direkomendasikan adalah:

softendisperseshearremovemonitor\boxed{ \text{soften} \rightarrow \text{disperse} \rightarrow \text{shear} \rightarrow \text{remove} \rightarrow \text{monitor} }

Makna operasionalnya:

lunakkan deposit, jaga tetap tersuspensi, lepaskan dengan aliran, buang dari sistem, lalu ukur recovery\boxed{ \text{lunakkan deposit, jaga tetap tersuspensi, lepaskan dengan aliran, buang dari sistem, lalu ukur recovery} }

Tindakan utama yang direkomendasikan meliputi:

  • optimasi cooling water chemistry;
  • shock dosing antiscalant;
  • dispersant dosing;
  • biodispersant dan biocide bila ada biofilm;
  • controlled pH adjustment;
  • peningkatan cooling water velocity;
  • flow cycling terkendali;
  • side-stream filtration;
  • blowdown;
  • monitoring UAUA, TapproachT_{approach}, dan Th,outT_{h,out}.

Keberhasilan online cleaning harus dibuktikan dengan:

UAafter>UAbeforeUA_{after} > UA_{before}

atau:

UAafterUAclean>UAbeforeUAclean\frac{ UA_{after} } { UA_{clean} } > \frac{ UA_{before} } { UA_{clean} }

Jika tidak ada perbaikan:

UAafterUAbeforeUA_{after} \approx UA_{before}

maka online cleaning belum terbukti efektif. Pada kondisi tersebut, engineer harus mempertimbangkan kemungkinan:

  • hard scale;
  • silica scale;
  • deposit terkonsolidasi;
  • plugging berat;
  • maldistribution;
  • internal bypass;
  • gasket leakage;
  • plate deformation;
  • plate arrangement issue;
  • tightening dimension issue.

Kesimpulan paling penting dari artikel ini adalah:

ΔTprocess adalah data penting, tetapi belum cukup untuk menyatakan scaling atau performance loss.\boxed{ \Delta T_{process} \text{ adalah data penting, tetapi belum cukup untuk menyatakan scaling atau performance loss.} }

dan:

Performance PHE harus dibuktikan dengan Q,ΔTlm,UA, dan baseline yang comparable.\boxed{ \text{Performance PHE harus dibuktikan dengan } Q, \Delta T_{lm}, UA, \text{ dan baseline yang comparable.} }

Untuk engineer-praktisi lapangan, pesan akhirnya adalah sederhana tetapi sangat penting:

jangan membuat keputusan maintenance besar hanya dari observasi kualitatif\boxed{ \text{jangan membuat keputusan maintenance besar hanya dari observasi kualitatif} }

Setiap tindakan harus dikaitkan dengan data:

Th,inT_{h,in}
Th,outT_{h,out}
m˙h\dot{m}_h
Cp,hC_{p,h}
Tc,inT_{c,in}
Tc,outT_{c,out}
QactualQ_{actual}
ΔTlm\Delta T_{lm}
UAactualUA_{actual}
TapproachT_{approach}

dan:

UAactualUAclean\frac{ UA_{actual} } { UA_{clean} }

Dengan pendekatan ini, troubleshooting PHE Water Scrubber tetap dapat dilakukan secara tajam, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan meskipun plant tetap beroperasi dan data cooling water tidak lengkap.

Kembali ke Atas


Catatan Penyusunan Artikel ini disusun sebagai materi edukasi dan referensi umum berdasarkan berbagai sumber pustaka, praktik lapangan, serta bantuan alat penulisan. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi lanjutan dan penyesuaian sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing sistem.