- Published on
Batas Minimum dan Maksimum Lubrikasi Rider Ring pada Reciprocating Compressor: Konversi Tetes/menit, mL/jam, Wear Control, dan Tindakan Koreksi Lapangan
- Authors
Batas Minimum dan Maksimum Lubrikasi Rider Ring pada Reciprocating Compressor: Konversi Tetes/menit, mL/jam, Wear Control, dan Tindakan Koreksi Lapangan
- Batas Minimum dan Maksimum Lubrikasi Rider Ring pada Reciprocating Compressor: Konversi Tetes/menit, mL/jam, Wear Control, dan Tindakan Koreksi Lapangan
- 1. Executive Summary
- 2. Fungsi Rider Ring dan Makna Rider Band Bearing Load
- 3. Konversi Tetes/menit ke mL/jam
- 4. Penentuan Minimum dan Maksimum Lubrikasi
- 5. Verifikasi Oil Film di Lapangan
- 6. Efek Jika Oil Rate di Bawah Minimum
- 6.1 Definisi Under-Lubrication
- 6.2 Mekanisme Kerusakan Akibat Under-Lubrication
- 6.3 Dampak Utama terhadap Rider Ring
- 6.4 Dampak terhadap Cylinder Liner
- 6.5 Dampak terhadap Piston Ring dan Performance
- 6.6 Indikasi Lapangan Under-Lubrication
- 6.7 Tindakan Koreksi untuk Under-Lubrication
- 6.8 Kesimpulan Bab Under-Lubrication
- 7. Efek Jika Oil Rate di Atas Maksimum
- 7.1 Definisi Over-Lubrication
- 7.2 Prinsip Utama Over-Lubrication
- 7.3 Mengapa Oli Berlebih Bisa Mempercepat Wear Rider Ring
- 7.4 Carbon Deposit sebagai Abrasive Third-Body
- 7.5 RR Sticking dan Kenaikan Contact Pressure
- 7.6 Valve Fouling sebagai Penyebab Tidak Langsung RR Wear
- 7.7 Indikasi Lapangan Over-Lubrication
- 7.8 Contoh Koreksi Over-Lubrication
- 7.9 Kesimpulan Bab Over-Lubrication
- 8. Batas Temperatur dan Risiko Deposit
- 9. Wear Rate Rider Ring dan Decision Rule
- 10. Troubleshooting dan Tindakan Koreksi
- 10.1 Prinsip Troubleshooting
- 10.2 Diagram Keputusan Cepat
- 10.3 Tabel Troubleshooting Utama
- 10.4 Tindakan Jika RR Cepat Aus dan Liner Kering
- 10.5 Tindakan Jika RR Cepat Aus dan Liner Basah Hitam
- 10.6 Tindakan Jika Valve Basah Oli atau Banyak Deposit
- 10.7 Tindakan Jika Carbon Deposit Ditemukan
- 10.8 Tindakan Jika Wear Tidak Merata
- 10.9 Prioritas Tindakan Koreksi
- 10.10 Kesimpulan Bab Troubleshooting
- Lampiran
- Lampiran A — Rumus Cepat
- A.2 Konversi mL/jam ke Tetes/menit
- A.3 Total Oil Rate per Cylinder
- A.4 Rider Band Bearing Load
- A.5 Actual Wear Rate Rider Ring
- A.6 Allowable Wear Rate Rider Ring
- A.7 Remaining Life Rider Ring
- A.8 Rule of Thumb Adjustment
- Lampiran B — Checklist Field Inspection
- B.4 Rider Ring Inspection
- B.5 Cylinder Liner and Groove Inspection
- B.6 Valve and Carryover Inspection
- B.7 Final Field Decision
1. Executive Summary
Lubrikasi pada rider ring–cylinder liner reciprocating compressor berfungsi untuk membentuk oil film tipis, kontinu, dan bersih pada area sliding contact antara rider ring dan cylinder liner. Oil film ini diperlukan untuk mengurangi friction, mengendalikan keausan rider ring, menjaga posisi piston tetap stabil di dalam cylinder, serta mencegah piston-to-liner metal contact.
Fungsi utama lubrikasi bukan membuat cylinder menjadi sangat basah oleh oli. Target yang benar adalah:
Artikel ini disusun untuk membantu praktisi lapangan menetapkan batas minimum dan maksimum oil rate pada rider ring reciprocating compressor, terutama bila OEM memberikan rekomendasi dalam satuan tetes/menit, misalnya:
Agar dapat digunakan sebagai dasar inspeksi dan troubleshooting, angka tersebut harus dikonversi menjadi mL/jam, lalu divalidasi terhadap kondisi aktual di lapangan seperti paper test, wear rate rider ring, discharge temperature, valve deposit, oil carryover, dan kondisi cylinder liner.
Dengan asumsi umum:
maka:
Sehingga rekomendasi OEM:
setara dengan:
Untuk cylinder dengan dua lube point:
maka:
Tabel ringkas batas operasi yang digunakan dalam artikel ini adalah sebagai berikut.
| Parameter | Nilai Praktis |
|---|---|
| Contoh OEM range | |
| Asumsi drop factor | |
| Minimum continuous | |
| Maximum continuous | |
| Normal trial setting | |
| Step adjustment | per step |
| Break-in, bila diizinkan OEM | |
| Target temperature normal | |
| Review/action temperature | |
| High-risk deposit zone |
Secara umum, bila OEM memberikan nilai normal oil rate, maka batas praktis dapat ditulis sebagai:
Namun, bila OEM memberikan range eksplisit seperti:
maka range tersebut harus diperlakukan sebagai continuous operating envelope, kecuali manual OEM menyatakan lain. Dengan basis tersebut:
dan:
Under-lubrication menyebabkan oil film tidak kontinu. Mekanisme kerusakannya dapat diringkas sebagai berikut.
Over-lubrication juga dapat mempercepat keausan rider ring. Mekanismenya bukan karena oli berlebih langsung mengikis rider ring, tetapi karena oli berlebih dapat tertahan di cylinder, terdegradasi oleh temperatur, lalu membentuk carbon, gum, lacquer, sludge, dan abrasive paste.
Dengan demikian, batas minimum ditentukan oleh kecukupan oil film dan wear rate, sedangkan batas maksimum ditentukan oleh risiko deposit, oil carryover, valve fouling, dan abrasive wear.
Kesimpulan umum artikel ini adalah:
2. Fungsi Rider Ring dan Makna Rider Band Bearing Load
2.1 Fungsi Rider Ring
Pada horizontal reciprocating compressor, piston bergerak bolak-balik di dalam cylinder. Karena orientasi cylinder horizontal, berat piston assembly menghasilkan beban vertikal ke bawah. Beban ini harus ditopang oleh komponen yang dirancang sebagai wear part, yaitu rider ring atau rider band.
Rider ring dipasang pada piston untuk mencegah body piston menyentuh langsung cylinder liner. Dengan demikian, komponen yang dikorbankan untuk mengalami keausan adalah rider ring, bukan piston atau cylinder liner.
Fungsi rider ring dapat diringkas sebagai berikut.
| Fungsi Rider Ring | Tujuan Teknis |
|---|---|
| Menopang berat piston assembly | Mencegah piston turun dan menyentuh liner |
| Menjadi sliding support | Mengatur contact antara piston assembly dan cylinder liner |
| Menjaga radial clearance | Mempertahankan posisi piston tetap terkendali |
| Menjadi sacrificial wear component | Rider ring aus lebih dahulu dibanding piston atau liner |
| Mengurangi risiko scoring | Mencegah metal-to-metal contact |
| Membantu stabilitas piston | Mengurangi uneven contact dan abnormal side loading |
Secara sederhana:
Diagram fungsi rider ring dapat digambarkan sebagai berikut.
2.2 Apa yang Dimaksud Rider Band Bearing
Istilah rider band bearing sering menimbulkan salah pengertian. Istilah ini bukan berarti terdapat bearing terpisah seperti ball bearing, roller bearing, atau sleeve bearing.
Yang dimaksud adalah rider ring bekerja sebagai bearing surface, yaitu permukaan yang menerima dan menyalurkan beban piston ke cylinder liner.
Dengan kata lain:
Sedangkan rider band bearing load adalah tekanan kontak rata-rata antara rider ring dan cylinder liner.
2.3 Rumus Rider Band Bearing Load
Rider band bearing load dihitung dari berat piston assembly dan sebagian berat piston rod yang ditopang oleh rider ring, dibagi dengan luas kontak efektif rider ring terhadap cylinder liner.
Rumus praktisnya adalah:
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan Praktis |
|---|---|---|
| rider band bearing load | ||
| berat piston assembly | ||
| berat piston rod | ||
| cylinder bore diameter | ||
| total effective rider ring width |
Apabila data berat masih diberikan dalam satuan massa, yaitu kilogram, maka harus dikonversi menjadi gaya.
Dengan:
Sehingga:
2.4 Batas Praktis Rider Band Bearing Load
Untuk horizontal reciprocating compressor, batas praktis yang umum digunakan adalah:
| Kondisi Cylinder | Batas Rider Band Bearing Load |
|---|---|
| Lubricated horizontal cylinder | |
| Non-lubricated horizontal cylinder |
Dalam satuan imperial, nilai tersebut mendekati:
dan:
Batas ini penting karena oil rate tidak boleh digunakan untuk menutupi masalah desain atau loading.
Apabila melebihi batas, penyebab utama harus dicari pada:
| Area Pemeriksaan | Kemungkinan Masalah |
|---|---|
| Piston assembly | Berat piston terlalu besar |
| Rider ring | Lebar efektif rider ring tidak cukup |
| Piston rod | Kontribusi beban rod tinggi |
| Cylinder liner | Bore aus, oval, atau out-of-round |
| Alignment | Rod runout atau piston misalignment |
| Operating condition | Beban aktual berbeda dari design case |
Hubungan antara bearing load dan keausan rider ring dapat diringkas sebagai berikut.
Prinsip praktisnya:
3. Konversi Tetes/menit ke mL/jam
3.1 Mengapa Konversi Diperlukan
Di lapangan, OEM sering memberikan oil rate dalam satuan tetes/menit karena pengaturan lubricator dapat dibaca melalui sight glass. Contoh instruksi yang umum dijumpai adalah:
Namun, satuan tetes/menit belum cukup untuk analisis teknis karena volume setiap tetes tidak selalu sama. Volume tetes dipengaruhi oleh:
| Faktor | Dampak terhadap Volume Tetes |
|---|---|
| Viskositas oli | Oli lebih kental dapat menghasilkan tetes lebih besar |
| Temperatur oli | Temperatur tinggi menurunkan viskositas |
| Diameter drip tube | Diameter lebih besar cenderung menghasilkan tetes lebih besar |
| Specific gravity oli | Mempengaruhi pembentukan tetes |
| Desain sight glass | Setiap lubricator dapat berbeda |
| Kondisi pompa lubricator | Pulsation dapat mempengaruhi pembacaan visual |
Karena itu, istilah tetes/menit harus dikonversi menjadi mL/jam menggunakan drop factor.
3.2 Formula Dasar Konversi
Definisikan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| oil rate | ||
| jumlah tetes per menit | ||
| drop factor |
Formula konversi dari tetes/menit ke mL/jam adalah:
Formula konversi balik dari mL/jam ke tetes/menit adalah:
3.3 Asumsi Umum Drop Factor
Bila drop factor aktual belum dikalibrasi, asumsi awal yang sering digunakan adalah:
Dengan asumsi tersebut:
Sehingga:
Artinya:
Konversi praktisnya adalah sebagai berikut.
| Tetes/menit | mL/jam per Lube Point |
|---|---|
Dengan demikian, range OEM:
menjadi:
dan:
Sehingga:
3.4 Total Oil Rate untuk Beberapa Lube Point
Bila satu cylinder memiliki lebih dari satu lube point, maka total oil rate dihitung sebagai:
Dengan:
| Simbol | Arti |
|---|---|
| total oil rate per cylinder | |
| oil rate per lube point | |
| jumlah lube point pada cylinder |
Contoh untuk dua lube point:
Maka:
Tabel konversinya adalah sebagai berikut.
| Setting per Point | mL/jam per Point | Total untuk 2 Point |
|---|---|---|
3.5 Sensitivitas Drop Factor
Asumsi hanya estimasi awal. Untuk oil rate yang lebih akurat, drop factor harus dikalibrasi di lapangan.
Perbandingan hasil konversi untuk range adalah sebagai berikut.
| Drop Factor | ||
|---|---|---|
Selisih ini signifikan. Oleh karena itu, untuk compressor kritikal, pengaturan oil rate tidak boleh hanya berdasarkan visual tetes/menit. Drop factor aktual harus diukur.
3.6 Prosedur Kalibrasi Drop Factor
Prosedur praktis untuk kalibrasi adalah:
- Jalankan lubricator pada setting operasi normal.
- Tampung oli dari outlet lubricator selama waktu tertentu.
- Hitung jumlah tetes selama periode tersebut.
- Ukur volume oli yang terkumpul dalam mL.
- Hitung drop factor aktual.
Rumusnya:
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| drop factor aktual | ||
| jumlah tetes yang dihitung | ||
| volume oli terkumpul |
Contoh:
Maka:
Dengan drop factor aktual tersebut, oil rate dapat dihitung kembali menggunakan:
3.7 Kesimpulan Bab Konversi
Untuk kebutuhan praktis lapangan, gunakan panduan berikut.
Bila belum ada kalibrasi:
Sehingga:
Untuk contoh OEM:
Dan untuk dua lube point:
4. Penentuan Minimum dan Maksimum Lubrikasi
4.1 Prinsip Penentuan Batas
Jika OEM memberikan range oil rate dalam bentuk:
maka range tersebut harus diperlakukan sebagai continuous operating envelope, kecuali manual OEM menyatakan lain.
Artinya:
dan:
Dengan asumsi drop factor:
maka konversi oil rate adalah:
Sehingga:
dan:
Dengan demikian, untuk contoh OEM 10–25 tetes/menit, batas continuous operation adalah:
| Kondisi | Tetes/menit per Point | mL/jam per Point |
|---|---|---|
| Minimum continuous | 10 | 30 |
| Normal rendah | 15 | 45 |
| Normal tengah | 20 | 60 |
| Maximum continuous | 25 | 75 |
Prinsip praktisnya:
4.2 Operating Envelope per Lube Point
Untuk satu lube point, range operasi dapat ditulis sebagai:
dengan satuan:
Dalam satuan mL/jam:
dengan satuan:
Ringkasnya:
Apabila satu cylinder memiliki dua lube point, maka:
Tabel total oil rate untuk dua lube point adalah sebagai berikut.
| Setting per Point | mL/jam per Point | Total untuk 2 Point |
|---|---|---|
Diagram operating envelope berikut dapat digunakan sebagai panduan cepat di lapangan.
4.3 Pemilihan Normal Setting
Dalam range OEM 10–25 tetes/menit, setting awal yang praktis biasanya dipilih di tengah range, misalnya:
Dengan asumsi:
maka:
Untuk dua lube point:
Setting ini kemudian divalidasi dengan:
| Parameter | Target |
|---|---|
| Paper test | Paper pertama stained, paper kedua tidak basah tembus |
| RR wear rate | Tidak melebihi allowable wear rate |
| Discharge temperature | Stabil, tidak naik lebih dari dari baseline |
| Valve condition | Tidak basah oli berlebih, tidak ada deposit berat |
| Cylinder liner | Tidak ada scoring, black paste, atau deposit keras |
4.4 Break-in Lubrication
Setelah penggantian rider ring, piston ring, atau pekerjaan cylinder liner seperti honing, oil rate break-in sering perlu dinaikkan sementara. Tujuannya adalah memastikan oil film terbentuk selama periode awal running, ketika surface conformity antara ring dan liner belum stabil.
Jika normal setting adalah:
maka:
Untuk break-in, bila diizinkan OEM:
Dalam satuan tetes/menit:
Dalam satuan mL/jam:
Tabel ringkasnya adalah sebagai berikut.
| Kondisi | Tetes/menit per Point | mL/jam per Point |
|---|---|---|
| Minimum continuous | 10 | 30 |
| Normal setting | 20 | 60 |
| Maximum continuous | 25 | 75 |
| Break-in | 30 | 90 |
| Break-in | 40 | 120 |
Untuk dua lube point:
| Kondisi | mL/jam per Point | Total mL/jam per Cylinder |
|---|---|---|
| Minimum continuous | 30 | 60 |
| Normal setting | 60 | 120 |
| Maximum continuous | 75 | 150 |
| Break-in | 90 | 180 |
| Break-in | 120 | 240 |
Catatan penting:
4.5 Adjustment Step
Penyesuaian oil rate tidak boleh dilakukan terlalu besar dalam satu kali perubahan. Adjustment yang direkomendasikan adalah:
Jika oil rate terlalu rendah:
Jika oil rate terlalu tinggi:
Contoh penurunan dari 25 tetes/menit:
Untuk pembacaan lapangan, nilai ini dapat dibulatkan menjadi:
Dengan asumsi :
Contoh kenaikan dari 10 tetes/menit:
4.6 Decision Rule Minimum dan Maksimum
Setting oil rate dinyatakan diterima hanya jika memenuhi tiga kelompok persyaratan berikut.
| Kelompok | Acceptance Criteria |
|---|---|
| Oil rate | Berada dalam OEM envelope |
| Oil film | Paper test acceptable |
| Wear control | RR wear rate tidak melebihi allowable wear rate |
| Temperature | Discharge temperature tidak masuk zona action |
| Cleanliness | Valve dan cylinder tidak menunjukkan deposit progresif |
Secara kuantitatif:
atau:
Tetapi secara praktis, angka ini belum cukup. Oil rate harus dikaitkan dengan hasil inspeksi.
5. Verifikasi Oil Film di Lapangan
5.1 Tujuan Verifikasi
Oil rate yang benar di sight glass belum tentu menghasilkan oil film yang benar di cylinder liner. Ada beberapa kemungkinan deviasi:
| Kondisi di Sight Glass | Kondisi Aktual di Cylinder |
|---|---|
| Tetes terlihat normal | Check valve tersumbat sebagian |
| Tetes terlihat cukup | Distribusi oil ke liner tidak merata |
| Tetes terlihat tinggi | Oil tertahan di valve pocket atau groove |
| Tetes terlihat rendah | Liner masih cukup basah karena carryover |
| Tetes stabil | Oil film tetap bisa breakdown akibat temperatur tinggi |
Karena itu, oil film harus diverifikasi langsung melalui inspeksi lapangan. Metode paling sederhana adalah paper test.
5.2 Prosedur Paper Test
Paper test dilakukan saat unit sudah aman untuk dibuka, sudah depressurized, sudah isolated, dan memenuhi persyaratan permit serta LOTO.
Prosedur praktis:
- Stop compressor sesuai prosedur operasi.
- Pastikan cylinder sudah aman dibuka.
- Lakukan paper test secepat mungkin setelah shutdown.
- Gunakan dua lembar unwaxed cigarette paper atau kertas tipis sejenis.
- Usapkan paper pada permukaan cylinder liner.
- Ambil sampel dari beberapa posisi bore.
- Bandingkan hasil paper pertama dan paper kedua.
Rekomendasi posisi sampling:
| Posisi | Tujuan |
|---|---|
| Top bore | Melihat distribusi oil di bagian atas liner |
| Bottom bore | Area utama contact rider ring |
| Left side | Melihat distribusi lateral |
| Right side | Melihat distribusi lateral |
| Area dekat lube point | Memeriksa local over-lube |
| Area jauh dari lube point | Memeriksa oil distribution |
Untuk praktisi, minimal ambil tiga posisi:
Bila akses memungkinkan, tambahkan:
5.3 Acceptance Criteria Paper Test
Acceptance criteria paper test adalah sebagai berikut.
| Hasil Paper Test | Interpretasi | Tindakan |
|---|---|---|
| Paper pertama kering | Under-lubricated | Naikkan oil rate +10% |
| Paper pertama stained, paper kedua tidak basah tembus | Acceptable | Pertahankan setting |
| Paper pertama dan kedua basah tembus | Over-lubricated | Turunkan oil rate −10% |
| Paper hitam berminyak/berpasir | Oil + carbon/debris | Bersihkan cylinder, review oil rate |
| Ada partikel RR | Wear aktif | Ukur RR dan liner |
Dalam bentuk rule:
Diagram keputusan paper test dapat digunakan sebagai berikut.
5.4 Interpretasi Visual
Paper test tidak hanya membaca basah atau kering. Warna dan tekstur residu juga penting.
| Temuan pada Paper | Interpretasi Teknis |
|---|---|
| Kering bersih | Oil film tidak cukup |
| Stain tipis merata | Oil film cukup |
| Basah tembus jernih | Oil rate terlalu tinggi atau drain buruk |
| Hitam berminyak | Oil terdegradasi atau bercampur carbon |
| Hitam berpasir | Abrasive paste, carbon, atau wear debris |
| Serbuk putih/coklat | Kemungkinan partikel RR atau ring material |
| Partikel metalik | Potensi liner scoring atau metal contact |
Kalimat lapangan yang penting:
Cylinder yang basah hitam menunjukkan kemungkinan:
5.5 Keterbatasan Paper Test
Paper test adalah metode cepat, tetapi bukan satu-satunya dasar keputusan. Hasil paper test harus dikorelasikan dengan:
| Parameter | Mengapa Penting |
|---|---|
| Oil rate aktual | Memastikan setting lubricator benar |
| Drop factor aktual | Memastikan konversi tetes/min ke mL/h akurat |
| RR thickness | Mengetahui wear aktual |
| Rod drop | Mengetahui perubahan posisi piston |
| Valve condition | Mendeteksi over-lube dan deposit |
| Discharge temperature | Menilai risiko oil degradation |
| Cylinder liner condition | Mendeteksi scoring dan deposit |
| Drain oil volume | Menilai carryover atau oil accumulation |
Paper test dinyatakan valid sebagai dasar adjustment bila didukung oleh data berikut:
6. Efek Jika Oil Rate di Bawah Minimum
6.1 Definisi Under-Lubrication
Untuk contoh OEM dengan range:
maka under-lubrication didefinisikan sebagai:
Dengan asumsi:
maka:
Sehingga:
Jadi batas bawahnya adalah:
atau:
6.2 Mekanisme Kerusakan Akibat Under-Lubrication
Saat oil rate berada di bawah minimum, oil film pada interface rider ring dan cylinder liner menjadi tidak kontinu. Sliding contact berubah menjadi kondisi boundary lubrication yang buruk. Friction naik, temperatur lokal naik, dan wear rate rider ring meningkat.
Mekanisme dasarnya adalah:
Diagram mekanisme under-lubrication adalah sebagai berikut.
6.3 Dampak Utama terhadap Rider Ring
Under-lubrication paling cepat terlihat pada rider ring karena rider ring adalah komponen yang menanggung sliding contact terhadap cylinder liner.
Dampak yang umum muncul:
| Dampak | Penjelasan Teknis |
|---|---|
| Wear rate RR meningkat | Contact terjadi dengan oil film tidak cukup |
| Surface glazing | Permukaan RR menjadi mengkilap akibat panas dan rubbing |
| Local burning | Terjadi discoloration atau bekas panas lokal |
| Uneven wear | Beban tidak tersebar merata pada lebar rider ring |
| Crack atau chipping | Material RR mengalami thermal-mechanical stress |
| Loss of support | Piston turun karena rider ring menipis |
Secara kuantitatif, kondisi harus dianggap alarm bila:
dan harus dianggap action bila:
6.4 Dampak terhadap Cylinder Liner
Jika rider ring aus terlalu cepat, piston dapat kehilangan support. Clearance antara piston dan cylinder liner berkurang. Bila kondisi ini berlanjut, akan terjadi contact antara piston atau rider ring yang rusak dengan cylinder liner.
Dampaknya:
| Kerusakan pada Cylinder Liner | Konsekuensi |
|---|---|
| Polishing abnormal | Indikasi rubbing berulang |
| Axial scoring | Goresan searah gerakan piston |
| Local hot spot | Temperatur lokal naik |
| Out-of-round wear | Bore menjadi tidak seragam |
| Re-honing required | Permukaan liner perlu diperbaiki |
| Liner replacement | Jika scoring atau wear melewati limit OEM |
Hubungan antara wear rider ring dan risiko liner damage adalah:
6.5 Dampak terhadap Piston Ring dan Performance
Walaupun rider ring adalah fokus utama, under-lubrication juga mempengaruhi piston ring. Piston ring membutuhkan kondisi permukaan liner yang stabil untuk menjaga sealing.
Jika liner mulai scoring atau temperatur lokal meningkat, maka piston ring dapat mengalami:
| Dampak pada Piston Ring | Efek Operasi |
|---|---|
| Ring wear meningkat | Sealing memburuk |
| Blow-by meningkat | Capacity turun |
| Ring overheating | Risiko ring sticking atau crack |
| Ring breakage | Potensi valve/cylinder damage |
| Compression efficiency turun | Power per kapasitas meningkat |
Efek performance dapat diringkas sebagai:
6.6 Indikasi Lapangan Under-Lubrication
Indikasi utama under-lubrication adalah sebagai berikut.
| Indikasi | Batas Tindakan |
|---|---|
| Paper pertama kering | Naikkan oil rate +10% |
| Oil rate aktual di bawah OEM minimum | Kembalikan ke minimum OEM |
| RR wear rate naik | Action jika |
| Discharge temperature naik | Review jika dari baseline |
| Rod drop meningkat cepat | Hitung remaining clearance |
| Liner scoring | Stop/review sesuai severity |
| RR glazing atau burnt mark | Cek oil rate, bearing load, dan temperature |
| Packing leakage ikut naik | Periksa piston/rod alignment dan stability |
Dalam bentuk decision rule:
Jika oil rate aktual sudah berada di bawah minimum OEM:
Untuk contoh OEM:
atau:
6.7 Tindakan Koreksi untuk Under-Lubrication
Tindakan koreksi harus dilakukan bertahap dan terukur.
| Langkah | Tindakan | Target |
|---|---|---|
| 1 | Verifikasi oil rate aktual | Pastikan |
| 2 | Cek lubricator output | Tidak ada blockage atau check valve stuck |
| 3 | Naikkan oil rate | |
| 4 | Lakukan paper test ulang | Paper pertama harus stained |
| 5 | Ukur RR thickness | Hitung wear rate |
| 6 | Periksa liner | Tidak ada scoring progresif |
| 7 | Monitor temperature | Tidak naik dari baseline |
Contoh:
Oil rate aktual:
Karena:
maka setting berada di bawah minimum OEM. Oil rate harus dikembalikan minimal menjadi:
atau jika mengikuti adjustment :
Dalam mL/jam:
6.8 Kesimpulan Bab Under-Lubrication
Untuk contoh OEM 10–25 tetes/menit, batas bawah continuous operation adalah:
atau:
Jika oil rate turun di bawah batas ini, risiko utama adalah:
Tindakan koreksi utama adalah:
atau mengembalikan setting minimal ke:
7. Efek Jika Oil Rate di Atas Maksimum
7.1 Definisi Over-Lubrication
Untuk contoh OEM dengan range continuous operation:
maka kondisi over-lubrication didefinisikan sebagai:
Dengan asumsi:
maka:
Sehingga:
Jadi batas atas continuous operation adalah:
atau:
Untuk cylinder dengan dua lube point:
7.2 Prinsip Utama Over-Lubrication
Kesalahan umum di lapangan adalah menganggap oli lebih banyak selalu lebih aman. Pada reciprocating compressor, asumsi ini tidak tepat.
Setelah oil film minimum terbentuk, penambahan oli tidak selalu menurunkan wear. Sebaliknya, oli berlebih dapat tertahan di cylinder, valve pocket, ring groove, dan liner surface. Pada temperatur tinggi, oli tersebut dapat terdegradasi menjadi carbon, gum, lacquer, sludge, dan abrasive paste.
Mekanisme utamanya adalah:
Diagram mekanisme over-lubrication adalah sebagai berikut.
7.3 Mengapa Oli Berlebih Bisa Mempercepat Wear Rider Ring
Rider ring bekerja pada kondisi sliding contact terhadap cylinder liner. Pada kondisi ideal, terdapat oil film tipis yang cukup untuk menurunkan friction. Namun bila oli terlalu banyak, sebagian oli tidak langsung terbawa keluar bersama gas, melainkan tertahan pada area berikut:
| Lokasi Retensi Oli | Risiko |
|---|---|
| Cylinder liner | Deposit dan abrasive film |
| Rider ring groove | RR sticking |
| Piston ring groove | Piston ring sticking |
| Valve pocket | Valve fouling |
| Discharge passage | Oil carbonization |
| Low point cylinder | Liquid accumulation |
| Drain line | Oil carryover indication |
Efek terhadap rider ring dapat terjadi melalui enam mekanisme utama.
| Mekanisme | Dampak terhadap RR |
|---|---|
| Carbon deposit | Menjadi abrasive particle |
| Oil + debris | Membentuk abrasive paste |
| Lacquer/gum | Membuat RR atau piston ring sticking |
| RR sticking | Contact area mengecil, contact pressure naik |
| Valve fouling | Valve leakage, recompression, temperatur naik |
| Deposit pada liner | Heat transfer turun, RR temperature naik |
| Liquid oil accumulation | Piston instability dan uneven wear |
7.4 Carbon Deposit sebagai Abrasive Third-Body
Deposit carbon yang terbentuk dari oli terdegradasi dapat masuk ke interface antara rider ring dan cylinder liner. Pada kondisi ini, contact tidak lagi hanya:
melainkan berubah menjadi:
Campuran ini bekerja seperti abrasive compound.
Akibatnya, rider ring dapat aus lebih cepat walaupun permukaan cylinder terlihat basah oleh oli.
7.5 RR Sticking dan Kenaikan Contact Pressure
Rider ring harus dapat duduk dan bergerak secara normal di dalam groove. Bila groove terisi lacquer, gum, carbon, atau sludge, rider ring dapat mengalami sticking.
Jika rider ring sticking, maka contact area efektif terhadap liner berkurang. Contact pressure meningkat karena beban yang sama ditopang oleh area yang lebih kecil.
Hubungan dasarnya adalah:
Dengan:
| Simbol | Arti |
|---|---|
| contact pressure | |
| beban normal pada rider ring | |
| effective contact area |
Jika contact area turun dari menjadi , dengan:
maka:
Sehingga:
Diagramnya dapat diringkas sebagai berikut.
7.6 Valve Fouling sebagai Penyebab Tidak Langsung RR Wear
Oli berlebih dapat terbawa ke suction valve dan discharge valve. Pada valve, oli dapat membentuk film lengket, carbon deposit, atau lacquer. Akibatnya valve tidak membuka dan menutup dengan benar.
Valve fouling dapat menyebabkan:
| Kerusakan Valve | Efek pada Compressor |
|---|---|
| Valve plate lengket | Opening/closing delay |
| Valve leakage | Recompression |
| Valve deposit | Flow restriction |
| Spring contamination | Valve dynamics terganggu |
| Impact abnormal | Valve life turun |
Jika valve leakage terjadi, gas dapat mengalami recompression. Recompression menaikkan discharge temperature.
Hubungan tidak langsung terhadap RR adalah:
Diagram ringkasnya:
7.7 Indikasi Lapangan Over-Lubrication
Indikasi over-lubrication tidak selalu berupa oil rate yang terlihat tinggi. Pada beberapa kasus, oil rate tampak normal, tetapi distribusi oli buruk atau drain tidak efektif.
Indikasi utama over-lubrication adalah:
| Indikasi | Tindakan |
|---|---|
| Paper pertama dan kedua soaked through | Turunkan oil rate |
| Valve basah oli | Turunkan oil rate , inspeksi valve |
| Carbon deposit | Bersihkan, cek temperatur discharge |
| Ring groove kotor | Clean groove, ukur clearance |
| RR aus walau cylinder basah | Treat as deposit-driven wear |
| Drain oil baseline | Review over-lubrication/carryover |
| Discharge temperature naik | Cek valve leakage dan cooling |
| Oil carryover downstream | Cek oil rate, separator, coalescer, drain |
Rule untuk adjustment:
Jika oil rate aktual melebihi maximum OEM:
Untuk contoh OEM:
atau:
7.8 Contoh Koreksi Over-Lubrication
Misal oil rate aktual:
Karena batas maksimum OEM adalah:
maka:
Artinya unit beroperasi dalam kondisi over-lubricated.
Oil rate harus diturunkan minimal ke batas maksimum OEM:
Dalam satuan mL/jam:
Jika penurunan dilakukan bertahap dari kondisi aktual:
Namun karena:
maka setting masih di atas maksimum OEM. Oleh sebab itu, untuk kasus ini setting harus langsung dikembalikan ke:
7.9 Kesimpulan Bab Over-Lubrication
Untuk contoh OEM 10–25 tetes/menit, batas atas continuous operation adalah:
atau:
Jika oil rate melebihi batas ini, risiko utama adalah:
Tindakan koreksi utama adalah:
atau mengembalikan setting ke:
8. Batas Temperatur dan Risiko Deposit
8.1 Mengapa Temperatur Penting
Oil rate tidak boleh dianalisis terpisah dari temperatur. Pada temperatur rendah sampai sedang, oli cenderung masih mampu membentuk oil film dan tidak cepat terdegradasi. Pada temperatur tinggi, oli lebih mudah mengalami oxidation, thermal degradation, dan carbonization.
Area yang penting diperhatikan adalah:
| Area | Risiko |
|---|---|
| Discharge end cylinder | Temperatur gas tertinggi |
| Valve pocket | Deposit dan valve sticking |
| Piston ring groove | Ring sticking |
| Rider ring groove | RR sticking |
| Cylinder liner surface | Oil film degradation |
| Discharge passage | Carbon deposit |
Temperatur yang dimaksud pada bab ini adalah temperatur area cylinder/discharge gas, bukan temperatur oil sump pada frame lubrication system.
8.2 Temperature Envelope untuk Praktisi
Gunakan batas sederhana berikut untuk maintenance decision.
| Temperatur Cylinder/Discharge | Status |
|---|---|
| Target normal | |
| Review oil rate, valve, cooling | |
| Action required | |
| High risk carbon/varnish/deposit | |
| Severe; perlu review OEM |
Dalam bentuk rule:
8.3 Kombinasi Paling Berbahaya
Over-lubrication menjadi jauh lebih berbahaya bila terjadi bersamaan dengan temperatur tinggi.
Kombinasi berbahaya adalah:
Artinya:
Diagram risiko kombinasi oil rate dan temperatur:
8.4 Temperature-Based Action
Gunakan tabel berikut untuk menentukan tindakan.
| Temperatur | Kondisi Oil Rate | Tindakan |
|---|---|---|
| Dalam envelope OEM | Lanjut monitoring | |
| Dalam envelope OEM | Review valve, cooling, paper test | |
| Turunkan oil rate , cek deposit | ||
| Dalam envelope OEM | Action: cek valve leakage dan cooling | |
| High priority: turunkan oil rate dan inspeksi valve | ||
| Any oil rate | Treat as high-risk deposit condition | |
| Any oil rate | Review OEM, trip philosophy, dan material limit |
8.5 Temperatur Naik Tidak Selalu Berarti Oil Rate Kurang
Kenaikan discharge temperature sering ditafsirkan sebagai indikasi kurang oli. Interpretasi ini harus hati-hati.
Discharge temperature dapat naik karena:
| Penyebab | Dampak |
|---|---|
| Discharge valve leakage | Recompression |
| Suction valve leakage | Capacity turun dan temperature naik |
| Cooling water flow rendah | Heat removal turun |
| Cooling water fouling | Heat transfer turun |
| Compression ratio tinggi | Temperature naturally meningkat |
| Gas molecular weight berubah | Polytropic behavior berubah |
| Over-lubrication | Deposit dan valve fouling |
| Under-lubrication | Friction lokal meningkat |
Karena itu:
Yang benar:
8.6 Kesimpulan Bab Temperatur
Batas praktis yang digunakan dalam artikel ini adalah:
Kombinasi paling berbahaya adalah:
Pada kondisi tersebut, tindakan yang tepat bukan menambah oli, tetapi melakukan:
- Review oil rate.
- Paper test.
- Valve inspection.
- Cylinder liner inspection.
- Cooling system check.
- Review lubricant suitability.
9. Wear Rate Rider Ring dan Decision Rule
9.1 Mengapa Wear Rate Harus Dihitung
Oil rate tidak boleh dinilai hanya dari jumlah tetes/menit. Oil rate harus dinilai dari hasil akhirnya, yaitu apakah rider ring wear masih terkendali.
Parameter yang paling berguna untuk praktisi adalah:
Dengan wear rate, engineer dapat membandingkan:
| Data | Fungsi |
|---|---|
| Wear aktual | Mengetahui kerusakan yang sudah terjadi |
| Operating hours | Menormalkan wear terhadap waktu |
| Minimum allowable thickness | Menentukan remaining life |
| Target overhaul interval | Menentukan apakah unit aman sampai outage berikutnya |
| Oil rate setting | Menghubungkan lubrication dengan wear |
9.2 Formula Actual Wear Rate
Formula actual wear rate adalah:
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| wear rate aktual | ||
| thickness awal rider ring | ||
| thickness rider ring saat inspeksi | ||
| operating hours sejak baseline |
Contoh:
Maka:
9.3 Formula Allowable Wear Rate
Allowable wear rate dihitung dari thickness awal, minimum allowable thickness, dan target running hours.
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| allowable wear rate | ||
| thickness awal rider ring | ||
| minimum allowable thickness | ||
| target running hours sampai overhaul |
Contoh:
Maka:
9.4 Decision Rule Wear Rate
Setelah dan dihitung, gunakan decision rule berikut.
| Kondisi | Keputusan |
|---|---|
| Oil rate acceptable | |
| Alarm, review oil rate dan temperatur | |
| Action, lakukan koreksi | |
| Projected life next inspection interval | Jadwalkan shutdown inspection |
Dalam bentuk matematis:
Diagram keputusan wear rate:
9.5 Contoh Evaluasi Wear Rate terhadap Oil Rate
Dari contoh sebelumnya:
dan:
Hitung rasio wear:
Karena:
maka statusnya adalah:
Artinya, oil rate, temperature, bearing load, valve condition, cylinder liner condition, dan gas cleanliness harus diperiksa. Jangan langsung menyimpulkan bahwa oli kurang. Wear tinggi dapat disebabkan oleh under-lube atau over-lube.
9.6 Projected Remaining Life
Untuk menentukan apakah rider ring masih aman sampai shutdown berikutnya, hitung remaining thickness:
Projected remaining life:
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| remaining usable thickness | ||
| projected remaining life | ||
| actual wear rate |
Contoh:
Maka:
Jika next inspection interval adalah:
maka:
Sehingga unit tidak aman untuk menunggu inspeksi berikutnya tanpa tindakan.
9.7 Menghubungkan Wear Rate dengan Minimum dan Maksimum Lubrikasi
Wear rate harus digunakan sebagai validasi akhir oil rate.
| Kondisi Oil Rate | Wear Rate | Interpretasi |
|---|---|---|
| Di bawah minimum | Tinggi | Under-lubrication probable |
| Di dalam envelope | Rendah/stabil | Setting acceptable |
| Di dalam envelope | Tinggi | Cek temperature, bearing load, alignment, gas cleanliness |
| Di atas maksimum | Tinggi | Deposit-driven wear probable |
| Di atas maksimum | Rendah sementara | Tetap review carryover dan deposit risk |
Decision logic:
Non-lube root causes yang harus diperiksa:
| Area | Parameter |
|---|---|
| Bearing load | |
| Alignment | Rod runout, piston centering |
| Liner | Ovality, scoring, surface roughness |
| Gas | Dirty gas, liquid carryover, corrosive component |
| Temperature | |
| Valve | Leakage, fouling, broken component |
| Material | RR material tidak sesuai service |
9.8 Kesimpulan Bab Wear Rate
Formula utama wear rate adalah:
Allowable wear rate adalah:
Decision rule utama:
Kesimpulan penting:
10. Troubleshooting dan Tindakan Koreksi
10.1 Prinsip Troubleshooting
Troubleshooting oil rate pada rider ring tidak boleh hanya berdasarkan jumlah tetes pada sight glass. Setiap keputusan harus menggabungkan empat data utama:
Jika hanya oil rate yang dilihat, maka keputusan bisa salah. Cylinder yang terlihat kering memang dapat menunjukkan under-lubrication, tetapi cylinder yang sangat basah juga tidak selalu aman. Cylinder basah hitam sering menunjukkan over-lubrication, deposit, carbon slurry, atau abrasive paste.
Prinsip keputusan yang digunakan adalah:
Dengan contoh OEM:
10.2 Diagram Keputusan Cepat
Diagram berikut dapat digunakan sebagai alur keputusan lapangan. Diagram dibuat vertikal agar tetap nyaman dibaca pada layar HP.
10.3 Tabel Troubleshooting Utama
Tabel berikut adalah ringkasan keputusan lapangan untuk kasus paling umum.
| Temuan Lapangan | Kemungkinan Penyebab | Verifikasi | Tindakan Kuantitatif |
|---|---|---|---|
| RR cepat aus, liner kering | Under-lube | Paper test | Naikkan oil rate |
| Oil rate | Di bawah OEM minimum | Cek lubricator | Kembalikan ke |
| RR cepat aus, liner basah hitam | Over-lube + debris | Paper test, visual inspection | Turunkan oil rate |
| Oil rate continuous | Over-lube | Check setting | Turunkan ke |
| Valve basah oli | Oil carryover | Valve inspection | Turunkan oil rate |
| Carbon deposit | Oil degradation | Cek discharge temperature | Action jika |
| Ring sticking | Lacquer/gum | Groove inspection | Clean groove, review oil |
| Wear tidak merata | Alignment atau bearing load | Rod runout, | Koreksi alignment/desain |
| RR aus walau oil tinggi | Deposit-driven wear | Liner/valve inspection | Jangan tambah oli; bersihkan dan turunkan bertahap |
10.4 Tindakan Jika RR Cepat Aus dan Liner Kering
Kondisi ini menunjukkan kemungkinan under-lubrication.
Indikasi utama:
| Indikasi | Interpretasi |
|---|---|
| Paper pertama kering | Oil film tidak cukup |
| Liner tampak kering | Distribusi oli tidak memadai |
| RR glazing | Friction dan local heat tinggi |
| RR wear rate naik | Oil film tidak mampu melindungi contact |
| Rod drop meningkat | Rider ring kehilangan thickness |
Decision rule:
Jika oil rate berada di bawah minimum OEM:
maka oil rate tidak cukup hanya dinaikkan . Setting harus dikembalikan minimal ke batas OEM:
Untuk contoh OEM:
atau:
10.5 Tindakan Jika RR Cepat Aus dan Liner Basah Hitam
Kondisi ini berbeda dari liner kering. Jika rider ring tetap cepat aus walaupun cylinder basah hitam, maka penyebabnya kemungkinan bukan kekurangan oli, tetapi deposit-driven wear.
Mekanisme utamanya adalah:
Indikasi:
| Indikasi | Interpretasi |
|---|---|
| Paper hitam berminyak | Oil degradation atau carbon slurry |
| Paper terasa berpasir | Abrasive third-body |
| Valve basah dan kotor | Oil carryover |
| Ring groove kotor | Gum/lacquer accumulation |
| RR wear tidak merata | Ring sticking atau edge loading |
Tindakan:
Namun jika oil rate aktual sudah di atas batas OEM:
maka setting harus dikembalikan ke:
Untuk contoh OEM:
atau:
10.6 Tindakan Jika Valve Basah Oli atau Banyak Deposit
Valve yang basah oli menunjukkan oil carryover ke valve area. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan valve sticking, valve leakage, recompression, dan kenaikan discharge temperature.
Mekanisme kerusakannya:
Tindakan kuantitatif:
Kemudian lakukan inspeksi ulang setelah periode operasi yang ditentukan oleh site practice, misalnya:
atau pada shutdown opportunity terdekat.
Parameter yang harus diverifikasi:
| Parameter | Target |
|---|---|
| Oil rate | Tidak melebihi |
| Valve plate | Tidak lengket |
| Valve seat | Tidak ada carbon berat |
| Discharge temperature | Tidak naik dari baseline |
| Paper test | Tidak soaked through |
| Drain oil | Tidak meningkat baseline |
10.7 Tindakan Jika Carbon Deposit Ditemukan
Carbon deposit menunjukkan oli mengalami degradasi atau terbakar sebagian akibat temperatur, over-lubrication, atau lubricant yang tidak sesuai dengan service.
Jika carbon deposit ditemukan, jangan hanya membersihkan deposit. Root cause harus dikoreksi.
Pemeriksaan minimum:
| Area | Pemeriksaan |
|---|---|
| Oil rate | Apakah |
| Temperature | Apakah |
| Valve | Leakage, sticking, fouling |
| Cooling | Flow, fouling, approach temperature |
| Lubricant | Viscosity grade, base oil, OEM approval |
| Gas | Liquid carryover, dirty gas, reactive component |
Decision rule:
Jika deposit ditemukan bersamaan dengan over-lube:
10.8 Tindakan Jika Wear Tidak Merata
Wear tidak merata pada rider ring tidak boleh langsung dikaitkan dengan oil rate. Wear tidak merata sering berhubungan dengan alignment, bearing load, liner ovality, piston level, atau rod runout.
Pemeriksaan utama:
| Parameter | Tujuan |
|---|---|
| Memastikan bearing load tidak melebihi batas | |
| Rod runout | Memastikan rod tidak misaligned |
| Piston centering | Memastikan piston tidak berat sebelah |
| Liner ID | Memeriksa ovality dan taper |
| Rider ring groove | Memeriksa sticking atau clearance abnormal |
| Crosshead alignment | Memeriksa sumber side load |
| Foundation/vibration | Memeriksa dynamic movement |
Batas bearing load untuk lubricated horizontal cylinder:
Jika:
maka tindakan utama bukan menambah oli, tetapi melakukan engineering review pada desain dan alignment.
10.9 Prioritas Tindakan Koreksi
Urutan tindakan koreksi yang disarankan adalah:
10.10 Kesimpulan Bab Troubleshooting
Troubleshooting lubrikasi rider ring harus berbasis data. Keputusan utama dapat diringkas sebagai berikut.
Untuk contoh OEM 10–25 tetes/menit per point, batas tindakan final adalah:
Lampiran
Agar artikel tetap fokus untuk praktisi, detail pendukung diringkas dalam lampiran berikut.
Lampiran A — Rumus Cepat
A.1 Konversi Tetes/menit ke mL/jam
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| oil rate | ||
| jumlah tetes | ||
| drop factor |
Jika:
maka:
A.2 Konversi mL/jam ke Tetes/menit
Jika:
maka:
A.3 Total Oil Rate per Cylinder
Dengan:
| Simbol | Arti |
|---|---|
| total oil rate per cylinder | |
| oil rate per lube point | |
| jumlah lube point |
A.4 Rider Band Bearing Load
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| rider band bearing load | ||
| berat piston assembly | ||
| berat piston rod | ||
| cylinder bore diameter | ||
| total effective rider ring width |
Jika data masih berupa massa:
A.5 Actual Wear Rate Rider Ring
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| actual wear rate | ||
| thickness awal RR | ||
| thickness RR saat inspeksi | ||
| operating hours |
A.6 Allowable Wear Rate Rider Ring
Dengan:
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| allowable wear rate | ||
| minimum allowable RR thickness | ||
| target operating hours |
A.7 Remaining Life Rider Ring
A.8 Rule of Thumb Adjustment
Untuk under-lubrication:
Untuk over-lubrication:
Untuk contoh OEM:
atau:
dengan satuan:
Lampiran B — Checklist Field Inspection
Checklist ini digunakan untuk memastikan oil rate, oil film, wear rate, dan indikasi deposit dicatat secara konsisten.
B.1 Data Oil Rate
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| OEM minimum oil rate | ___ tetes/min |
| OEM maximum oil rate | ___ tetes/min |
| Drop factor aktual | ___ tetes/mL |
| Oil rate aktual | ___ tetes/min |
| Oil rate aktual | ___ mL/h |
| Jumlah lube point | ___ point |
| Total oil rate | ___ mL/h |
| Status oil rate | Under / Normal / Over |
B.2 Data Operating Condition
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Suction pressure | ___ barg |
| Discharge pressure | ___ barg |
| Discharge temperature | ___ |
| Compressor speed | ___ rpm |
| Gas service | ___ |
| Running hours sejak overhaul | ___ jam |
| Running hours sejak inspeksi terakhir | ___ jam |
B.3 Paper Test Result
| Lokasi | Paper 1 | Paper 2 | Status |
|---|---|---|---|
| Top bore | dry / stained / soaked | dry / stained / soaked | pass / fail |
| Bottom bore | dry / stained / soaked | dry / stained / soaked | pass / fail |
| Left side | dry / stained / soaked | dry / stained / soaked | pass / fail |
| Right side | dry / stained / soaked | dry / stained / soaked | pass / fail |
| Near lube point | dry / stained / soaked | dry / stained / soaked | pass / fail |
| Far from lube point | dry / stained / soaked | dry / stained / soaked | pass / fail |
Acceptance:
B.4 Rider Ring Inspection
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| RR material | ___ |
| RR thickness awal, | ___ mm |
| RR thickness aktual, | ___ mm |
| Minimum allowable thickness, | ___ mm |
| Actual wear | ___ mm |
| Operating hours, | ___ jam |
| ___ mm/1000 jam | |
| ___ mm/1000 jam | |
| Remaining life | ___ jam |
| Status | Accept / Alarm / Action |
B.5 Cylinder Liner and Groove Inspection
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Liner visual condition | clean / polished / scored / deposited |
| Liner scoring depth | ___ mm |
| Liner ovality | ___ mm |
| Ring groove condition | clean / lacquer / carbon / damaged |
| RR free movement | free / tight / stuck |
| Carbon deposit | none / light / moderate / heavy |
| Black paste present | yes / no |
| Metal particle present | yes / no |
B.6 Valve and Carryover Inspection
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Suction valve condition | clean / wet / deposit / damaged |
| Discharge valve condition | clean / wet / deposit / damaged |
| Valve leakage indication | yes / no |
| Drain oil volume | ___ mL/h |
| Drain oil vs baseline | normal / baseline |
| Downstream oil carryover | yes / no |
| Coalescer/filter condition | normal / loaded / fouled |
B.7 Final Field Decision
| Parameter | Status |
|---|---|
| Oil rate within OEM range | yes / no |
| Paper test acceptable | yes / no |
| Wear rate acceptable | yes / no |
| Temperature below action limit | yes / no |
| Valve clean | yes / no |
| Liner clean | yes / no |
| No abnormal carryover | yes / no |
Final decision:
Catatan Penyusunan Artikel ini disusun sebagai materi edukasi dan referensi umum berdasarkan berbagai sumber pustaka, praktik lapangan, serta bantuan alat penulisan. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi lanjutan dan penyesuaian sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing sistem.